Menuju konten utama

Doomjobbing, Realitas Berburu Kerja yang Menguras Jiwa

Fenomena ini dipicu oleh dorongan optimisme sesaat, lalu muncul kekecewaan, sampai akhirnya timbul harapan baru untuk mencari kerja. Polanya berulang.

Doomjobbing, Realitas Berburu Kerja yang Menguras Jiwa
Header Diajeng Doomjobbing. foto/istockphoto

diajeng.id - Kebiasaan berburu lowongan kerja tanpa henti ternyata tidak selalu berdampak baik lantaran berisiko mengganggu kesehatan mental.

Bayangkan, kamu masih menatapi layar smartphone sampai larut malam, sibuk menjelajahi LinkedIn, seiring notifikasi surel terus-menerus masuk membawakan informasi tentang lowongan kerja terbaru.

Kamu sudah mengirimkan CV ke banyak perusahaan, tetapi rasa cemas selalu tertinggal di hati, apalagi di tengah situasi pasar kerja yang serba tidak pasti.

Jika kamu pernah mengalami hal ini, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam “doomjobbing”.

Doomjobbing adalah kebiasaan mencari dan melamar pekerjaan secara berlebihan yang dilakukan melalui internet, yang alih-alih memberi semangat, justru dapat mengikis rasa percaya diri dan motivasi.

Fenomena doomjobing ini dipicu oleh dorongan rasa optimisme sesaat, kemudian muncul kekecewaan, sampai akhirnya timbul harapan baru untuk mencari kerja. Ini menjadi siklus yang berulang.

Pada tahap tertentu, pola ini mudah sekali membuat ketagihan, terlebih bagi kita yang sedang menghadapi situasi sulit karena sebelumnya kehilangan pekerjaan.

Apa Efek Negatif dari Doomjobbing?

Melamar ke lebih banyak lowongan tidak otomatis meningkatkan peluang diterima. Apalagi jika melamar posisi yang kualifikasinya tidak sesuai. Bisa-bisa, yang diterima adalah penolakan atau bahkan tidak mendapat respons sama sekali.

Situasi ini berisiko meningkatkan kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, bahkan membuat kita mulai meragukan diri sendiri. Selain itu, doomjobbing juga menguras waktu dan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun relasi, memperluas jaringan, dan mengembangkan diri.

Apabila dibiarkan, kebiasaan doomjobbing dapat mengganggu relasi personal kita karena membuat kita "berjarak" alias kurang "hadir" dalam momen-momen bersama orang terdekat.

Bagaimana Agar Tidak Terjebak Doomjobbing?

Doomjobbing bukanlah situasi yang mudah dilalui, terlebih ketika kita berada dalam kondisi panik dan terdesak. Namun begitu, tetap penting untuk mencoba mengubah cara mencari kerja menjadi lebih terarah dan sehat.

Berikut ini adalah tiga cara yang bisa dipertimbangkan untuk mencegah diri terjebak doomjobbing.

1. Fokuskan Pencarian Kerja

Langkah pertama adalah memperjelas arah pencarian kerja. Tentukan jenis pekerjaan yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan pengalamanmu sebelum mulai melamar. Hindari kebiasaan melamar secara acak hanya karena melihat banyak lowongan.

Sebaliknya, luangkan waktu untuk menyusun dan menyesuaikan CV agar lebih relevan dengan posisi yang dituju. Cara ini efektif sekaligus dapat meningkatkan peluang mendapatkan respons positif.

2. Batasi Waktu Melamar

Atur waktu secara disiplin. Tetapkan jadwal harian khusus untuk mencari lowongan, melamar pekerjaan, dan membangun koneksi. Di luar waktu tersebut, usahakan untuk benar-benar beristirahat dan melakukan aktivitas lain, seperti olahraga, bertemu teman, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Menyusun jadwal yang rapi demikian dapat membantu menjaga keseimbangan hidup dan mencegah stres berlebihan.

3. Perkuat Jaringan Relasi

Selain aktif melamar, jangan lupakan pentingnya membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Perluas jaringan dengan menjalin komunikasi, baik dengan teman lama, kolega, maupun kenalan baru.

Banyak peluang kerja justru datang dari rekomendasi atau koneksi, bukan hanya dari situs lowongan. Dengan memperkuat relasi, proses mencari kerja bisa terasa lebih ringan, efektif, dan tidak terlalu membebani secara mental.

Apa Kata Pakar Tentang Doomjobbing?

Bagi freshgraduate, melamar kerja secara terus-menerus dan penolakan yang datang silih berganti bisa sangat menguras emosi.

Dilansir dari USA Today, Mindi Cox, Chief People and Marketing Officer di O.C. Tanner menyebut proses ini kerap menimbulkan “rasa gagal yang mendalam”, terutama bagi mereka yang melamar ke banyak posisi tetapi belum mendapat hasil yang berarti.

“Kalau kamu melamar ke 500 pekerjaan, kemungkinan besar kamu akan menerima 499 penolakan dan mungkin hanya satu penerimaan. Itu tentu memengaruhi perasaan kita,” ujar Cox, “Usaha yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasilnya, dan itu bikin frustrasi.”

Cara melamar kerja seperti ini juga berisiko membuatmu terlupa untuk membangun relasi dan jaringan.

“Jauh lebih mudah mengirim lamaran standar dengan satu CV yang sama,” kata Cox, dibandingkan harus menjalin koneksi atau menghubungi orang secara langsung.

Dampaknya, doomjobbing bisa membuat kita kehilangan arah terhadap tujuan jangka panjang.

“Biaya hidup saat ini memang tinggi, jadi wajar jika seseorang membutuhkan pekerjaan dalam waktu dekat,” lanjut Cox, “Namun, jika ingin berkembang dalam jangka panjang, penting untuk menemukan pekerjaan yang benar-benar memberi makna dan tujuan.”

Bagaimana, kamu setuju?

Baca juga artikel terkait KARIER atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih