diajeng.id - Belakangan waktu lalu, sebuah unggahan di linimasa Threads menjadi perbincangan hangat.
Seorang perempuan bercerita tentang gelagat temannya yang terang-terangan naksir pada suaminya.
Semenjak menyadari hal tersebut, si pembuat utas tidak pernah mau diantar oleh suami ketika ada agenda bertemu dengan temannya tersebut.
Menurutnya, jika feeling atau intuisi sudah menangkap unsur-unsur tidak enak, sebaiknya segera terapkan strategi pencegahan yang terbaik demi menjaga rumah tangga.
Salah satu alasan sederhana sekaligus klasik yang sering disampaikan adalah suami orang tersebut dianggap tampan atau memiliki aura "family-man" yang kuat.
Di balik problematika moral dan etis dari situasi tersebut, muncul sebuah pertanyaan menarik. Mengapa beberapa orang merasa tertarik pada sosok yang secara emosional maupun fisik sama sekali tidak tersedia (emotionally and physically unavailable)?
Mengapa Manusia Menginginkan yang Tak Bisa Dimiliki?
Fenomena tersebut bukan hal baru dalam psikologi manusia.
Dirangkum dari Psych Central, Your Tango, dan Psychology Today, ada beberapa alasan kuat mengapa beberapa orang bisa jatuh hati pada sosok yang tidak bisa dimilikinya:
1. Sensasi Perburuan (The Thrill of the Chase)
Bagi beberapa orang, pengalaman ditolak dapat mendorong munculnya rasa rindu yang menggebu-gebu.Secara ilmiah, penolakan romantis menstimulasi bagian otak yang terkait dengan motivasi, penghargaan, kecanduan, dan keinginan kuat.
Pada orang-orang tertentu, mengejar seseorang yang sulit didapatkan memberikan kepuasan ego tersendiri jika mereka berhasil "menaklukkannya".
2. Idealisasi dan Fantasi
Jika orang yang kita sukai tidak tersedia alias tidak bisa kita miliki, kita cenderung tidak melihat sisi nyata atau kekurangan mereka.Sebaliknya, kita membangun citra ideal di dalam kepala kita dengan membayangkan mereka sebagai pasangan yang sempurna tanpa cela.
3. Efek "Cincin Kawin"
Ada kecenderungan manusia untuk lebih tertarik pada orang yang sudah dipilih oleh orang lain. Hal ini didasari oleh keyakinan bawah sadar bahwa jika seseorang sudah memiliki pasangan, berarti ia memiliki kualitas atau gen yang baik yang telah "teruji" oleh orang lain.
4. Validasi Diri dan Harga Diri
Beberapa orang dengan harga diri rendah mungkin merasa bahwa jika mereka bisa mendapatkan seseorang yang "sulit" atau sudah milik orang lain, hal itu akan menambah nilai atau meningkatkan validasi harga diri mereka.
5. Takut pada Keintiman
Suka pada sosok orang yang tidak bisa dimiliki acap kali merupakan bentuk sabotase diri yang tidak disadari.Dengan memilih seseorang yang mustahil didapatkan, kita secara tidak langsung menghindari risiko keintiman nyata dan komitmen yang menakutkan bagi kita sendiri.
6. Luka Masa Kecil
Ketertarikan ini kerap berakar dari trauma masa kecil atau kesulitan menjalin hubungan dengan orang tua, yang membuat seseorang merasa bahwa cinta sejati adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keras atau bahkan tidak layak mereka dapatkan.
Langkah Bijak Saat Jatuh Hati pada Orang yang "Salah"
Jika mendapati diri sedang terjebak dalam perasaan pada orang yang tidak seharusnya, situs Tiny Buddha dan Your Tango memberikan beberapa panduan praktis untuk menyelamatkan hatimu:
1. Jangan Menempatkan Hatimu pada Mereka
Ingatlah bahwa mereka hanyalah manusia biasa dengan segala kekurangannya.Idealisme yang kamu bayangkan tentang sosok tersebut malah berpotensi menjauhkanmu dari kenyataan pahit bahwa hubungan tersebut tidak sehat.
2. Putus Kontak (No Contact)
Cara tercepat untuk beranjak adalah dengan membatasi atau memutuskan komunikasi. Langkah ini membantu otak untuk berhenti memikirkan fantasi tentang mereka dan mulai fokus pada realitas hidup diri sendiri.
3. Percayai Intuisi dan Jangan Abaikan Red Flags
Kalau hatimu merasa ada yang salah, biasanya itu benar. Jangan mengabaikan tanda-tanda peringatan red flag hanya karena perasaan tersebut sudah telanjur dalam.
4. Fokus pada Diri Sendiri dan Perbaiki Luka yang Ada
Alih-alih berusaha "memperbaiki" orang lain atau mengejar cinta yang mustahil, investasikan waktu dan energi untuk diri sendiri. Tanyakan pada diri sendiri mengapa kamu tertarik pada situasi yang menyakitkan ini.
5. Kendalikan Perilaku, Jangan Meminta Maaf karena Baper
Merasa tertarik adalah respons fisiologis yang terkadang tidak bisa dikendalikan, seperti air liur yang menetes saat melihat makanan lezat.Namun, kamu sepenuhnya memiliki kendali untuk tidak bertindak berdasarkan perasaan tersebut.
6. Cari Bantuan Profesional
Kalau perasaanmu berubah menjadi obsesi yang mengganggu kesejahteraan mental, berkonsultasi dengan terapis dan pakar kesehatan mental dapat membantu menormalkan pengalamanmu dan memberikan perspektif baru untuk melepaskan beban tersebut.
Ingat, kita semua adalah manusia yang layak dicintai dengan kasih sayang yang utuh, tersedia, dan saling berbalas.
Simak pula artikel lainnya seputar relasi di sini.
Editor: Sekar Kinasih