Menuju konten utama
Suicide Prevention Awareness

Menghadapi Masa Sulit: Kamu Tidak Harus Melaluinya Sendirian

Begitu “terpancing” oleh pikiran dan perasaan negatif, kita sangat mungkin mengambil jarak alias menjauh orang-orang terdekat.

Menghadapi Masa Sulit: Kamu Tidak Harus Melaluinya Sendirian
Header Diajeng Suicide Awareness Month. foto/istockphoto

diajeng.id - Tekanan hidup kadang-kadang tidak hanya membuat kita kelelahan, tetapi juga bisa menjauhkan kita dari orang-orang yang sebenarnya peduli dan sayang dengan kita.

Ketika kita sedang menghadapi stres, biasanya muncul pikiran negatif, kecemasan, kemarahan, hingga keinginan untuk menyendiri.

Dalam kondisi seperti itu, dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting untuk membantu kita melalui masa-masa sulit.

Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Mahesa Permana, SpKJ dalam "Seminar & Edukasi Kesehatan Terkini: JANGAN HADAPI SENDIRI: Kenali, Dengarkan, Bantu" yang diselenggarakan RSUP Dr. Kariadi Semarang, Selasa, 15 September 2026 menjelaskan bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku saling berkaitan dalam merespons tekanan.

Begitu “terpancing” oleh pikiran dan perasaan negatif, kita sangat mungkin mengambil jarak alias menjauh dari banyak hal, termasuk dari orang-orang yang selama ini menjadi support system.

Menurut dr. Mahesa, kesehatan jiwa tidak terlepas dari tiga hal, yakni pikiran, perilaku, dan perasaan.

Semua fenomena perilaku manusia, baik sehat maupun sakit, merupakan hasil interaksi dari nature (biologi) dan nurture (semua stimulus rangsangan pembelajaran, pengalaman yang diperoleh dari lingkungan).

Kehidupan kita sehari-hari tidak selalu berjalan mulus, ada kalanya kita dihadapkan pada situasi-situasi sulit atau musibah. Ketika itu terjadi, kita akan menunjukkan berbagai respons, ada yang awalnya akan marah, denial atau menyangkal, bersikap tawar menawar, depresi, hingga ada yang mau menerima.

"Contohnya saat marah atau ketika mengingkari, ucapan seperti: dokter yang salah, saya enggak bisa terima ini, saya mau cari dokter lain. Kemudian bargaining atau tawar menawar dengan mengatakan: boleh enggak saya minum obatnya satu kali sehari aja? Lalu setelah itu akan muncul fase depresi dengan menganggap dirinya tidak berguna (ini yang perlu diwaspadai), sampai akhirnya ada kondisi menerima," jelas dr. Mahesa.

Apabila kita sudah di tahap menerima, artinya kita telah berhasil beradaptasi dengan stres yang didapatkan.

Stressor atau sumber stres tidak selalu berupa persoalan besar. Seperti disampaikan dr. Mahesa, pengalaman yang dapat memicu stres bisa berasal dari berbagai situasi, mulai dari kekerasan atau konflik yang terus terjadi dalam keluarga, kondisi penyakit, hingga keadaan ketika seseorang tidak dapat bersekolah.

Di sisi lain, persoalan sehari-hari yang kelihatan sepele, seperti kekhawatiran terhadap masa depan maupun konflik dengan orang lain, dapat menjadi tekanan apabila terus membebani pikiran dan perasaan.

Kemampuan untuk mengenali tanda-tanda bahwa kita kewalahan menjadi hal penting. Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar.

Sebab, ketika kita atau orang di sekitar kita mulai kesulitan menghadapi tekanan, kehadiran pihak lain yang mau melihat, mendengarkan, dan memberikan dukungan akan menjadi faktor krusial dalam upaya pencegahan krisis.

Cara Menjadi Pendengar dan Pendamping yang Baik

Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian Psikolog Klinis Nurul Firdausi. Dalam sesi seminar berikutnya, Nurul membahas pentingnya kita tidak tinggal diam ketika melihat teman kita sedang berjuang.

Dukungan awal yang dapat kita berikan, kata Nurul, adalah kemauan untuk mendengarkan dan mendampingi seseorang yang sedang berjuang.

"Keterampilan dan pengetahuan awal diperlukan untuk bisa membantu orang yang dalam keadaan krisis supaya menjadi lebih tenang untuk menghaadapi masalah ini," ucap Nurul.

Nurul melanjutkan, ada enam hal yang bisa dilakukan; pertama memerhatikan kebutuhannya, kedua melindungi orang tersebut dari bahaya lebih lanjut, ketiga menenangkan dan membantu mereka untuk merasa aman.

Keempat menyediakan dukungan emosional, kelima memberikan perawatan dan dukungan praktis, dan keenam membantu mengakses informasi, dukungan sosial, serta layanan lain yang dibutuhkan.

Terkait kasus percobaan bunuh diri, Nurul memberikan tiga langkah yang perlu kita lakukan, pertama adalah mendorong mereka untuk mencari bantuan profesional sekaligus menawarkan diri untuk menemaninya.

Hal kedua adalah mencari bantuan profesional, akan tetapi jika kondisi darurat maka kita perlu langsung hubungi hotline krisis dan keluarganya. Terakhir, pastikan mereka tidak memiliki akses ke benda tajam.

Tips Mendengar Teman yang Sedang dalam Masa Sulit

Kemudian, apa yang bisa kita lakukan ketika situasi teman kita sudah lebih tenang?

Nurul memberikan beberapa saran. Pertama, tunjukkan bahwa kita sudah siap mendengarkan ceritanya, lalu berikan kesempatan padanya untuk mengungkapkan perasaannya. Usahakan juga agar kita tetap tenang ketika dia bicara tentang perasaannya, kita cukup fokus mendengarkan.

Menurut Nurul, mendengarkan bukan sekadar menerima setiap kata yang diucapkan, tetapi memberikan perhatian secara utuh agar orang yang sedang berjuang merasa dipahami dan tidak sendirian.

"Hindari menghakimi, membandingkan masalahnya dengan orang lain, memaksanya bercerita, atau buru-buru memberikan nasihat. Dalam kondisi krisis, yang dibutuhkan bukan selalu jawaban atas persoalan yang dihadapi, melainkan seseorang yang bersedia hadir, mendengarkan dengan tenang, dan memberikan ruang untuk mengungkapkan apa yang dirasakan," terang Nurul.

Nurul menegaskan bahwa berbicara mengenai keinginan untuk mengakhiri hidup tidak akan membuat seseorang terdorong melakukannya.

Sebaliknya, membuka ruang percakapan dapat membantunya merasa lebih dipahami dan mengurangi kecemasan yang sedang dirasakan.

Jadi, ketika kita melihat orang terdekat sedang berada dalam tekanan atau krisis, jangan memilih untuk diam atau menjauh.

Kenali tanda-tandanya, dengarkan dengan empati, dan bantu menghubungkannya dengan pertolongan yang tepat. Setiap kehidupan sangatlah berharga, dan kerja-kerja kolektif yang kita upayakan bersama sangatlah krusial untuk mewujudkannya.

Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di sini.

Catatan: Depresi itu nyata dan bukanlah persoalan sepele, tetapi dapat diatasi. Jika kalian merasakan tendensi untuk menyakiti diri sendiri/orang lain atau mengakhiri hidup, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih