Menuju konten utama

Orbiting dalam Relasi: Di Balik Perpisahan yang Tidak Tuntas

Pelaku orbiting masih hadir dalam hidup kita secara digital, tetapi dia tidak berupaya untuk menampilkan diri secara langsung untuk menuntaskan hubungan.

Orbiting dalam Relasi: Di Balik Perpisahan yang Tidak Tuntas
Orbiting dalam Relasi. foto/istockphoto

diajeng.id - Pernah di-ghosting? Di tengah perjalanan relasi romantis atau upaya pendekatan dengan sosok yang kamu sukai, tiba-tiba saja dia menghilang. Jangankan mengabari kondisinya, setiap pesan darimu bahkan tidak pernah dibalas.

Anehnya, ketika kamu membuat Story di Instagram, dia adalah orang paling pertama yang ada di daftar pemirsa. Alih-alih memberikan respons atau tanggapan, dia hadir secara pasif dengan mengintaimu alias lurking lewat media sosial.

Di dalam dunia kencan modern, fenomena ini mulai populer sejak 2018. Istilahnya orbiting.

Apa Itu Orbiting?

Orbiting adalah terjadi ketika seseorang yang masih menjalin hubungan denganmu memutuskan untuk mengakhiri relasi tersebut, tetapi dia masih menunjukkan kehadiran pasifnya lewat media sosial.

"Pelaku orbiting masih terlihat hadir secara digital, tetapi dia tidak berupaya untuk menampilkan diri secara langsung di hidupmu,” ujar terapis hubungan, Channing Richmond seperti dilansir situs Cosmopolitan.

Orbiting berbeda dengan perilaku ghosting yang tiba-tiba tanpa menghilang tanpa meninggalkan jejak, sebab pelaku orbiting masih tetap aktif memantau dirimu di media sosial, baik melihat story, repost, menyukai unggahan, atau memberikan emoji pada unggahan yang kamu bagikan tanpa pernah berusaha berkomunikasi secara aktif.

Kondisi ini secara tidak langsung dapat menciptakan kedekatan psikologis tanpa adanya keterlibatan relasional yang sungguh-sungguh.

Mengapa Seseorang Melakukan Orbiting?

Ada beberapa alasan psikologis di balik perilaku ini. Pelaku orbiting biasanya merasa kesulitan untuk benar-benar berpisah atau memproses akhir dari suatu hubungan.

Melansir The Attachment Projet, alasan pertama dapat dilihat dari gaya keterikatan (attachment style). Orang dengan keterikatan cemas (anxious) atau penghindar (avoidant) cenderung menjaga jarak aman sambil tetap mempertahankan benang koneksi yang tipis.

Alasan lainnya, orang melakukan orbiting karena ingin menjaga pilihannya tetap terbuka, memastikan ketersediaan calon incarannya, atau sekadar mengurangi rasa bersalah karena merasa belum sepenuhnya bisa meninggalkan sosok yang dikencaninya sebelumnya.

Selain itu, masifnya penggunaan media sosial membuat orbiting jadi sangat mudah dilakukan, sebab tidak memerlukan pula komitmen emosional.

Mengapa Rasanya Sangat Menyiksa bagi "Korban"?

Masih mengutip ScanMyLove, dampak paling berat dari orbiting dirasakan oleh pihak yang menjadi sasarannya. Ketika orang yang kita kencani menghilang secara total (ghosting), rasa sakitnya memang nyata, tetapi otak kita setidaknya mendapatkan kepastian untuk memulai proses berduka dan penyembuhan.

Sebaliknya, orbiting menghalangi proses pemulihan tersebut.

Setiap kali nama mereka muncul di notifikasi, maka otak kita menerima sinyal yang saling bertentangan, "Dia masih memantau aktivitasku, tetapi dia enggak mau berbicara dengan aku. Apa artinya masih ada harapan dalam relasi ini?".

Secara neurologis, kondisi ini bekerja seperti dorongan dopamin intermiten (intermittent reinforcement) layaknya mesin slot.

"Kehadiran" yang tidak menentu tersebut mengaktifkan sirkuit harapan sehingga pihak korban terjebak dalam siklus penantian. Situasi ini juga memicu penolakan secara ambigu dan rasa kehilangan yang membingungkan. Ketidakpastian seperti ini jauh lebih sulit diproses oleh otak daripada penolakan yang tegas.

Akibatnya, pihak korban sering mengalami kecemasan mendalam, gangguan tidur, timbul rasa bersalah, hingga terus mempertanyakan apakah mereka telah melakukan kesalahan.

Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai "Korban"?

Jika kamu berada di posisi korban, langkah pertama adalah mengevaluasi perasaanmu sendiri dengan bertanya, "Apakah kehadiran orang ini secara digital membuatku bingung, cemas, atau tertahan?".

Kalau kamu menjawab iya, sekarang waktunya mengambil kendali dan menegakkan batasan (boundaries) demi perlindungan kesehatan mental dirimu sendiri.

Beberapa strategi yang bisa dilakukan saat sedang berada di posisi korban, yang pertama adalah dengan memutus indikator pemicu. Misalnya, matikan notifikasi penonton story, berhenti mengecek daftar viewer unggahan, dan hindari mengintip profil mereka.

Kedua, kamu juga bisa mengaktifkan fitur pembatasan, seperti "Restrict" di Instagram, menyembunyikan story dari orang tersebut, atau membatasi interaksi tanpa perlu konflik terbuka.

Ketiga, pertimbangkan untuk melakukan pemblokiran dengan tegas. Jika kamu masih kesulitan mengabaikan perilakunya dan merasa rentan terjebak dengan harapan palsunya, memblokir akun mereka bisa jadi langkah perlindungan neurologis yang efektif.

Alih-alih menunjukkan dendam, pemblokiran ini lebih tepat disebut sebagai upaya self-care, peduli terhadap kedamaian pikiran kita sendiri.

Ingat, kita berhak mendapatkan perpisahan yang tuntas dan kejelasan hubungan, bukan sinyal samar yang menggantung di udara digital.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih