Menuju konten utama
Diskusi dengan dr. Rizni #5

Anak Mau Jadi Dokter: Ortu Tanpa Latar Medis Tetap Bisa Dukung

Dukungan tanpa syarat dari orang tua, terutama terkait mental dan emosional, menjadi fondasi penting agar anak tetap percaya diri dalam mengejar mimpinya.

Anak Mau Jadi Dokter: Ortu Tanpa Latar Medis Tetap Bisa Dukung
Header Diajeng Seri Anak Mau Jadi Dokter. tirto.id/Quita

diajeng.id - Artikel ini adalah bagian terakhir dari Serial Diskusi dengan dr. Rizni yang membahas topik "Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Bercita-Cita Menjadi Dokter", cek artikel keempat "Anak Mau Jadi Dokter: Bagaimana Jika Belum Lolos PTN Kedokteran?".

Pertimbangan lain yang kerap muncul saat orang tua mendengar anak bercita-cita jadi dokter adalah latar belakang pendidikan atau karier orang tua sendiri. Bagaimana jika orang tua ternyata bukan dokter dan tidak memiliki latar belakang medis sama sekali?

Menurut dr. Rizni Fitriana, M.Biomed, hal tersebut sebenarnya bukan hambatan utama. Tidak kalah penting yang dibutuhkan oleh calon mahasiswa kedokteran dari orang tuanya adalah dukungan secara emosional dan mental.

Pendidikan kedokteran memiliki ritme yang padat, dengan ujian yang datang hampir di setiap tahap, baik saat pre-klinik maupun saat menjalani koas di rumah sakit. Kondisi ini membuat mahasiswa kedokteran sangat rentan mengalami kelelahan mental atau burnout.

"Jadi, keluarga sangat berperan penting di situ. Pastikan anak punya kesempatan untuk stress release. Mungkin keluarga bisa ajak anak jalan-jalan, atau diajak hal-hal lain yang disukai oleh si anak untuk meredakan stresnya, sehingga dia bisa lebih baik performanya di ujian dan juga di blok-blok yang dia lalui semuanya," kata dr. Rizni.

Kemudian ketika koas, sambungnya, anak juga akan menjalani stase per stase. Misalnya, stase penyakit dalam, stase OB/GYN, stase bedah.

Setiap stase akan ada ujiannya, baik lisan, praktek, tulis, yang tergantung dari masing-masing departemen atau stase. Ini jugalah salah satu potensi tekanan yang akan dirasakan oleh si anak.

"Apabila dibilang belajar kedokteran itu berat, ya memang cukup berat. Karena di setiap step akan ada banyak ujian yang dilalui oleh si anak. Apabila support system itu tidak baik, si anak akan khawatir dan lebih mudah terguncang ketika menjalani proses yang panjang ini."

"Dukungannya bisa apa saja. Semisal orang tua tidak bisa membantu memberikan solusi berupa jawaban-jawaban dari pertanyaan si anak atau membantu anak belajar, tentu saja support secara moral itu adalah nomor satu. Pastikan anak tidak kesepian, pastikan anak tidak depresi, demotivasi atau burnout. Sering-sering tanyakan kondisinya, sering tanyakan kabarnya, itu sudah pasti sangat membantu menjaga stabilitas mental anak," terang dr. Rizni.

Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah kemampuan komunikasi. Banyak orang tua beranggapan bahwa anak yang pintar secara akademik sudah cukup untuk menjadi dokter. Padahal, profesi ini menuntut kemampuan berkomunikasi yang baik, karena dokter akan berhadapan langsung dengan pasien.

Anak perlu dilatih untuk bisa berbicara dengan jelas, empati, dan menenangkan, bukan hanya memahami teori.

Maka dari itu, selain mendukung dari sisi akademik, orang tua juga perlu membantu mengembangkan soft skill anak sejak dini: ajak anak berdiskusi, latih caranya menyampaikan pendapat, bangun empati dalam keseharian.

"Kita ajarkan juga anak untuk berkomunikasi yang baik, dengan pilihan bahasa yang baik, kemudian juga empati yang cukup, sehingga anak menyenangkan dan menenangkan ketika diajak berbicara," saran dr. Rizni.

Merangkum saran-saran dari dr. Rizni terkait dukungan orang tua untuk anak yang berkemauan kuat dan memiliki kemampuan sekolah kedokteran, terdapat sejumlah hal penting.

Pertama, kesiapan mental, baik dari anak maupun orang tua, dengan memastikan bahwa keinginan tersebut benar-benar datang dari anak, alih-alih paksaan eksternal.

Kedua, kesiapan finansial. Rencanakan sejak awal dengan mempertimbangkan biaya dan kualitas kampus. Selain itu, dukungan keluarga secara menyeluruh juga sangat penting. Seluruh anggota keluarga perlu memahami dan saling mendukung agar tidak muncul konflik atau rasa iri.

"Satu keluarga adalah tim. Perlu memberikan pengertian tersebut di dalam keluarga, sehingga tidak ada rasa saling iri. Hasilnya adalah saling menyayangi dan saling memberikan semangat atau support," lanjut dr. Rizni.

Orang tua juga perlu memerhatikan lingkungan pergaulan anak dan memastikan si anak berada di sekitar teman-teman yang memiliki tujuan dan semangat sama.

"PR orang tua memang cukup banyak, tapi bukannya tidak mungkin. Saya salah satu produknya, dan itu sudah terbukti, orang-orang seperti saya ada banyak sekali. Jadi tidak perlu khawatir, cukup dijalani tapi dengan perhitungan yang cukup baik dan terukur," tukas dr. Rizni.

Sebagai penutup, pandangan dokter keluarga Dr. Robin Dickinsonn, MD dapat melengkapi hasil wawancara dengan dr. Rizni.

Dalam tulisannya, Dr. Robin menekankan bahwa orang tua tidak harus memiliki latar belakang medis untuk bisa mendukung anak yang ingin menjadi dokter. Yang terpenting adalah hadir, mendampingi, dan membantu anak mengeksplorasi minatnya secara bertahap.

Orang tua juga disarankan membantu anak memahami alasan di balik cita-citanya, memberi ruang untuk berkembang menjadi pribadi yang seimbang (tidak hanya pintar secara akademik), serta mengenalkan dunia kedokteran secara realistis, misalnya lewat buku, cerita, atau pengalaman sederhana.

Yang tak kalah penting, anak perlu diajarkan bahwa proses menuju dokter tidak selalu mulus. Kegagalan adalah bagian dari perjalanan. Dalam prosesnya, dukungan tanpa syarat dari orang tua akan menjadi fondasi penting agar anak tetap percaya diri dalam mengejar mimpinya.

Dengan demikian, alih-alih sebagai “ahli”, orang tua menjadi pendamping yang konsisten membantu anak bertumbuh, belajar, dan menemukan jalannya sendiri menuju cita-cita.

Baca juga artikel terkait TIMELESS atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih