diajeng.id - Beberapa waktu lalu, sejumlah video viral menampilkan kreator konten yang menirukan penyandang disabilitas sebagai bahan hiburan.
Ada yang melakukannya secara spontan sebagai ekspresi menghina, ada pula yang menampilkannya sebagai strategi “hook” untuk video promosi produk kecantikan.
Narasi dikemas dengan nuansa mengejek, yang tentu saja menyinggung komunitas disabilitas dan keluarganya. Kecaman bertubi-tubi datang dari banyak orang.
Ironisnya, konten demikian meraih likes yang besar, bahkan ada yang sampai 3,3 juta likes. Bagaimana bisa konten merendahkan seperti itu mendapatkan traffic dan respons “positif”?
Pembuatan konten mustahil dipisahkan dari ambisi industri kreator dalam menciptakan konten-konten viral.
Menariknya, ini berlaku pada semua konten baik yang pesannya positif maupun negatif. Kisah inspiratif yang menimbulkan rasa kagum, konten kontroversial yang memicu kemarahan, informasi yang bikin cemas. Semua itu termasuk dalam kategori konten yang punya kecenderungan viral.
Dalam konteks video mengejek disabilitas di atas, para kreator konten tahu bahwa aksinya dapat memicu emosi audiens lewat perasaan marah (tersinggung) maupun senang (terhibur karena lucu).
Mereka menempatkan pengalaman disabilitas sebagai sebuah strategi dalam pembuatan konten yang berpotensi menggugah emosi dan melahirkan beragam reaksi dari banyak audiens. Hasilnya, video mereka jadi viral.
Lelucon Soal Disabilitas Harus Dihentikan
Narasi yang menampilkan disabilitas sebagai sosok "konyol" selalu ada dari zaman ke zaman, sebut di antaranya tokoh-tokoh dengan keterbelakangan mental dan fisik dalam khazanah sastra Shakespeare, buku-buku humor era Elizabethan, sampai karakter dalam sitkom televisi modern.
Meski eksistensi karakter disabilitas yang "lucu" sering dijustifikasi untuk tujuan menghibur tanpa sedikit pun niat buruk, komedi yang mendiskriminasi disabilitas tersebut berdampak pada terbentuknya persepsi negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas serta mengikis identitas dan kepercayaan diri penyandang disabilitas, tulis Dr. Laurence Clark dari North West Disability Arts Forum dalam artikel Disabling Comedy: “Only When We Laugh!” (2003).
Merujuk pada video-video viral yang kita temui belakangan ini, “punchline” yang ditampilkan berupa gerak-gerik dari kelompok disabilitas, seperti penyandang cerebral palsy. Candaan tersebut menonjolkan perbedaan tingkah laku dan kemampuan antara kelompok disabilitas dan nondisabilitas.
Bentuk lelucon sejenis menyebabkan terciptanya jarak yang semakin lebar antara kelompok disabilitas dan nondisabilitas, serta berisiko memperkuat ableisme.
Melansir American Psychological Association (APA), ableisme adalah prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas yang kerap muncul melalui asumsi-asumsi bahwa mereka perlu “disembuhkan” supaya bisa jadi “normal”.
Dari lensa ableisme, penyandang disabilitas dianggap lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memiliki disabilitas.
Hal itu sama saja dengan mereduksi kehidupan kelompok disabilitas sebagai sebuah objek untuk ditertawakan, atau dalam konteks video promosi produk, untuk dieksploitasi sebagai salah satu strategi marketing dalam meraih keuntungan komersil.
Berhenti di Kita
Tanpa disadari, kita mungkin pernah ikut andil dalam melanggengkan diskriminasi terhadap kelompok disabilitas.
Saat berkumpul dengan teman-teman, mungkin ada obrolan yang mengundang tawa spontan terkait candaan disabilitas atau kalimat-kalimat yang merendahkan pengalaman disabilitas.
Jika menjumpai kejadian serupa, bersikaplah tegas dan tegur yang membuat candaan, “Stop! Nggak baik ngomong kayak gitu!” atau kita bisa juga menanyakan, “Memang apanya yang lucu?”
Sebaliknya, kalau ada orang menegur kita, segera akui kesalahan, lakukan refleksi, dan perbaiki sikap.
Dorong diri sendiri untuk mau belajar mengenali berbagai bentuk disabilitas, termasuk disabilitas taktampak akibat penyakit kronis.
Dengan mempelajari ragamnya, kita sudah satu langkah lebih dekat dalam memahami teman-teman disabilitas.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih