diajeng.id - Dunia kencan modern terus menghadirkan istilah-istilah baru. Selama ini, kita sudah cukup akrab dengan istilah ghosting, breadcrumbing, love bombing, situationship, dan beberapa istilah tren lainnya.
Di luar itu, ada pula talking stage, sebutan untuk fase awal sebelum dua orang secara resmi menjalin hubungan romantis.
Dalam laman Simply Psychology dijelaskan, talking stage merupakan periode komunikasi berkelanjutan dengan orang yang kita sukai sebelum ada kejelasan status hubungan.
Kita rutin berkirim pesan dengannya untuk sekadar menanyakan kabar, sesekali melakukan janji temu meski. Semua dilakukan dengan mengalir saja meskipun tak ada status hubungan yang disepakati.
Awalnya, istilah ini hanya merujuk pada obrolan virtual sebelum memutuskan untuk bertemu langsung. Namun, saat ini, khususnya di kalangan Gen Z, maknanya meluas hingga mencakup seluruh rentang waktu sejak pesan pertama dikirim hingga tercapainya percakapan penetapan status hubungan.
Fase ini hadir sebagai ruang santai tanpa beban komitmen langsung untuk mengeksplorasi kecocokan, minat bersama, dan dinamika komunikasi.
Tike (bukan nama sebenarnya), perempuan 25 tahun yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta mengaku, pernah menjalani talking stage dengan seorang laki-laki yang memang disukainya.
Selama menjalani talking stage, Tike mengaku memang tidak pernah menuntut laki-laki tersebut untuk menjalani hubungan dengan serius.
"Waktu itu, aku sama dia menjalani status itu selama kurang lebih enam bulan, selama itu ya asyik-asyik aja, enggak masalah, dijalani santai dan enggak nuntut juga buat komitmen," ucap Tike.
Tike mengingat, hubungan tersebut terjadi saat dirinya masih kuliah. Memang, pada waktu itu, keseriusan dalam hubungan bukan menjadi hal utama baginya. Selain itu, tambah Tike, jika pun dirinya dituntut untuk serius pada saat itu, mentalnya belum siap.
"Kalau sekarang udah gak pernah kontak lagi sama dia, jadi enggak tau gimana kabarnya. Aku pun sekarang juga udah punya pasangan baru, jadi buka lembaran baru lagi dengan hubungan yang lebih serius aja dan pasti mental juga udah lebih siap," tutup Tike.
Perbedaannya dengan Situationship
Masih menukil Simply Psychology, ada perbedaan mendasar dan batasan yang jelas antara talking stage dan situationship, meskipun sekilas ada kemiripannya.
Apabila talking stage sifatnya hanya sementara dan berfungsi sebagai penyaring (filter) untuk mengenali calon pasangan, maka situationship merupakan kondisi di mana keterlibatan emosional dan intim telah berlangsung lama, bahkan sering kali berbulan-bulan, tetapi sengaja dibiarkan tanpa kepastian status maupun arah tujuan.
Pendek kata, ketika talking stage berhenti berproses menuju komitmen tetapi interaksi terus berlanjut tanpa kejelasan, fase tersebut telah bergeser menjadi situationship.
Mengapa Perlu Waspada dalam Talking Stage?
Studi dan ulasan dari University of Southern Queensland (UniSQ) mengingatkan agar kita tetap waspada dalam menjalani fase ini.
Ketika berada dalam fase hubungan yang tidak memiliki kejelasan dan berlangsung lama, maka dampaknya dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan mental. Talking stage dapat memicu kelelahan emosional, stres, hingga kecemasan (anxiety).
Tak hanya itu, pergeseran pola interaksi yang cepat di aplikasi kencan, atau istilahnya dikenal dengan jagged love, membuat seseorang rentan mengalami ketakutan akan penolakan atau rasa sakit hati sebelum hubungan resmi dimulai.
Tentu saja rasa takut untuk disakiti, ditinggalkan, cinta ditolak, atau terjebak dapat menjadi penghambat dalam membentuk dan mempertahankan hubungan intim jangka panjang yang sehat.
Mengapa Talking Stage Tetap Penting?
Meski membawa risiko kecemasan, Verywell Mind menekankan bahwa talking stage sebenarnya merupakan tahapan yang sangat krusial dalam membangun hubungan yang sehat.
Fase ini merupakan waktu bagi calon pasangan untuk dapat saling mengenal lebih baik, mendiskusikan hal-hal yang bisa dan tidak bisa ditoleransi oleh pasangan, serta menyelaraskan nilai-nilai pribadi yang dimiliki masing-masing.
Meski ini menjadi hal mungkin menakutkan, situasi tersebut adalah kesempatan penting agar masing-masing pihak bisa mengevaluasi kecocokan dan membangun hubungan yang lebih mendalam.
Perlu diingat, terburu-buru masuk ke dalam hubungan resmi tanpa melalui proses malah berisiko membuat kita terikat pada pasangan yang belum tentu cocok. Maka, melakukan penjajakan terlebih dahulu tidaklah keliru.
Bagaimana dengan pengalamanmu terkait "talking stage"? Apa hikmah atau pelajaran yang pernah kamu terima dari tahapan tersebut?
Artikel lainnya terkait tren kencan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih