Menuju konten utama

Podcast, Feminisme, dan Ruang bagi Suara Perempuan

Bukan sekadar media komunikasi, podcast bisa jadi ruang untuk membicarakan isu-isu yang selama ini kurang terdengar, termasuk pengalaman perempuan.

Podcast, Feminisme, dan Ruang bagi Suara Perempuan
Header Diajeng Podcast Feminis. foto/istockphoto

diajeng.id - Belakangan ini, kita semakin sering menjumpai podcast atau siniar yang dibawakan oleh host perempuan.

Topik yang diangkat pun beragam dan tentunya berkaitan dengan realitas kehidupan perempuan, mulai dari kerja perawatan, pengasuhan anak, gender, karier dan ekonomi, pemberdayaan, hingga politik.

Meski demikian, program podcast dengan host laki-laki masih lebih mudah ditemukan di linimasa media sosial. Hal ini bukan tanpa alasan.

Menurut Jessie L. Werner dkk dalam penelitian berjudul “Women in Podcasting: We Should Tune In” (2020), proses produksi podcast pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari industri teknologi yang secara historis lekat dengan budaya maskulin.

Kondisi tersebut turut memengaruhi siapa yang lebih banyak terlihat dan didengar dalam ekosistem podcast. Akibatnya, audiens pun cenderung lebih familier dengan host laki-laki dibandingkan perempuan.

Menurut survei dari Acast pada Februari 2026 terhadap pendengar podcast di Benua Eropa, mayoritas responden mengakui selama ini lebih sering mendengarkan podcast yang dibawakan oleh host laki-laki.

Namun begitu, bukan berarti perempuan tidak mahir dalam menjalankan podcast. Masih melansir temuan dari Acast, sebanyak 63 persen dari 600 responden pendengar podcast menganggap host perempuan bisa membawa perspektif baru lewat siaran-siaran mereka.

Sebagai salah satu bentuk media digital yang cukup mudah diakses, podcast menjadi sarana yang memungkinkan siapa pun untuk menjadi pembawa pesan, tanpa harus selalu menjadi bagian dari institusi media konvensional terlebih dahulu.

“Semakin matangnya format [podcast] ini, aksesibilitas tersebut dapat membantu menantang pola-pola hiburan lama dan membuka jalan menuju lanskap audio yang lebih inklusif," jelas Stacy L. Smith, pendiri Annenberg Inclusion Initiative sebagaimana dilansir dari Forbes.

Terjunnya perempuan ke dunia podcast bisa diapresiasi sebagai inovasi pemberdayaan baru di era digital. Artinya, semakin terbuka pula potensi untuk mengembangkan industri media ini menjadi ruang nyaman bagi perempuan untuk bersuara.

Podcast sebagai Ruang Suara untuk Feminisme

Dalam artikel bertajuk “Taking up sonic space: feminized vocality and podcasting as resistance” (2016), Raechel Tiffe dan Melody Hoffmann menyampaikan bahwa podcast perempuan bisa dikategorikan sebagai bentuk resistensi.

Di dunia yang terlalu sering mengatur cara perempuan berperilaku, terkhusus dalam berbicara, podcast bisa menjadi gerakan untuk melawan norma-norma yang selama ini menindas dan menekan perempuan.

Melalui podcast, tercipta ruang yang memungkinkan perempuan berbicara tanpa dibatasi. Dalam pandangan Tiffe dan Hoffmann, podcast berperan dalam mengambil kembali sonic space atau ruang bersuara yang ditujukan untuk perempuan.

Meski begitu, memiliki platform dan bersuara di dalamnya tetaplah suatu pilihan yang mengundang konsekuensi. Podcaster perempuan pun juga rentan terkena kritisisme dari warganet.

“Kami memahami bahwa dunia podcast bukanlah sebuah utopia, dan selama masih ada internet, akan selalu ada para troll yang merendahkan suara-suara perempuan dan feminis. Namun, kami tetap optimis terhadap potensi ruang podcast bagi suara-suara yang secara tradisional tertindas,” tulis Tiffe dan Hoffmann.

Bagi perempuan, podcast mengikis dinding yang selama ini membatasi kesempatan mereka dalam berekspresi. Dalam hal ini, podcast bukan hanya media komunikasi, tetapi sarana yang memperluas ruang perempuan untuk bersuara.

Sementara itu, Séan Richardson dan Heather Green dalam artikel “Talking women/women talking: the feminist potential of podcasting for modernist studies” (2018) menjelaskan bahwa podcast juga merupakan media pelengkap dalam pembelajaran. Di samping mendengar, membuat podcast adalah proses kritis yang membantu perkembangan pola pikir.

Sebagai media pelengkap, podcast memfasilitasi pola pikir kritis yang mendorong lahirnya diskusi dan dialog. Pola berpikir ini membantu kita menajamkan pandangan yang kuat dan reflektif terhadap realitas tentang ketidaksetaraan maupun penindasan.

“Podcast tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai alternatif dari konferensi atau artikel jurnal, juga bukan sebagai ancaman bagi keduanya, melainkan sebagai perluasan dialog kritis kita yang membuka peluang bagi pendekatan-pendekatan baru [..] Suara yang diucapkan mampu menembus batas-batas, melampaui batasan-batasan halaman,” jelas Richardson dan Green.

Rekomendasi Podcast Feminis

Di daratan Cina, podcast dimanfaatkan sebagai media diskusi para perempuan terkait norma patriarki yang mengakar kuat.

Melansir majalah Time, program Stochastic Volatility yang dibawakan oleh tiga perempuan bernama Shiye Fu, Zhiqi Zhang, dan Jianguo Leng ini membahas topik-topik yang dianggap tabu oleh masyarakat China, dari perawatan fertilitas perempuan dan pembekuan sel telur, sampai eksploitasi seksual yang dialami perempuan karena pakaiannya.

Fu, Zhang, dan Leng berharap pembahasan dalam podcast mereka dapat mendorong lebih banyak diskusi mengenai persoalan perempuan sekaligus mempertanyakan norma-norma patriarki yang masih berlaku di Cina.

Di Negeri Tirai Bambu, podcast dinilai sebagai ruang yang relatif lebih fleksibel untuk membahas isu-isu sosial dibandingkan medium lainnya. Perempuan pun memiliki kesempatan untuk mendiskusikan pengalaman dan persoalan yang selama ini dianggap sensitif di ruang publik.

Program Masala Podcast merupakan contoh lain podcast feminis berbasis di London, Inggris. Podcast yang dibawakan Sangeeta Pillai ini telah memenangkan berbagai penghargaan, seperti Visionary Awards (2021) dan British Podcast Awards (2023).

Masih dalam lingkup topik tabu masyarakat tentang perempuan, Masala Podcast membicarakan tentang tantangan-tantangan perempuan dari budaya masyarakat Asia Selatan.

Dalam tulisannya di The Guardian, Pillai menjelaskan bahwa podcast-nya ditujukan untuk “..membicarakan tentang perempuan Asia Selatan dalam menguasai suara kami, tubuh kami, dan kepuasan seksual kami.”

Selain itu, ada pula The Hidden Economics of Remarkable Woman (HERO). Podcast berbasis di Washington DC, Amerika Serikat di bawah naungan majalah Foreign Policy ini dibawakan oleh Reena Ninan.

Podcast HERO membahas tentang perkembangan ekonomi dari perspektif perempuan. Mereka umumnya mengundang narasumber perempuan yang berada dalam posisi kepemimpinan, perempuan pemimpin muda, sukarelawan, bahkan aktivis.

Mereka mengulas tentang peran perempuan yang cenderung terabaikan dalam ekonomi global. HERO ingin menunjukkan bahwa pemberdayaan terhadap perempuan di seluruh dunia juga berperan penting dalam kemajuan ekonomi global.

Bagaimana dengan preferensimu? Siapa podcaster perempuan favoritmu? Apa program podcast feminis yang materi diskusinya paling kamu nikmati?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Binar
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih