Menuju konten utama

Bagaimana Menghadapi Pasangan yang Mudah Tantrum?

Tantrum pada orang dewasa biasanya sering terlihat sebagai emosi yang berlebihan dan tidak sepadan dengan apa yang menjadi pemicunya.

Bagaimana Menghadapi Pasangan yang Mudah Tantrum?
Header diajeng pasangan tantrum. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Beberapa waktu lalu media sosial diramaikan oleh konten yang memperlihatkan sosok laki-laki tantrum di ruang publik.

Mulai dari insiden di gerai waralaba makanan populer; seorang laki-laki merujuk tak mau pulang meski dibujuk oleh kekasihnya sampai staf restoran harus membawakan payung untuk mengayomi laki-laki itu di tengah hujan bersama kekasihnya.

Ada pula aksi nekat laki-laki merusak sepeda motor sendiri saat berselisih dengan kekasih. Sebelumnya, kita pernah menyaksikan video viral seorang laki-laki yang marah dengan menyiram minuman ke kepalanya sendiri.

Kejadian-kejadian ini memicu pertanyaan besar. Mengapa seorang dewasa, khususnya pasangan laki-laki, bisa mengekspresikan kemarahan begitu meledak-ledak? Bagaimana kita kemudian bersikap saat menghadapinya?

Tantrum pada orang dewasa, menariknya, acap kali muncul sebagai emosi yang berlebihan dan tidak selalu sepadan dengan pemicunya.

Tantrum Sebagai Luapan Emosi Berlebihan

Artikel "How to Deal with Someone Being Mad at You: The Four Things You Can Do" dari Dr. Abby Medcalf dalam situs resminya menjelaskan bahwa saat kita marah besar, sistem limbik di otak, bagian yang mendeteksi ancaman, terpancing dan memicu respons fight, flight, freeze, atau fawn.

Hal ini membuat kita berada dalam kondisi hyperarousal. Beberapa tandanya adalah kita merasa sangat waspada, gelisah, cemas, panik, tidak bisa relaks, mengalami luapan emosi yang tak terkendali, hingga sulit tidur.

Sementara saat kondisi fawn atau tunduk, beberapa kondisi yang dialami mirip dengan gejala seperti depresi, pikiran terasa kabur (brain fog), lesu, merasa terasing, putus asa, serta menjadi pasif atau terlalu penurut.

Selain itu, menurut laman Psychology Today, di balik tantrum berulang yang dilakukan seseorang, ada juga beberapa penyebab lainnya, ada karena luka masa lalu yang belum sembuh, pola emosi orang tua yang sangat mungkin menurun pada sang anak, atau kecenderungan narsisme.

Amarah yang meledak-ledak tersebut pun biasanya hanyalah perisai luar yang menutupi emosi yang lebih rentan seperti rasa takut, sedih, atau rasa tidak dihargai.

Cara Menghadapi Pasangan yang Tantrum

Ketika berhadapan dengan pasangan yang sedang tantrum, ada beberapa strategi yang bisa kita lakukan.

Dinukil dari The Wellness Society, hal yang paling penting dilakukan adalah, tingkatkan kehati-hatian dan lindungi diri sendiri. Keselamatan fisik merupakan prioritas Utama.

Kemudian, seiring situasi sudah lebih aman, langkah awal yang paling utama adalah tidak membalas dengan amarah yang sama. Penting pula untuk memahami de-eskalasi emosional; sikap tenang kita dapat membantu meredakan intensitas emosi pasangan.

Kemudian, untuk menghentikan kepanikan respons otak pasangan, kita bisa langsung memberikan perintah langsung yang jelas dan tegas, misalnya dengan mengatakan, "Tolong turunkan nada suaramu!"

Bisa juga menggunakan pernyataan berfokus diri ("aku) daripada tuduhan yang memicu benteng pertahanan, seperti mengucapkan, “Aku takut banget pas kamu melempar barang-barang,” atau, “Aku khawatir waktu kamu teriak tadi, karena rasanya aku sudah bikin salah besar."

Selain itu, jangan lupa untuk mengakui perasaan atau kepedulian pasangan tanpa harus menyetujui perilakunya, meminta maaf, atau memperdebatkan niat.

Namun, jika amarah dan tantrum pasangan terus berlanjut, menetapkan batasan yang tegas menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Tindakan yang bisa dilakukan seperti mengambil jeda dengan meninggalkan ruangan untuk memberikan ruang yang tenang sementara waktu.

Masih mengutip The Wellness Society, penetapan batasan harus disertai dengan konsekuensi yang nyata dan konsisten, seperti menunda percakapan atau berpindah tempat, bukan untuk menghukum, melainkan demi menjaga kesehatan mental dan keselamatan diri.

Pentingnya Pelepasan Emosional Penuh Kasih

Di sisi lain, Dr. Abby Medcalf mengajarkan pentingnya "loving detachment" (pelepasan emosional yang penuh kasih), yakni kemampuan untuk tidak ikut terseret dalam badai emosi pasangan sambil melatih kesadaran diri (mindfulness) agar kedamaian batin kita tidak tersandera oleh perasaan orang lain.

Penyelesaian masalah secara mendalam baru bisa dilakukan saat emosi kedua belah pihak sudah benar-benar dingin.

Kita juga perlu belajar mengalihkan fokus untuk memberi pengaruh (influence) melalui keteladanan, bukan mencoba mengontrol pihak lain.

Ketika momen sudah tenang, ada baiknya untuk mengajukan pertanyaan terbuka guna menggali motivasi internal pasangan untuk berubah, karena perubahan sejati hanya terjadi jika bersumber dari keinginan diri sendiri.

Kita pun perlu menggeser sudut pandang dari Me Lens ke Them Lens (empati), lalu menuju We Lens, sudut pandang ketika kita dan pasangan bekerja sama sebagai tim untuk membangun komunikasi yang sehat.

Pemulihan relasi jangka panjang memang membutuhkan komitmen bersama untuk menumbuhkan kerendahan hati (humility), saling memaafkan luka masa lalu, serta memaafkan diri sendiri.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih