diajeng.id - Bagi Lamtiar Simorangkir atau akrab disapa Tiar, membuat film bukanlah sekadar aktivitas mendokumentasikan realitas.
Sutradara asal Tarutung, Tapanuli Utara ini percaya bahwa setiap film bisa menjadi alat perlawanan sekaligus medium untuk menyalurkan harapan, empati, maupun kepedihan dari mereka yang suaranya acap kali tenggelam dalam kebisingan dunia.
Kepekaan Tiar dalam merekam dinamika sosial tidak bisa dipisahkan dari masa kecilnya yang penuh keterbatasan di kampung bersama ketujuh saudaranya.
Lulus kuliah ekonomi di Pekanbaru, perempuan yang akrab disapa Tiar ini hijrah ke Jakarta. Kerja kerasnya bertahun-tahun membuahkan hasil sesuai harapan keluarga.
Dalam perjumpaan dengan Diajeng pada bulan Juli silam, Tiar bercerita bahwa upayanya menyelami dunia sinema dimulai pada 2010. Tia belajar film secara otodidak dan tidak pernah mengecap bangku sekolah film.
Setelah mencoba mengirim pesan ke ratusan orang di Facebook yang tak satu pun dikenalnya untuk meminta informasi lowongan kerja film, seseorang merespons dengan ajakan magang dalam proyek Garin Nugroho di Semarang, Sogieja (2012).
Meski sempat ragu apakah tawaran tersebut benar adanya, Tiar nekat pergi ke lokasi syuting.
Tugas pertamanya di sana: mengumpulkan laundry kotor milik para kru dan pemain film.
Tak beberapa lama, seorang manajer produksi dan asistennya mengundurkan diri. Tiar pun diminta menggantikan.
Dari kesempatan itulah, Tiar mengenal lebih jauh tentang seluk-beluk membuat film dan mulai berjejaring dengan komunitas film.
Kelak, ia kembali dilibatkan dalam proyek Garin berikutnya, Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015).
“Saya ingat pesan mas Garin, sosok yang humble dan sangat luar biasa. Dia selalu bilang, kalau bikin film, harus ada pesan yang mau disampaikan. Dan saya selalu pegang itu karena itu sejalan dengan prinsip saya,” kenang Tiar tentang proses belajarnya dari Garin.
Memulai Perjalanan di Dunia Dokumenter
Film fiksi pendek pertama Tiar, Lamtiur (Brighter) (2017), menjadi wahana untuk menyampaikan perasaan, protes, dan harapannya tentang kultur patriarki di masyarakat Batak.
Diambil dengan teknik one-take shot, Tiar berupaya merekam perubahan mindset seorang perempuan Batak sedari kecil sampai usia 65 tahun dalam memandang hak perempuan dan kesetaraan.
Saat film itu diputar, seorang pengunjung menangkap minat Tiar terkait isu perempuan, kemudian bercerita padanya tentang realitas perempuan narapidana yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya di penjara.
Mendengar itu, Tiar tertegun.
“Tidak terbayang, saya shock. Meski saya datang dari keluarga miskin, saya hidup ‘bebas’ pas kecil, lari-lari di sawah, lompat-lompat di sungai. Saya rasa hidup ini tidak adil bagi anak-anak yang ikut ibunya di penjara.”
Awalnya, Tiar ingin membuat fiksi yang terinspirasi dari realitas pahit tersebut. Di satu sisi, ia terdorong untuk menggerakkan publik dengan filmnya. Maka dipilihlah format dokumenter yang dapat digunakan juga sebagai impact campaign.
Sejak 2017, Tiar mulai melakukan riset mandiri sembari terus berusaha mendapatkan izin syuting pada lembaga-lembaga terkait.
Setahun kemudian, syuting mulai dilakukan total di empat lokasi Rutan (Rumah Tahanan Negara) dan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) di Jakarta dan Bandung.

Dokumenter panjang pertama Tiar yang diberi judul Invisible Hopes ini selesai diproduksi pada 2021, sebuah perjalanan yang panjang dan sarat perjuangan.
Selama proses pembuatan film, Tiar sering mengajukan cuti pada kantor tempatnya bekerja sebagai manajer, sampai akhirnya dia dirumahkan.
Dalam kondisi sulit tersebut, Tiar pun mencari cara bagaimana bisa membiayai pembuatan pembuatan film yang tidak murah. Akhirnya ia memutuskan untuk menjual mobil dan menghabiskan tabungannya.
Tiar juga berulang kali meminta bantuan dana ke berbagai lembaga nirlaba, tetapi hasilnya nihil. Banyak yang menilai filmnya mengangkat isu kebijakan publik yang terlalu sensitif.
Kabar baiknya, Tiar mendapat dukungan dari program hak asasi manusia Kedutaan Swiss dan Kedutaan Norwegia. Invisible Hopes pun dapat diselesaikan dan memenangkan dokumenter panjang terbaik di Festival Film Indonesia (FFI).
Setelah kemenangan itu, beberapa dukungan pun mulai berdatangan untuk Invisible Hopes, yang kemudian dipromosikan melalui roadshow impact campaign di berbagai kota di Indonesia. Kampanye ini berlanjut sampai tingkat internasional melalui berbagai program konferensi di luar negeri.

Menariknya, di balik apresiasi yang bermunculan, ternyata ada pula suara-suara kritis dari kalangan aktivis terkait narasi dokumenter Tiar.
“Mereka bilang, saya eksploitasi anak-anak ini. Tidak seharusnya memfilmkan mereka, karena mereka korban,” ujar Tiar, “Pertanyaannya, eksploitasi dari mana? Kalau saya eksploitasi, berarti saya dapat banyak keuntungan finansial. Misalnya, saya berikan hak siar film ke platform streaming.”
Namun, hal tersebut tidak Tiar lakukan. Penayangan film dilakukan terbatas secara luring di festival-festival atau acara komunitas tertentu. Akses siaran daring tidak diberikan.
“Alasannya karena jejak digital. Saya tidak mau ada yang merekam isinya, sebar ke sana kemari. Kalau anak-anak itu nanti besar, bisa kena stigma. Saya menolak itu,” tegas Tiar.
Melalui proyek filmnya, Tiar tak hanya merekam kisah para ibu dan anak di balik jeruji, tetapi juga menjalin kedekatan personal dengan mereka.
Ia kerap datang mengunjungi mereka bukan hanya sebagai pembuat film, melainkan sebagai teman yang mau mendengarkan dan peduli.
Kebiasaan itu berlanjut hingga kini, Tiar masih konsisten mengunjungi lapas dan rutan untuk mengantar donasi keperluan bayi dan ibu hamil serta menyusui.
Advokasi Berlanjut dengan Lensa Kamera
Awalnya, Tiar sama sekali tidak terpikir akan membuat sekuel. Proyek Invisible Hopes benar-benar menguras energi dan mentalnya.
Selama syuting, ia kehilangan pekerjaan tetap, berbulan-bulan menyaksikan kondisi ibu hamil dan anak kecil jatuh sakit sampai perempuan yang melahirkan di toilet.
“Secara psikologis itu berat ternyata. Sepertinya saya tidak siap bikin dokumenter yang isunya berat lagi.”
Namun begitu, Tiar tidak bisa menutup mata pada realitas.
Anak-anak ini diperbolehkan meninggalkan penjara lebih dulu sebelum ibunya menyelesaikan masa hukuman. Mereka masih dapat tinggal dalam penjara sampai usia mencapai 3 tahun.
Mirisnya, ketika keluar, kebanyakan anak ini telantar karena ditolak keluarga besar yang tidak sanggup merawat, terutama karena terimpit kemiskinan.
Singkat kata, permasalahan tidak selesai begitu saja ketika anak-anak ini boleh keluar dari lapas dan rutan.
Pengalaman itu menggerakkan Tiar untuk memproduksi Where is Home? (2025), kisah menyentuh tentang perjuangan seorang anak sejak usia 2 hingga 9 tahun mencari “rumah” setelah dibesarkan di balik jeruji besi.
Bukan perkara mudah untuk memfilmkan pengalaman mengiris hati tersebut. Setiap adegan harus dipikirkan dengan hati-hati.
Bekerja sama dengan editor, Tiar selalu berdiskusi agar kamera mereka tidak sekedar merekam, tapi juga menjaga martabat anak-anak, ibu, dan para mantan narapidana yang menjadi bagian dari cerita.

Tiar sungguh berharap film-filmnya dapat membuka pandangan publik tentang isu yang selama ini dipandang tabu atau persoalannya dianggap tidak ada.
“Kami angkat cerita anak-anak ini di Invisible Hopes dan Where is Home? untuk dapat perhatian negara dan masyarakat,” tukasnya.
Tiar mengaku kecewa betapa sulit mendapatkan dukungan dari dalam negeri.
Bulan Juni kemarin, Where is Home? mendapatkan nominasi dalam Doc Edge Festival 2025 di Auckland, sebuah festival dokumenter internasional terkemuka di Selandia Baru sekaligus ajang kualifikasi Oscar.
Tiar sempat mencoba meminta dukungan pada lembaga pemerintah untuk membantu keberangkatannya ke Auckland, tapi tidak membuahkan hasil.
“Saya kecewa dengan negara. Mereka memang men-support banyak filmmaker juga ke festival internasional, tapi kadang isu-isunya lebih ‘safe’ atau ‘seksi’ untuk promosi dalam negeri. Sejak membuat Invisible Hopes, sampai sekarang, saya merasa kurang didukung.”
Baru-baru ini, Where is Home? juga diikutsertakan dalam Asia Premier di Iran International Documentary Film Festival: Cinema Vérité.
Di acara bergengsi tersebut, Where is Home? menuai pujian, "A quietly powerful observational documentary that follows children born into incarceration, revealing the lifelong consequences of choices they never made. Through rare intimacy and trust, the film invites audiences into a deeply human and empathetic connection, witnessing resilience, loss, and an injustice rarely seen."
Di bawah badai tantangan, Tiar menolak untuk menyerah.
Dia pun mencoba melompat ke arena internasional. Meski paham betapa ganas persaingan di luar sana, Tiar gigih mencoba dan berburu kesempatan untuk belajar.
Usahanya membuahkan hasil. Tiar menerima fellowship dari Open Society Foundation sehingga dapat membiayai Where is Home? untuk mengikuti berbagai festival internasional.
Era pandemi lalu, dia menerima scholarship untuk mengikuti kelas workshop daring dari Sundance Institute, organisasi film prestisius yang didirikan mendiang aktor Robert Redford. Tiar juga terpilih ke IDFA Academy dan Doc Edge Pitch.
Perjalanan Tiar terus berlanjut, pada bulan Juli, Tiar mendapatkan pelatihan produksi film di Los Angeles dari American Film Showcase, mengunjungi studio-studio di Hollywood, dan belajar langsung dari sineas pakar.
Saat ini, Tiar tengah mempromosikan Where is Home? di beberapa festival film internasional bergengsi Eropa dan Amerika : DOK Leipzig di Jerman, Ji.hlava IDFF di Ceko, dan DOC NYC di New York.
Dari balik jeruji besi yang mengelilingi ibu-ibu dan anaknya, Tiar ingin membuktikan kepada dunia bahwa harapan bisa tumbuh, bahkan dari bilik yang paling sunyi.
Editor: Dhita Koesno