diajeng.id - Puan Bisa Festival merayakan tahun keenamnya di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Sabtu (10/10). Mengusung tema “Brave to Step Back”, Puan Bisa Festival 2026 mengajak perempuan untuk mengambil jeda dan bersikap lebih mindful terhadap setiap proses yang dikerjakan. Kegiatan ini juga menjadi pengingat menjaga kesehatan mental di tengah kepungan ambisi pencapaian.
“Tema ini lahir dari refleksi dan observasi aku terhadap teman-teman sekitar lingkunganku. Aku melihat bahwa kayaknya mereka [perempuan] ini sangat amat sibuk ikut berbagai macam kegiatan, mulai dari freelance, kerja full-time, ikut komunitas, dan lain sebagainya sampai pada akhirnya terpikirkan, ‘Ini mereka benar-benar mengambil setiap kesempatan dengan mindful atau sekadar Fear of Missing Out (FOMO) doang?’” ujar Dini, Project Manager Puan Bisa Festival 2026.
Dalam perayaan penuh kehangatan ini, Puteri Indonesia Intelegensia 2022 Gina Sinaga hadir berbagi kisah inspiratif mengenai keberaniannya mengambil jeda di tengah dinamika perjalanan karier. Resti Nur Hilmawati, M.Psi., Psikolog turut mengisi workshop bertajuk “Slow Down to Level Up Aligning Your Path with RISE.”

Menyadari Yang Tidak “Beres” Dalam Diri
Siapa yang pernah terbangun di pagi hari, lalu tiba-tiba saja mendapati diri sudah duduk di ruang kelas kampus atau di balik meja kerja? Tanpa benar-benar mengingat bagaimana proses perjalanan menuju ke sana, semua terjadi begitu saja.
Tatkala tubuh dan pikiran terbiasa bergerak dalam mode autopilot, hari-hari terkesan menjadi sekadar pengulangan rutinitas tanpa makna.
Apabila malas merujuk pada kondisi ketika kita enggan atau sengaja menghindari suatu pekerjaan yang sebenarnya mampu dikerjakan dengan potensi dan energi yang dimiliki, maka “intentional pause” adalah tindakan sadar yang bisa kita lakukan untuk mengambil jeda.
“Berhenti” secara sengaja bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Jeda ini tak lain merupakan bentuk kepekaan untuk mengenali batas kapasitas diri.
Berbeda dengan sakit fisik yang dapat diatasi setelah meminum obat, luka psikologis cenderung hadir tanpa kita sadari dan berkamuflase di balik keluhan-keluhan fisik yang serbamembingungkan.
Di satu sisi, ketika pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada infeksi maupun penyakit, kita malah abai. Padahal, asam lambung yang mendadak melonjak menjelang sesi presentasi atau rasa mual yang datang saat besok kerja dimulai, adalah sinyal darurat tubuh alih-alih kebetulan semata.
Kalau kita mengabaikan sinyal-sinyal kecil tersebut dengan mantra seperti, “Gapapa, aku kuat, aku pasti bisa…” bukan tidak mungkin sistem kekebalan tubuh akan rusak dari dalam.
“Itu sebenarnya tanda dari tubuh kita ada yang salah, ada yang harus dikelola. Ada kondisi emosional tidak terkelola. Jika tidak dikelola akan lari ke penyakit autoimun,” kata Resti.
Berbagai riset medis menunjukkan bahwa stres psikologis jangka panjang dapat memicu respons peradangan sistemik yang erat kaitannya dengan peningkatan risiko penyakit autoimun. Tubuh yang terus-menerus berada dalam mode bertahan hidup akhirnya berbalik menyerang dirinya sendiri.
Menjebak Diri dengan Cermin Milik Orang Lain
Di masa lalu, tolak ukur pencapaian mungkin sebatas teman sekelas atau tetangga depan rumah. Sekarang, algoritma media sosial membuka akses informasi tanpa batas yang membuat kita bisa melihat kehidupan orang lain di seluruh dunia yang bahkan kita tidak kenal secara personal.
Tak ayal, kita terjebak dalam siklus membandingkan kehidupan kita di backstage dengan panggung utama milik orang lain lewat media sosial.

Kita lupa bahwa apa yang terpampang di media sosial hanyalah etalase yang telah dikurasi sedemikian rupa dari versi terbaik kehidupan orang lain. Kita tidak pernah melihat perjuangan dan kegagalan yang mereka sembunyikan di balik layar.
Secara biologis, ketika kita memaksa diri untuk terus bergerak. Otak kita, khususnya bagian amigdala, mengambil alih kemudi. Fenomena yang dikenal sebagai amygdala hijack ini menempatkan tubuh kita dalam mode emosional.
Jika kemudi hidup sepenuhnya dipegang oleh rasa takut tertinggal dan ambisi yang membabi buta, kita tidak akan pernah tahu apa yang salah dari perjalanan yang sedang ditempuh.
Di dunia yang semakin visual ini, sorak-sorai lebih sering ditujukan untuk mereka yang bisa mencapai garis akhir paling cepat. Padahal, apresiasi sepatutnya diberikan pula pada keberanian kita dalam menarik rem tangan, mengambil napas dalam-dalam, dan memastikan bahwa kita masih menjadi nakhoda atas diri kita sendiri.
“Slowing down doesn't mean you are falling behind, it means you’re making sure your actions are driven by purpose, not by fear,” tutur Resti.
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih