diajeng.id - Carework atau kerja perawatan merupakan salah satu sektor pekerjaan paling penting yang menunjang hidup banyak orang.
Sayangnya, carework acap kali dianggap remeh, bahkan menjadi realitas yang cenderung diabaikan oleh banyak orang.
Sektor kerja perawatan terbagi antara pekerjaan yang berbayar dan tidak berbayar. Contoh carework berbayar dilakukan oleh Pekerja Rumah Tangga (PRT) atau tenaga kesehatan.
Di luar itu, semua orang bisa terlibat dalam carework tidak berbayar. Dalam hal ini, perempuan mendominasi. Kegiatan yang mereka lakukan umumnya berkutat dari merawat anak sampai mencuci piring, menyapu, dan membereskan seisi rumah.
Padahal, ada banyak dimensi memberdayakan yang dapat diselami dari aktivitas kerja perawatan, termasuk fungsinya sebagai bentuk perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan opresi.
Hal tersebut menjadi bahasan dalam sesi diskusi Voice of the Voiceless 2026 Vol. 6 bertajuk “Kerja Perawatan sebagai Bagian Integral dari Perdamaian dan Keamanan” yang diselenggarakan oleh Pusat Komunikasi dan Informasi Perempuan Kalyanamitra, The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, dan Jaringan Women, Peace, and Security (WPS) Indonesia pada Jumat, 31 Juli 2026.
Kerja Perawatan: Bagian dari Perlawanan
Empati adalah jantung dalam carework. Perlu kepedulian dan kepekaan sosial untuk merawat orang lain.
“Merawat itu adalah [tindakan] melawan kolonialisasi pengetahuan yang menempatkan rasionalitas di atas empati. [...] Empati itu core kerja kita sebagai aktivis hak-hak asasi manusia,” ujar Kania Mamonto, Human Rights Defender dari Asia Justice and Rights (AJAR) Indonesia.
Selama ini, kita lebih familier dengan bentuk-bentuk perlawanan yang bersifat konfrontatif, seperti unjuk rasa ke jalan atau aksi demonstrasi. Aksi-aksi tersebut memiliki peran penting dalam menyuarakan tuntutan dan mendorong perubahan.
Namun, di samping itu, ada pula bentuk perlawanan lain yang kerap luput dari perhatian, yakni praktik-praktik yang dilakukan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Kerja perawatan juga memiliki peran dalam mengomunikasikan perlawanan. Tanpa disadari, tindak-tanduk kita dalam merawat dan menjaga sesama bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap opresi.
“Pelan-pelan, slow-cooking, berprioritas pada empati dan juga timbal balik… kalian memberikan care, tapi kita juga menerimanya. Jadi benar-benar hubungan interpersonal. Dan ini sangat bisa memperkuat jaringan dan hubungan komunitas jangka panjang dan membangun kapasitas kolektif lintas generasi untuk bertahan. Jadi, sebenarnya dia lebih sustain,” lanjut Kania.
Merawat adalah tindakan mendasar yang dibutuhkan semua orang. Gestur ini mendorong relasi menjadi solidaritas yang nantinya berguna dalam menopang perlawanan jangka panjang.
Carework di Dalam Komunitas
Komunitas-komunitas perawatan berfungsi sebagai bantuan bagi sesama masyarakat di tengah situasi genting.
“Di saat situasi kritis, tingkat diskriminasi meningkat, sangat dibutuhkan sekali kerja-kerja perawatan itu,” jelas Echa Wa'ode, aktivis minoritas gender dan seksual dari Arus Pelangi.
Kekerasan negara yang terus berulang membuat carework semakin penting dikelola oleh setiap komunitas. Dalam webinar ini, Kania menyebutkan beberapa contoh komunitas konflik yang terbentuk sebagai carework.
Pertama, Kelomang (Kelompok Mama-mama Sirih Pinang) dari Desa Brongkendik, Fakfak, Papua Barat. Anggota yang tergabung dalam kelompok ini adalah korban dari penembakan aparat di masa lalu.
Kedua, terdapat KPCD (Kelompok Perempuan Cinta Damai) yang terdiri dari ibu-ibu yang terdampak konflik di Aceh awal tahun 2000-an.
Perempuan yang membentuk kelompok ini tidak hanya berasal dari kota-kota besar di Aceh, tetapi ada juga perempuan dari dataran tinggi Gayo, bahkan perempuan Jawa.
Kelompok ini menargetkan penguatan kapasitas, lewat belajar bahasa Inggris dan kemampuan menenun bersama. Penguatan ini nantinya meningkatkan rasa kepercayaan diri yang membantu mereka merepresentasikan diri di kancah desa.
Terakhir, Paguyuban 65, kelompok yang berisi anak-anak dari korban tragedi 1965. Meskipun sudah terjadi cukup lama, komunitas ini masih aktif membangun koperasi bersama.
Koperasi yang mereka kelola menjual berbagai produk dari anggota, seperti bakpia dan berbagai kue.
Anggota kelompok-kelompok ini merupakan saksi nyata dari kekerasan yang dilakukan negara. Upaya mereka membangun komunitas menjadi cerminan carework yang dikerahkan sebagai bentuk perlawanan.
Lewat penjualan barang, pengembangan kemampuan ekonomi, dan peningkatan kapasitas, komunitas berjuang untuk meningkatkan martabat anggotanya. Hal ini merupakan bentuk upaya dalam merebut kembali hak keamanan yang sebelumnya telah dirampas.
Tantangan Para Pekerja Carework
Kelompok yang selama ini banyak terlibat dalam kerja-kerja perawatan berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ).
Namun, kelompok-kelompok ini jugalah yang termasuk termasuk paling rentan mengalami diskriminasi dan stigma di masyarakat.
Diskriminasi tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat akses terhadap layanan perawatan yang aman dan layak.
Misalnya, masih ada tenaga profesional yang menolak memberikan layanan psikologis kepada individu dengan orientasi seksual tertentu.
Di berbagai sektor, kelompok LGBTQ pun masih menghadapi penolakan yang membatasi akses mereka terhadap pekerjaan maupun dukungan sosial dan ekonomi.
Kondisi ini membuat banyak anggota komunitas LGBTQ akhirnya lebih mengandalkan jejaring dan komunitasnya sendiri sebagai ruang untuk saling merawat, memberikan dukungan emosional, hingga membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Akses terhadap kerja perawatan yang layak dan inklusif adalah bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) dan pemenuhan keadilan sosial. Perlindungan terhadap kelompok rentan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi sangat penting untuk menciptakan ruang perawatan yang aman,” tegas Echa.
Sebagaimana sektor pekerjaan lainnya, kerja perawatan perlu didukung oleh lingkungan yang inklusif.
“Berikan ruang yang aman, ruang yang nyaman, dan juga ruang yang setara bagi seluruh masyarakat, tidak diskriminatif dan tidak ada stigma,” tukas Echa.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih