diajeng.id - Ketika orang yang pernah menyakiti kita sedang berada dalam kondisi sakit kritis atau mungkin sudah meninggal dunia, mungkin sempat terlintas di pikiran, haruskah kita memaafkannya?
Masing-masing orang tentu berbeda dalam menyikapi hal ini.
Sebagian ada yang memilih berdamai dengan rasa sakit yang pernah diterimanya, akan tetapi tak sedikit pula yang menolak memaafkan lantaran luka dan sakit hati yang ditinggalkan sangat membekas di lubuk hati terdalamnya.
Tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena kita memiliki pengalaman dan proses emosional yang berbeda-berbeda.
Rini (40, bukan nama sebenarnya) memahami betul dilema itu.
Kepada Diajeng, Rini bercerita bahwa ibunya meninggal dunia tanpa pernah memaafkan sang ayah.
Selama bertahun-tahun, ibu Rini merasa diperlakukan tidak adil oleh suaminya yang memiliki dua istri. Menurut cerita sang ibu, sejak awal berkenalan, sang ayah tidak pernah jujur mengenai pernikahan pertamanya.
Setelah berumah tangga, ketidakadilan terus dirasakan, mulai dari pembagian nafkah hingga perhatian kepada anak-anak.
"Anak Papa dari Mama itu ada empat, aku paling besar dan adikku tiga. Kalau istri Papa yang pertama, anaknya cuma satu. Melihat jumlah anak saja pasti sudah paham ya bagaimana seharusnya pembagian yang merata ke anak-anak," ujar Rini.
Namun, yang terjadi, lanjut Rini, justru sebaliknya. Di awal, ibunya Rini mencoba untuk terus sabar. Sayangnya, sang ayah masih tetap tidak dapat berlaku adil kepada Rini dan adik-adiknya.
"Misalnya, pembagian uang untuk satu anaknya, itu sama nilainya untuk kami berempat. Terus dalam hal pendidikan, kami yang empat anak dijatah untuk les cuma boleh milih satu, tapi kalau anaknya yang satu lagi itu mungkin semua les dari pelajaran, musik, olahraga, sampai kepribadian semua boleh ikut," cerita Rini.
Rini melanjutkan, "Aku juga agak sakit hati sebenarnya, tapi itu orang tuaku, ya mau bagaimana lagi. Beruntung, Mama adalah ibu pekerja jadi setidaknya bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya tanpa harus bergantung penuh ke Papa."
Hingga ayah Rini meninggal, sang ibu memilih untuk tidak memaafkannya, termasuk menjenguk saat sakit atau mendatangi makam sang ayah.
Rini yang sudah berdamai dengan keadaan akhirnya mencoba meluluhkan hati ibunya agar mau memaafkan biar ayahnya bisa tenang di alam kubur.
Di sisi lain, Ami (34), seorang penyintas kanker serviks, mengambil jalan berbeda.
Ami memilih memaafkan mantan suaminya yang kini sedang terbaring sakit, meski pernah melakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan meninggalkan luka batin yang mendalam.
"Kelakuan mantan suamiku itu parah. KDRT sudah terlalu sering, tapi aku enggak mau dendam. Biar Allah yang balas," tutur Ami.
"Yang penting ketika aku atau dia meninggal lebih dulu, nanti aku bisa lepas dan enggak ada beban di dada karena enggak mau maafin dia," tukasnya.
Sementara itu Intan (34) bercerita bahwa hubungannya dengan ibu mertua selama ini berjalan kurang baik. Intan mengaku kerap menerima komentar dari sang ibu mertua yang menurutnya menyakitkan.
Demi kenyamanan, Intan memutuskan untuk menjaga jarak dengan memilih untuk tidak terlalu sering bertemu dengan ibu mertuanya yang tinggal di kota berbeda. Keduanya biasanya hanya bertemu sekitar satu tahun sekali saat Idulfitri.
Sampai kemudian, sang ibu mertua mengalami sakit kritis yang berlangsung cukup lama. Melihat suaminya gelisah memikirkan kondisi sang ibu, Intan memutuskan untuk sementara pindah ke kota tempat mertuanya tinggal agar mereka bisa mendampingi dan merawatnya bersama.
Namun, pada saat yang sama, Intan tidak tega melihat kondisi ibu mertuanya yang terus-menerus kesakitan.
"Setiap jam besuk, aku pegang tangannya, terus bacakan doa sambil bilang aku sudah maafkan mama mertua. Tolong yang ikhlas mama perginya, kubilang begitu. Persis di minggu ketiga kami menemani di sana, mama mertua meninggal dunia," lanjut Intan.
Bagi Intan, memaafkan orang yang pernah menyakiti kita bukan berarti memaklumi perilakunya atau menghapus begitu saja pengalaman buruk yang sudah pernah terjadi.
Intan tetap mengingat hal-hal dari ibu mertuanya yang menurutnya perlu dikritisi semasa hidup. Namun, memberikan maaf juga menjadi cara bagi Intan untuk berdamai dengan pengalaman tersebut dan menemukan semacam closure atau penutup bagi hubungan mereka.
Harus Memaafkan atau Tidak?
Menurut psikolog Robert Enright dalam artikel "Can You Forgive a Person Who Has Died?" di Psychology Today, memaafkan seseorang yang telah meninggal tetap mungkin dilakukan.
Meski kesempatan untuk berdamai secara langsung sudah tidak ada, memaafkan dipandang sebagai proses melepaskan kebencian dan keinginan membalas. Hal ini dilakukan demi ketenangan pihak orang yang terluka.
Enright juga menekankan bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan perbuatan yang menyakitkan.
Kita tetap dapat mengakui bahwa diri kita diperlakukan tidak adil, tetapi kita bisa memilih untuk tidak lagi dikuasai oleh kemarahan.
Bahkan, ketika pelaku sudah meninggal dunia dan tidak pernah meminta maaf, proses memaafkan tetap bisa dilakukan jika memang kita yang terluka merasa siap.
Namun, bagaimana jika kita belum mampu memaafkan?
Tidak ada jawaban tunggal atau benar-salah untuk pertanyaan ini. Tidak semua luka selesai hanya karena waktu seseorang di dunia hampir habis atau sudah habis. Memaksakan diri untuk memaafkan malah bisa membuat perasaan menjadi semakin rumit.
Dalam artikel "How to Say Goodbye When Someone You Love Is Dying", YES! Magazine menyarankan bahwa ketika hubungan dengan orang yang akan meninggal dipenuhi konflik, kita tidak harus mengucapkan kalimat yang tidak sesuai dengan isi hati.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh perawat dan edukator perawatan akhir hayat, Barbara Karnes, dalam tulisan "Distancing From the Dying". Kata Karnes, menjaga jarak dari orang yang sedang menghadapi kematian bukan selalu berarti kita tidak berperasaan.
Dalam beberapa situasi, terutama ketika hubungan dipenuhi kekerasan atau pengkhianatan, menjaga batasan merupakan cara yang baik untuk melindungi diri.
Tidak semua orang wajib hadir, berdamai, atau memberikan pengampunan sebelum orang tersebut meninggal atau akhirnya telah meninggal. Yang terpenting adalah mengambil keputusan yang paling sehat bagi diri sendiri.
Memaafkan adalah pilihan yang sangat personal. Bagi Ami dan Intan, memaafkan menjadi cara untuk melepaskan beban yang selama ini memenuhi dada. Sementara bagi ibunya Rini, luka yang dialami begitu dalam sehingga sampai akhir hayat sang ibu belum mampu melakukannya.
Mungkin saja yang penting bukanlah pertanyaan "haruskah memaafkan?", melainkan "apa yang bisa bikin hati kita benar-benar tenang?".
Ada orang yang menemukan kedamaian setelah memaafkan. Ada pula yang memilih berdamai dengan dirinya sendiri lewat ucapan “selamat tinggal” tanpa harus memaksa hati memberikan maaf yang belum siap diberikan. Bagaimana denganmu?
Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih