diajeng.id - Tanpa kita sadari, kebiasaan sepele seperti mengucap "sorry" atau “maaf” pada konteks yang tidak memerlukan penyesalan bisa jadi tidak menyehatkan buat kesehatan mental diri kita sendiri.
Terlalu sering mengucap maaf atau over-apologizing merujuk pada kecenderungan meminta maaf, bahkan sebelum kesalahan benar-benar terjadi atau bahkan tidak ada kesalahan sama sekali.
Pada dasarnya, permintaan maaf merupakan bentuk perhatian kecil yang penting untuk menjaga hubungan. Baik untuk mengakui kesalahan, meredakan kesalahpahaman, maupun menunjukkan kepedulian.
Namun, ketika kata “maaf” mulai digunakan sebagai pelampiasan emosi yang terpendam seperti rasa tidak percaya diri, takut dihakimi, atau perasaan tidak layak mengambil ruang, di situlah batas kewajaran harus mulai dipertanyakan.
Lalu, bagaimana cara untuk mengenali apakah kebiasaan meminta maaf yang kita lakukan ini masih di taraf sehat, ataukah sudah tergolong berlebihan?
Berikut beberapa alasan over-apologize dan tanda-tanda yang perlu kamu perhatikan.
Tanda-tanda Over-Apologize
Tidak semua orang dibesarkan di lingkungan yang memberinya ruang untuk mengekspresikan diri secara aman.
Sebagian dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa cara paling aman menghadapi dinamika dunia yang penuh kejutan ini adalah dengan “mengecilkan diri”. Mulai dari bicara yang pelan, segera meminta maaf, sampai berusaha meredakan konflik sebelum konflik yang dikhawatirkan benar-benar terjadi.
Meski terkesan seperti kelemahan, over-apologizing bisa juga dilihat sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri. Hanya saja, kalau kita terus-menerus memikul tanggung jawab termasuk atas hal-hal yang tidak berkaitan dengan kita, kebiasaan ini berisiko mengikis rasa percaya diri dan membuat kita jadi sulit menjadi versi diri yang autentik.
Di sisi lain, kebiasaan ini juga bisa berkaitan dengan isu personal yang lebih kompleks, seperti rendahnya self-worth atau harga diri, gangguan kecemasan, atau pengalaman traumatis dari masa lalu yang belum tuntas.
Berikut adalah beberapa tanda dan bentuk over-apologize yang, disadari maupun tidak, mungkin sudah pernah atau sering kita lakukan:
- Terbiasa meminta maaf bahkan sebelum mulai bicara, misalnya dengan membuka kalimat “Maaf, tapi…”
- Sering merasa bersalah atas hal yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu, seperti jadwal yang berantakan, suasana hati orang lain, atau ketidaknyamanan kecil yang tidak berhubungan langsung atau berada di kontrolmu.
- Merasa ketakutan berlebihan membuat orang lain kesal, sehingga ikut merasa tidak enak saat melihat orang lain sedang kesal padahal kekesalannya tidak berhubungan denganmu.
- Lebih sering mengucap kata “maaf” alih-alih menyampaikan kebutuhan atau keinginan secara langsung.
- Memberikan penjelasan panjang lebar untuk hal-hal yang simpel hanya agar tidak terjadi kesalahpahaman
- Mudah merasa tidak enak karena khawatir dianggap “mengambil ruang”, baik saat berbicara di rapat, mengutarakan pendapat, maupun saat berada di tengah-tengah keramaian.
Apa yang Bisa Dilakukan Agar Kita Tidak Over-Apologize?
Mengucapkan “maaf” memang penting untuk menjaga hubungan, tetapi tidak seharusnya dilakukan terlalu sering. Apa yang bisa kamu lakukan untuk berhenti meminta maaf secara berlebihan?
1. Sadari Pola Kebiasaan Meminta Maaf
Coba mulai lebih peka terhadap momen ketika kamu menyebut kata "maaf" secara spontan. Perhatikan situasinya, apakah pola ini terjadi saat kamu berbicara dengan orang baru, di tempat kerja, atau dengan orang tertentu saja?
Mungkin kamu bisa membuat catatan kecil di kertas atau di smartphone untuk membantu melihat pola ucapan "maaf" yang selama ini tidak disadari.
Selain itu, gali dan kenali juga alasan di baliknya. Mengapa kamu begitu cepat mengucap "maaf"? Apa kamu khawatir dianggap tidak sopan, terlalu merepotkan, atau terlihat lemah?
2. Pilih Cara Merespons yang Sesuai
Pada orang-orang yang over-apologize, kata “maaf” sering diucapkan secara refleks.
Nah, mulai sekarang, sebelum merespons atau inisiatif mengucap sesuatu, coba ambil jeda sejenak. Pertimbangkan baik-baik kalimat yang akan disampaikan tanpa perlu menggunakan istilah-istilah yang menimbulkan kesan ketidakpercayaan diri.
Misalnya, daripada berkata, “Maaf mengganggu waktunya”, kamu bisa mengawali kalimat dengan, "Permisi," atau, “Boleh minta waktunya sebentar?”
Begitu juga saat kamu tidak bisa membantu atau terlibat ketika dimintai tolong atau diajak melakukan sesuatu. Cukup sampaikan, “Sekarang aku belum bisa," atau “Mungkin lain waktu, ya.” Dengan begitu, kamu tetap terdengar sopan tanpa perlu merasa bersalah.
3. Lebih Welas Asih pada Diri Sendiri
Sekarang, coba bayangkan caramu memperlakukan orang-orang yang kamu pedulikan. Tentunya, kamu tidak menuntut mereka untuk bilang maaf atas hal-hal kecil atau sepele, bukan?
Prinsip yang sama juga perlu kamu terapkan pada diri sendiri. Begitu muncul pikiran negatif seperti takut mengecewakan atau membuat marah orang lain, coba imbangi dengan sudut pandang yang lebih penuh empati untuk dirimu sendiri.
Latih kemampuan berbicara pada diri sendiri dengan hangat dan suportif, seperti kamu menenangkan teman dekatmu sendiri. Seiring waktu, kebiasaan ini bisa membantu membangun kembali rasa percaya diri dan membuatmu lebih nyaman jadi diri sendiri.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih