diajeng.id - Berdasarkan survei dari Incogni Research pada Juni 2026, sebanyak 55 persen dari 1000 orang mengakui bahwa mereka lebih sedikit mengunggah di media sosial daripada lima tahun lalu.
Dari orang yang sama, 53 persen merasa protektif terhadap siapa yang bisa melihat unggahan di media sosial mereka.
Kalau kamu amati lekat-lekat, media sosial sekarang ini memang tidak lagi ramai oleh unggahan foto atau video yang berisi pengalaman personal.
Di Instagram, khususnya, kita mulai jarang menjumpai teman atau kerabat mengunggah foto atau video dari kehidupan sehari-hari mereka.
Dulu, Instagram dipenuhi kabar dari orang-orang yang kita kenal. Foto liburan, swafoto, makanan, atau sekadar foto iseng bersama teman-teman.
Sekarang, linimasa kita lebih banyak diisi konten hiburan dari kreator, influencer, hingga perusahaan yang beriklan.
Coba perhatikan akun orang-orang yang kamu kenal secara personal. Berapa banyak yang masih rutin mengunggah? Mungkin kamu malah lebih sering menemukan akun yang sudah lama tidak diperbarui, bahkan terakhir mengunggah sesuatu beberapa tahun lalu.
Bobby Allyn dari NPR menyebut tren ini ‘Grid Zero,’ kosongnya profil Instagram karena pemilik akun tidak mengunggah foto atau video apapun.
Gen Z, generasi paling chronically-online saat ini, juga menjadi pendukung tren Grid Zero. Jika ingin mengunggah sesuatu, biasanya mereka melakukannya diam-diam.
Bukan Lagi Ruang yang Aman?
Di balik semangat kemerdekaan berekspresi di media sosial, semesta ini pada esensinya juga ruang yang sarat ketegangan.
Dengan satu sentuhan saja, kita bisa mengunggah foto dan video yang kelak menjadi konsumsi publik: dilihat, dikomentari, dikritisi, diabadikan lewat tangkapan layar screenshot, yang informasinya sangat mudah tersebar ke mana-mana.
Di satu sisi, menyaksikan unggahan orang yang selalu terlihat sempurna bisa menimbulkan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Pada beberapa orang, konten-konten yang mencitrakan kebahagiaan dan kemewahan bisa menimbulkan perasaan kurang percaya diri. Demikian disampaikan oleh remaja 16 tahun Ilvika Sinha di Mumbai, India.
“Aku rasa kita memang tidak seharusnya lihat begitu banyak orang good-looking dan influencer. Melelahkan, karena secara harfiah, semua orang di Instagram selalu berpenampilan menarik. Menurutku, itu juga menambah rasa rendah diri, karena kalau kamu merasa di bawah standar, posting di feed bisa saja terasa sangat mengerikan,” jelas Sinha kepada The Nod Magazine.
Sinha sendiri sudah lama tidak update di Instagram lantaran dulu pernah menerima komentar tidak mengenakkan gara-gara unggahannya.
Komentar negatif menjadi salah satu ancaman terbesar yang bisa didapat saat mengunggah konten pribadi di media sosial. Celotehan spontan dari orang asing di internet saja cukup untuk membuat kita merasa rendah diri.
Dalam konteks itu, grid zero bisa jadi keputusan logis untuk melindungi diri sendiri dari komentar buruk.
Seiring orang-orang mulai tidak mengunggah pengalaman pribadinya, media sosial semakin banyak diisi oleh iklan.
“Semakin kita kehilangan rasa suka terhadap media sosial, semakin jarang kita menggunakannya dengan cara yang menciptakan pengalaman positif bagi orang lain, misalnya dengan berhenti mengunggah sesuatu. Kita masih ada di sana untuk melihat-lihat, tetapi kita berhenti mengunggah, yang membuat linimasa kita terasa lebih seperti iklan raksasa, yang rasanya cukup tidak menyenangkan. Pelan-pelan, semua semakin memburuk,” terang Dr. Constance de Saint Laurent dari Maynooth University, Dublin dikutip dari RTÉ.
Alasan-alasan ini bisa membuat kita semakin berjarak dari media sosial dan kehilangan minat untuk mengunggah apapun yang bersifat personal di sana.
Berkurangnya frekuensi mengunggah foto atau video di Instagram juga mungkin berkaitan dengan hadirnya fitur Story. Melalui fitur ini, update yang kita bagikan hanya bertahan selama 24 jam, dengan audiens yang juga bisa kita batasi.
Dibandingkan unggahan di halaman utama yang sifatnya lebih permanen, Story menawarkan ruang berbagi yang terasa lebih "temporer" atau sementara, kuat dengan sentuhan spontan dan personal, serta terkesan eksklusif.
Hilangnya “Sosial” dari Media Sosial
Jika pun kita ingin mengunggah sesuatu di Instagram, kita tidak bisa menampik bahwa mayoritas konten foto atau video saat ini terasa semakin terkurasi. Kita cenderung tidak lagi mengunggah foto “iseng” atau spontan seperti yang dulu bisa kita lakukan.
“Photo dump”, yang awalnya jadi cara untuk membagikan potongan-potongan realistis dari kehidupan sehari-hari, sekarang cenderung berisi foto-foto yang sudah dipilih dengan hati-hati.
“Menurutku, media sosial tidak lagi terasa sosial, tetapi lebih tentang mengonsumsi konten yang sudah terkomodifikasi. Tentang aspirasi gaya hidup, bukan apa yang sedang terjadi di sekitarmu dan bagaimana kamu terhubung dengan teman dan keluargamu. Bagiku, itu menghapuskan tujuan dari media sosial,” demikian pernah dijelaskan oleh penulis Kyle Chayka dalam wawancara dengan BBC pada 2025 lalu.
Pada satu titik, kita mungkin tidak lagi membuka Instagram semata-mata untuk mencari tahu kabar orang-orang terdekat. Di sisi lain, kita tidak merasa perlu mengunggah sesuatu hanya untuk mengabari orang-orang di sekitar kita.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih