diajeng.id - Pernahkah kamu melihat seseorang di suatu acara atau pesta hanya terdiam sembari mengamati sekelilingnya, baik mereka yang lalu lalang maupun masing-masing percakapan? Atau mungkin justru kamu lah orang tersebut?
Tak hanya di dunia nyata, fenomena ini juga terjadi di dunia maya. Di panggung digital, khususnya media sosial, perilaku ini umum dan lumrah dilakukan banyak orang dan disebut sebagai lurking, sementara pelakunya dijuluki sebagai lurker.
Dinukil Everyone Social, lurker adalah seseorang yang aktif di media sosial, entah itu Instagram, X, Facebook, LinkedIn, TikTok, atau semacamnya, hanya saja mereka memilih menjadi pengguna pasif.
Alih-alih berinteraksi atau berpartisipasi dengan orang lain, mereka hanya membaca teks, melihat foto, menonton video, atau memantau profil pengguna lain tanpa pernah berkomentar, mengklik like, atau membagi ulang konten yang ditonton. Lurker hanya hadir secara sosial, tapi tak tampak secara digital.
Pergeseran Esensi "Sosial" di Media Sosial
Meskipun tindakan mengamati tanpa interaksi ini sah-sah saja, dominasi lurker secara perlahan seolah mengubah esensi dasar media sosial. Sebab pada dasarnya media sosial dirancang sebagai ruang komunikasi interaktif dua arah tempat interaksi (engagement) menjadi elemen vital. Namun, dengan banyaknya pengguna pasif, ruang berdialog ini bergeser menjadi panggung konsumsi satu arah.
Fenomena ini digambarkan oleh aturan psikologi internet yang dikenal sebagai Aturan 1%, 9%, 90% (ketimpangan partisipasi).
Berdasarkan riset dari Nielsen Norman Group, di dalam sebuah komunitas online, rata-rata hanya ada 1 persen pengguna yang aktif membuat konten, 9 persen yang sesekali berinteraksi, sementara 90 persen sisanya adalah lurker yang hanya mengonsumsi konten tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Mengapa Seseorang Memilih Menjadi Lurker?

Lurking bukanlah tanpa alasan. Di balik diamnya mereka dalam dunia digital, terdapat motif psikologis yang kompleks.
Laman Psychology Today menyebutkan, orang yang memilih tak mau berinteraksi di media sosial biasanya karena mereka takut akan penilaian publik. Ada rasa cemas saat mulai berkontribusi di ruang publik, dan mendapat respons negatif dari orang lain.
Di media sosial, komentar seseorang bisa dengan mudah disaring, disebarkan secara negatif, atau dijadikan bahan ejekan (meme) oleh pengguna lain. Karenanya, demi keamanan emosional, berdiam diri menjadi pilihan terbaik.
Selain itu, seorang lurker juga bisa dihinggapi sindrom impostor dan kurang percaya diri.
Menurut Verywell Mind, imposter syndrome mengacu pada pengalaman batin di mana seseorang merasa dirinya tidak sekompeten (misalnya tidak memiliki pengetahuan atau kontribusi yang cukup berharga) seperti yang dinilai oleh orang lain.
Mereka juga bisa merasa minder saat melihat standar kehidupan yang terlalu tinggi (Perfectionism) atau tampak "sempurna" di media sosial. Alhasil, observasi mengalahkan ekspresi diri.
Tak hanya itu, seorang lurker biasanya enggan pula menghabiskan energi dan waktunya untuk berinteraksi secara aktif aktif di media sosial membutuhkan energi dan waktu. Mereka ini tidak ingin terjebak dalam komitmen waktu dan lebih memilih menikmati konten tanpa ikatan.
Motif lainnya, secara psikologis, mereka juga tidak ingin mengelola risiko dalam hal reputasi. Terutama di platform seperti LinkedIn, setiap komentar dipantau oleh kolega atau atasan. Memilih jadi pengamat adalah langkah strategis untuk menjaga citra profesionalitas.
Sisi Gelap Lurking: Dampak Psikologis yang Nyata
Meskipun terkesan aman karena terhindar dari konflik, lurking yang dilakukan terus-menerus berpotensi menimbulkan bahaya psikologis. Saat mengamati kehidupan orang lain secara pasif, kita cenderung melakukan perbandingan sosial ke atas (upward social comparison), membandingkan diri kita dengan orang lain yang tampak lebih bahagia atau sukses.
Sebuah studi tinjauan sistematis yang dipublikasikan di PubMed Central mengonfirmasi bahaya ini. Penelitian tersebut menemukan hubungan erat antara kecenderungan membandingkan diri secara sosial dan rasa iri (envy) di media sosial dengan penurunan kesejahteraan psikologis (well-being), termasuk risiko depresi yang lebih tinggi.
Saat melihat kurasi momen terbaik orang lain, seorang lurker rentan berasumsi bahwa kehidupan semua orang jauh lebih baik dari miliknya. Aktivitas ini pun berubah menjadi siklus rasa rendah diri, pengasingan, hingga penghukuman emosional terhadap diri sendiri.
Menemukan Keseimbangan Baru
Menjadi penonton yang bijak bisa menjadi cara damai untuk belajar dan menyerap informasi baru. Namun, agar tidak terjebak dalam dampak buruknya, kita perlu lebih sadar akan perasaan kita sendiri saat menggulirkan layar di ponsel.
Jika ada sebuah akun yang mulai memicu perasaan cemas dan takut, menyaring kembali linimasa atau memulai interaksi kecil melalui pesan pribadi bisa menjadi langkah awal untuk kembali terhubung secara sehat.
Artikel terkait media sosial juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih