Menuju konten utama

Yang Bisa Diucapkan untuk Mereka yang Berduka karena Keguguran

Obrolan seputar keguguran bisa jadi canggung dan sulit karena kehilangan ini tidak punya "aturan main" duka cita seperti kematian pada umumnya.

Yang Bisa Diucapkan untuk Mereka yang Berduka karena Keguguran
Header Diajeng Keguguran. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Tidak semua proses kehamilan berjalan lancar. Dalam kasus perempuan yang mengalami keguguran, kita harus betul-betul paham, mendengarkan, dan berempati.

Bicara tentang keguguran, aku jadi ingat momen belasan tahun yang lalu, karena aku pernah ada di posisi itu. Tiga kali mengalami keguguran dengan rentang waktu berbeda, sempat membuat aku trauma.

Yang paling membekas dalam ingatan adalah pada keguguran pertama 12 minggu dan kedua di usia kehamilan 9 minggu.

Bayangan melahirkan dan akan menimang anak langsung terkubur seiring dokter mengatakan bayiku tidak berkembang dan aku punya masalah dengan kandungan.

Aku merasakan apa itu yang namanya kehilangan, bahkan untuk makan dan bertemu orang aku juga jadi takut.

Hampir setiap orang yang bertemu denganku kala itu mengangkat pembahasan yang membuatku jadi bertanya-tanya sendiri, "Kenapa aku bisa keguguran? Apa aku tidak cukup menjaga diri saat masa hamil?"

Ada pula yang memberikan kalimat penghiburan, "Jangan khawatir, tidak apa-apa, nanti coba lagi, ya." Meski terdengar biasa saja, kalimat tersebut terasa kurang mengenakkan di benakku.

Kejadiannya memang sudah berlalu lama, tetapi kalau mengingat momen itu bisa membuatku merasa sedih lagi.

Dalam laman Time dijelaskan, keguguran, entah itu karena situasi yang mengharuskan aborsi, hamil anggur, meninggal dalam perut, dan beberapa penyebab keguguran lainnya, merupakan hal yang umum terjadi.

Aku, kamu, teman kantor, atau anggota keluargamu kemungkinan besar pernah mengalaminya, dan bisa saja suatu hari nanti, kamu menjadi salah satu orang yang mencoba mencari tahu apa yang harus dikatakan pada orang yang mengalami keguguran.

Mengapa Obrolan Soal Keguguran Terasa Sulit?

Obrolan seputar keguguran bisa terasa begitu canggung dan sulit disampaikan kepada orang yang mengalaminya.

Alasan utamanya, karena kehilangan ini tidak memiliki "aturan main" duka cita yang jelas seperti kematian pada umumnya, tidak ada ritual pemakaman, kiriman bunga, atau kartu ucapan yang bisa diberikan.

“Duka keguguran ini berbentuk trauma tenang,” kata Amelia Kelley, terapis trauma yang telah mengalami tiga kali keguguran seperti dilansir Time, “Hal itu sering terjadi dalam pasang surut potensi yang masih ada.”

Akibatnya, lingkungan sekitar sering kali terjebak dalam toxic positivity.

Alih-alih mencoba untuk mengurangi kesedihan, mereka yang ingin menghibur saat orang sedang berduka dengan berkata, "coba lagi nanti" atau kalimat bernada "menghibur" lainnya ini, sering kali justru berbalik menyakitkan bagi sang ibu.

“Orang-orang hanya mengatakan apa pun yang menurut mereka harus dikatakan untuk mengurangi ketidaknyamanan,” jelas Jessica Zucker, PhD, seorang psikolog sekaligus penulis buku I Had a Miscarriage (2021).

Keguguran bisa menimbulkan beban emosional yang berlapis. Banyak perempuan yang terjebak dalam rasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri, sehingga ucapan yang salah dari orang terdekat justru bisa memperburuk rasa trauma mereka.

Selain itu, orang-orang juga sering lupa bahwa yang ditangisi bukan sekadar kehilangan kehamilan, melainkan hilangnya seluruh masa depan dan rencana hidup yang sudah dibangun bersama calon bayinya, mulai dari kamar bayi yang diimpikan hingga bayangan kehidupan baru yang justru menghilang begitu saja.

Hal yang Bisa Dilakukan dan Disampaikan pada Orang yang Baru Saja Keguguran

Dikutip dari situs American Pregnant dan Parents, berikut panduan tentang apa yang bisa kita lakukan dan sampaikan ketika bertemu pasangan atau perempuan yang baru saja keguguran.

Yang Bisa Disampaikan

Beberapa kalimat ikut berempati seperti:

  1. "Aku turut berduka cita atas kehilanganmu."
  2. "Aku benar-benar tidak tahu harus bilang apa."
  3. Jika bayi diberi nama, sebutkan namanya. Mendengarnya disebut oleh orang lain bisa membantu proses penyembuhan.
  4. "Bagaimana keadaanmu dan juga pasanganmu?"
  5. Bicarakan tentang harapan dan mimpi yang mereka miliki untuk bayi tersebut.

Yang Sebaiknya Dilakukan

Dukungan kepada orang yang baru keguguran setidaknya bisa membantu meringankan beban emosional mereka. Berikut adalah hal-hal yang bisa kita lakukan:

1. Mendengarkan mereka

Mereka mungkin perlu menceritakan kisahnya berulang kali; berikan perhatian penuh melalui kontak mata dan gerak tubuh.

2. Memberi bantuan nyata

Tawarkan bantuan praktis seperti memasak, membersihkan rumah, atau menjaga anak-anak lainnya.

3. Berikan tanda simpati

Bisa juga memberikan kartu ucapan atau kenang-kenangan kecil untuk menunjukkan kepedulian.

4. Pahami mereka butuh sendiri

Sadari bahwa beberapa orang yang berduka hanya ingin sendirian dan emosinya cenderung lebih sulit ditebak.

5. Tawarkan bantuan khusus

Misalnya, bantu mengembalikan pakaian hamil atau menyimpan perlengkapan bayi sampai mereka siap menghadapinya kembali.

Yang Sebaiknya Jangan Diucapkan

Banyak orang mengatakan hal-hal yang menyakitkan tanpa sengaja dengan tujuan menghibur, karenanya hindari:

1. Mengucapkan kalimat klise

Jangan bilang, "Ini sudah takdir Tuhan. Kamu masih muda, nanti bisa punya lagi. Untung kegugurannya masih di awal kehamilan."

2. Jangan meremehkan kehilangan

Setiap kehilangan seseorang harus dihormati dan tidak boleh dibandingkan dengan kehilangan orang lain.

3. Jangan memberikan nasihat atau kritik

Dukungan bukan tentang memberi tahu apa yang harus mereka lakukan atau mengkritik perasaan mereka.

4. Jangan mendominasi dengan cerita pribadi

Batasi cerita tentang pengalaman kehilangan kamu sendiri agar fokus tetap pada mereka.

5. Jangan terburu-buru

Jangan memaksa mereka untuk cepat-cepat melewati proses duka karena duka adalah proses individual tanpa jangka waktu pasti.

Simak juga artikel lainnya seputar anak dan orang tua di sini.

Baca juga artikel terkait ANAK DAN ORANG TUA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih