Menuju konten utama

Velcro Kids: Bagaimana Orang Tua Menyiasati Anak yang Clingy?

Velcro kid merujuk pada anak yang sangat sulit berpisah dengan orang tua atau pengasuhnya walau hanya sesaat, baik secara fisik maupun emosional.

Velcro Kids: Bagaimana Orang Tua Menyiasati Anak yang Clingy?
Header Diajeng Anak Clingy. foto/istockphoto

diajeng.id - Sebagai orang tua, terutama ibu, pasti pernah mengalami ruang pribadinya sangat terbatas, bahkan mungkin tidak ada.

Ini terjadi lantaran ada anak yang selalu membuntuti ke mana pun ibunya pergi, termasuk sekadar untuk ke kamar mandi.

Fenomena anak selalu membuntuti atau menempel orang tua ke mana pun kerap disebut dengan istilah "Velcro Kid". Anak-anak seolah-olah memiliki perekat di tubuh mereka, sehingga selalu ingin menempel pada orang tua atau pengasuh setiap saat.

Memahami Fenomena Velcro Kid

Melansir Parents, velcro kid adalah kondisi anak yang sangat sulit berpisah dengan orang tuanya atau pengasuhnya walau hanya sesaat, baik secara fisik maupun emosional.

Anak-anak yang diibaratkan seperti perekat velcro ini tidak hanya ingin bersentuhan secara langsung dengan orang tua. Kadang-kadang, mereka juga sudah merasa cukup aman dengan berada di ruangan yang sama dengan orang dewasa favoritnya.

Bagi kalian orang tua yang mengalami kondisi ini, penting untuk memahami konteks usia anak dengan perilaku "menempel".

Anak yang selalu menempel ke ibunya, khususnya saat masih bayi dan balita, menunjukkan perilaku wajar sebagai bagian dari perkembangan anak.

“Bayi biasanya lebih membutuhkan perhatian dan kedekatan orang tua mereka secara terus-menerus karena mereka mencari rasa aman dan nyaman,” jelas Vanessa Kennedy, PhD, Psikolog dan Direktur Psikologi di Driftwood Recovery.

Perilaku "velcro baby" kemungkinan juga berkaitan dengan proses pertumbuhan bayi yang masih belajar tentang objek permanen, yaitu pemahaman bahwa orang tua tetap hadir dan ada di sampingnya walau tidak terlihat.

“Ini biasanya berkembang sekitar 9 bulan untuk anak neurotipikal,” kata Dr. Kennedy.

Kemandirian anak seharusnya mulai tumbuh saat anak memasuki usia sekolah.

Namun, jika perilaku menempel yang ekstrem ini terus berlanjut hingga usia 7 atau 8 tahun, hal tersebut bisa menjadi tanda adanya kecemasan yang lebih dalam pada anak.

Mengenali Tanda-Tanda Anak yang Clingy

Dinukil Huffington Post, ada beberapa tanda atau gejala anak clingy yang bisa kita kenali, antara lain:

1. Kesulitan Berpisah

Anak merasa sangat tertekan bahkan jika ditinggal sebentar saja, seperti saat orang tua memasak di dapur atau ke toilet.

2. Selalu Bertanya dan Takut Melakukan Kesalahan

Anak velcro biasanya sering bertanya tentang apa yang mereka lakukan karena mereka takut perbuatannya dianggap salah, misalnya, "Apa mainan yang kupasang ini sudah benar?" atau, "Apa mainan ini aman?"

Pertanyaan demikian muncul karena kurangnya kepercayaan diri pada anak.

3. Takut Mencoba Hal Baru

Anak cenderung menghindari aktivitas yang baru mereka ketahui atau menantang jika orang tua tidak terlibat langsung di dalamnya.

4. Berharap Solusi Datang dari Orang Tua

Alih-alih mencoba menyelesaikan masalah kecil sendiri, mereka langsung berpaling pada orang tua untuk mengambil keputusan.

5. Sakit Dadakan Akibat Rasa Cemas

Pada kasus yang lebih berat, kecemasan saat berpisah bisa memicu sakit perut atau sakit kepala pada anak.

Menariknya, banyak orang tua Milenial merasa dinamika ini muncul karena mereka ingin membesarkan anak dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya, yakni beralih dari "anak kamar" (yang sering menyendiri) menjadi "anak ruang tamu" yang jauh lebih terlibat dalam kehidupan orang tua.

Mengelola Batasan dengan Kasih Sayang

Meskipun perilaku ini bermula dari rasa kasih sayang orang tua, keterikatan yang terlalu ketat (over-attachment) dapat menghambat kemampuan anak untuk membangun resiliensi dan keterampilan memecahkan masalah.

Masih melansir Parents dan HuffPost di atas, berikut adalah beberapa cara untuk mulai mengelola batasan:

1. Tetapkan Rutinitas yang Dapat Diprediksi

Konsistensi dalam aktivitas harian, seperti waktu jemput sekolah atau ritual sebelum tidur, membantu anak merasa aman dan mengurangi kecemasan.

2.Berikan Jeda Waktu yang Jelas

Alih-alih menghilang diam-diam, coba sampaikan, "Ibu perlu waktu 5 menit di kamar mandi, setelah itu kita main lagi." Ini mengajarkan anak untuk menoleransi rasa frustrasi dalam waktu singkat.

3. Hargai Kemandirian Anak Meskipun Kecil

Pujilah momen ketika anak berhasil melakukan sesuatu sendiri, sekecil apa pun itu.

4. Ubah Peran dari "Penyelesai Masalah" Menjadi "Pemandu"

Saat anak kesulitan, jangan langsung turun tangan. Dalam rangka mendorong mereka berpikir mandiri, coba bertanya, "Apa rencana kamu?"

5. Ciptakan Perpisahan yang Tenang

Jaga agar salam perpisahan tetap singkat dan tenang. Yakinkan mereka bahwa orang tuanya pasti akan kembali lagi.

Menghadapi anak velcro memang bisa memicu kelelahan emosional atau burnout bagi orang tua. Namun, ingat, ini hanya sebuah fase.

Dengan menetapkan batasan yang lembut tetapi konsisten, kita sedang membantu mereka meregangkan "tali tak kasat mata" agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tangguh di masa depan.

Artikel lainnya seputar orang tua dan anak juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih