diajeng.id - Saat bertemu sosok tersebut pertama kali, kamu langsung merasa "klik" dan utuh. Dunia seakan-akan berhenti berputar. Kamu cepat akrab dengannya, seolah-olah orang itu sudah kamu kenal lama sekali.
Dalam budaya masyarakat modern masa kini, perasaan "klik" secara instan itu biasanya sering dilabeli sebagai pertemuan dengan soulmate atau belahan jiwa.
Namun, ada sebuah kebenaran pahit yang acap kali terselubung di balik luapan emosional tersebut. Ya, realitasnya, tidak semua koneksi yang intens adalah koneksi jiwa.
Dalam beberapa kejadian, tarikan magnetis yang kita rasakan itu bukan tanda cinta sejati, melainkan sinyal dari trauma yang belum sembuh. Dalam dunia psikoterapi, relasi tersebut disebut dengan istilah woundmate.
Definisi Soulmate dan Woundmate
Dilansir The Good Trade, istilah soulmate menggambarkan adanya hubungan antara dua orang secara autentik. Keduanya terhubung berlandaskan rasa cinta kasih, saling menghormati, dan pertumbuhan emosional yang sehat.
Sementara woundmate adalah hubungan yang didasarkan pada ikatan trauma. Seseorang masuk ke dalam relasi tersebut karena ada luka-luka emosional dari dalam dirinya yang belum sembuh. Hubungan semacam ini sering kali bermula dengan harapan tinggi, akan tetapi seiring berjalannya waktu berisiko menjadi toksik dan memicu trauma.
Lalu, bagaimana kita membedakannya?
Hubungan di dalam woundmate sering kali dimulai dengan sangat semangat atau chemistry yang meledak-ledak dan janji-janji yang terkesan muluk.
Orang yang terlibat di dalamnya cenderung merasa bahwa dirinya telah menemukan "sisi lain" dari diri pasangan barunya karena banyaknya kesamaan, terutama dalam sejarah masa lalu yang sulit. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa itu lama-lama memudar dan perlu diwaspadai.
Tanda-Tanda Woundmate
Tanda utama kita menjalin hubungan woundmate, menurut Thought Catalog, adalah rasa lelah secara emosional. Alih-alih merasa terisi dan damai, yang terjadi justru kita merasa energinya terkuras setelah sering menghabiskan waktu bersama dengan pasangan.
Hubungan ini terasa seperti naik rollercoaster emosional yang melelahkan. Relasi diwarnai dengan pertengkaran hebat yang diikuti oleh rekonsiliasi yang sangat bergairah, akan tetapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah inti.
Dalam dinamika ini, pasangan yang terlibat dalam relasi woundmate merasa harus sering meninggalkan kebutuhan dirinya sendiri demi menjaga hubungan tetap hidup. Selain itu, ada kecenderungan yang memicu rasa tidak aman secara mendalam dalam hidupnya. Mereka seolah-olah "menaburkan garam" di atas luka lama yang pernah dialami, baik secara sengaja maupun tidak.
Secara umum, pihak di dalam relasi woundmate sering merasa dirinya tidak benar-benar dilihat dan dipahami oleh orang lain. Mereka memang akan mendengar pesan-pesan yang disampaikan untuknya. Di satu sisi, mereka kesulitan menangkap makna yang ada di baliknya, sehingga itu akan membuat "pasangannya" lelah karena terus-menerus mencoba menjelaskan.
Dalam beberapa contoh, dapat ditemukan pola love-bombing di awal. Mereka akan memberi perhatian secara berlebihan pada orang incarannya, akan tetapi kemudian tiba-tiba berubah menjadi dingin tanpa peringatan yang jelas.
Kamu juga tidak perlu mempertanyakan seberapa berartinya dirimu bagi pasangan. Sebabm cinta seorang soulmate akan membuat kita merasa aman untuk menjadi diri sendiri yang autentik tanpa perlu berpura-pura.
Mengapa Ada yang Terjebak dalam Woundmate?
Lantas, mengapa ada orang yang bisa terjebak dengan seseorang dalam kondisi woundmate? Ini bisa jadi karena luka tersebut terasa familier bagi orang tersebut.
Dalam laman Psychology Today dijelaskan bahwa kita cenderung menarik pasangan yang mencerminkan rasa tidak aman yang terdalam pada diri kita, seperti perasaan tidak cukup baik atau rasa takut ditinggalkan. Selain itu, kita juga sering keliru dengan menganggap intensitas sebagai keintiman dan kontrol sebagai bentuk kepedulian.
Namun, penting untuk diingat bahwa woundmate bukanlah orang yang akan menemani pasangan selamanya. Peran mereka dalam hidup pasangannya sering kali bersifat spiritual, yaitu untuk menunjukkan bagian mana dalam diri yang masih membutuhkan healing atau penyembuhan.
Mereka adalah cermin yang memantulkan luka-luka lama agar pasangan bisa mulai memprosesnya.
Cinta sejati idealnya menjadi pelabuhan atau "rumah" yang aman, alih-alih prahara yang terus-menerus berkecamuk.
Lepaskanlah apa yang telah menghancurkan diri, agar hati kita memiliki ruang untuk sembuh dan menyambut sosok yang benar-benar akan mendukung kita menyusun kembali kepingan hidup.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih