diajeng.id - Setiap kita membicarakan khazanah sastra oleh penulis perempuan feminis di Indonesia, nama Nh. Dini mustahil dikesampingkan.
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin lahir di Semarang Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Melalui novel-novelnya, seperti Pada Sebuah Kapal dan La Barka, NH Dini kerap mengangkat persoalan kehidupan perempuan, relasi gender, hingga dinamika rumah tangga.
Tema pernikahan menjadi salah satu yang sering dibahas dalam karya-karyanya. Bukan sekadar menampilkan pernikahan sebagai hubungan romantis, Nh. Dini juga mengangkatnya sebagai ruang konflik, pencarian jati diri, dan refleksi posisi perempuan dalam masyarakat.
Dari sini, karya-karya Nh. Dini terasa begitu dekat dan relevan untuk dibahas oleh perempuan dari berbagai zaman, dan masih relevan sampai hari ini.
Novel Pertemuan Dua Hati
Novel Nh. Dini berjudul Pertemuan Dua Hati yang terbit pada tahun 1986 mengulas tema pendidikan dan eksistensi perempuan.
Cerita berpusat pada Bu Suci, seorang guru yang berdedikasi tinggi, serta hubungannya dengan murid bernama Waskito yang dikenal bermasalah.
Alkisah, Bu Suci harus pindah ke Semarang mengikuti tugas suaminya. Sebagai guru, dia fokus pada pekerjaan mengajar yang tentu mengandung berbagai dinamika, termasuk murid nakal.
Waskito dididik dengan penuh kesabaran dan empati sampai anak tersebut perlahan berubah menjadi lebih baik.
Penceritaan dengan sudut pandang orang pertama membuat pembaca dapat merasakan pergulatan batin tokoh utama.
Bu Suci digambarkan sebagai sosok sabar, bertanggung jawab, dan peduli, sedangkan Waskito hadir sebagai anak yang agresif tetapi sebenarnya membutuhkan perhatian.
Interaksi keduanya menjadi inti konflik sekaligus kekuatan utama cerita. Dengan segala permasalahan yang dihadapi Bu Suci sebagai guru, suaminya selalu hadir untuk mendukungnya.
Penyampaian yang sederhana membuat novel ini mudah dipahami.
Secara keseluruhan, novel Pertemuan Dua Hati merupakan karya yang inspiratif karena menekankan pentingnya kemandirian perempuan, kesabaran, empati, dan peran pendidikan dalam membentuk karakter seseorang.
Pergeseran Nilai Patriarki di dalam Novel
Dalam Pertemuan Dua Hati, Nh. Dini menggambarkan pergeseran nilai patriarki dalam pernikahan melalui hubungan Bu Suci dan suaminya yang setara dan saling mendukung.
Pernikahan tidak menjadi penghalang bagi Bu Suci untuk berkarier sebagai guru, melainkan ruang yang memungkinkan dirinya berkembang sebagai perempuan mandiri dan intelektual.
Bu Suci juga tampil sebagai agen perubahan sosial melalui dedikasinya mendidik murid, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan mampu berpikir kritis dan berkontribusi di ranah publik.
Di sisi lain, kehidupan rumah tangganya mencerminkan pembagian peran gender yang adil, keputusan diambil bersama dan tanggung jawab domestik dijalankan secara kolaboratif.
Novel ini menegaskan bahwa relasi egaliter dalam pernikahan membuka peluang bagi perempuan untuk berdaya sekaligus mendorong perubahan sosial yang lebih luas.
Ideologi ibuisme negara sangat digencarkan pada era Orde Baru, yang menekankan peran perempuan sebagai ibu sekaligus pendamping suami.
Memang tidak ada larangan bagi perempuan untuk berkarya di ruang publik, akan tetapi pada waktu sama, cukup kuat narasi yang digaungkan tentang kiprah perempuan di organisasi-organisasi perpanjangan dari institusi tempat suami bekerja, seperti kelompok persatuan istri atau Dharma Wanita bagi istri Aparatur Sipil Negara (ASN).
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih