diajeng.id - Bagi hampir semua orang, memiliki bayi atau anak adalah momen paling membahagiakan dalam hidup.
Di balik euforia menyambut kedatangan anggota baru ini, ada satu hal yang kerap luput dari diskursus kehidupan ini; bergesernya peran dari sosok dewasa mandiri menjadi orang tua yang bertanggung jawab tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga anak.
Transisi luar biasa ini, bagi sebagian orang, dipandang sebagai sekadar fase manusiawi yang menuntut penyesuaian atau adaptasi. Namun, bagi sebagian orang lainnya, pergeseran peran ini dapat diibaratkan momen "kehilangan identitas diri" yang menohok.
Kita sangat mungkin merasa asing terhadap diri sendiri saat menyadari bahwa hidup kini lebih sering memikirkan dan mengurus bayi atau anak. Perasaan ini valid dan lazim.
Sementara itu, studi oleh komunitas motherhood Peanut didukung jenama produk bayi Tommee Tippee terhadap 2.000 ibu di Inggris tahun 2023 mencatat bahwa sekitar 62 persen ibu baru merasa kehilangan sebagian dari jati diri mereka sejak mengemban peran sebagai orang tua.
Mengapa Kita Bisa Merasa Kehilangan Jati Diri?
Laman Pregnancy, Birth, and Baby menjelaskan, perasaan kehilangan ini dipicu oleh perubahan mendadak terhadap berbagai elemen yang membentuk jati diri kita sebelum kelahiran anak.
Identitas manusia biasanya terbentuk dari hubungan sosial, persahabatan, pekerjaan, kemandirian finansial, hingga hobi dan minat pribadi.
Ketika bayi lahir, elemen-elemen tersebut sering berubah drastis atau malah hilang dalam sekejap.
Orang tua bisa tiba-tiba merasa kehilangan waktu sendiri dan keleluasaan dalam mobilitas. Bagi beberapa orang tua, tidak ada lagi waktu me-time atau melakukan kegiatan spontan tanpa rencana matang.
Lalu, orang tua juga sering merasa hubungan dengan pasangan dan teman-temannya menjadi sangat terbatas karena kelelahan dan tanggung jawab baru.
Identitas profesional, juga berkurang, misalnya kesempatan fokus dan berkembang pada karier. Faktanya, survei Headway menunjukkan bahwa 57 persen orang tua harus menolak peluang karier karena tuntutan membesarkan anak-anaknya.
Selain itu, perubahan fisik pascamelahirkan sering menurunkan rasa percaya diri terhadap penampilan.
Dilansir Psychology Today, otak memproses perubahan besar setelah punya anak sebagai duka (postpartum identity grief).
Akibatnya, banyak yang memilih menderita dalam kesunyian. Apabila situasi tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin akan berkembang jadi gangguan kecemasan atau depresi pascamelahirkan.
Langkah Menumbuhkan Kembali Jati Diri
Menjadi orang tua tidak otomatis menghapus siapa dirimu di masa lalu. Pada fase baru ini, jati dirimu sedang tumbuh dan bertransformasi.
Agar tetap bisa menjadi versi diri yang paling nyaman setelah menjadi orang tua, kamu bisa perimbangkan lakukan beberapa langkah berikut.
Yang pertama, seperti dikutip situs Parents, adalah dengan memvalidasi perasaan. Jangan menolak perasaan sedih yang datang dari dalam diri jika kamu sedang merasa sedih atau merindukan kebebasan masa lalu. Rasa itu valid dan wajar.
Dr. Natasha Thapar-Olmos, psikolog klinis di Pepperdine University menyarankan untuk menyisihkan setidaknya 15 menit setiap hari untuk diri kamu sendiri.
"Menomorduakan kebutuhan sendiri demi anak-anak merupakan suatu keharusan secara evolusioner," tutur Dr. Thapar-Olmos.
Gunakan waktu ini untuk melakukan aktivitas yang dulu kamu nikmati, seperti memainkan musik, merias wajah, atau mendengarkan lagu favorit.
Kesehatan fisik adalah fondasi kesehatan mental. Jangan pernah lupakan pentingnya melakukan perawatan diri (self-care).
Usahakan mengonsumsi makanan sehat, olahraga ringan, dan beristirahatlah saat bayi sedang tidur. Batasi pekerjaan rumah tangga yang tidak mendesak agar kamu bisa memprioritaskan istirahat.
Selanjutnya, jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang tua lainnya di media sosial. Setiap orang tua punya ekspektasinya masing-masing.
Batasi membaca informasi pengasuhan dari sumber yang tidak tepercaya. Belajarlah memercayai insting dirimu sendiri dalam merawat anak.
Di balik itu semua, ingat, jika perasaan hampa atau cemas terus menetap, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
Menjadi orang tua tidak berarti kamu harus berhenti menjadi individu yang utuh. Identitas dirimu tidak hilang. Identitasmu sedang memperluas ruangnya untuk menampung peran baru yang mulia ini.
Dengan bersikap lembut pada diri sendiri, menetapkan batasan sehat, dan meminta bantuan, kamu akan dapat menjalani peran ini tanpa kehilangan esensi dirimu. Setuju?
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih