diajeng.id - Pernikahan tidak pernah benar-benar berjalan seperti dongeng Cinderella.
Di balik komitmen dan cinta, selalu ada perbedaan, ketidakcocokan, dan emosi yang kadang-kadang sulit dikendalikan.
Pertengkaran pun bisa terjadi, termasuk pada pasangan yang telah dikaruniai anak.
Sayangnya, dalam beberapa situasi, luapan amarah itu tumpah begitu saja di hadapan anak, tanpa disadari, tanpa disaring.
Padahal, apa yang dilihat dan didengar anak dalam momen-momen tersebut dapat meninggalkan jejak yang panjang. Maka dari itulah, bertengkar di hadapan anak bukanlah hal yang seharusnya dianggap sepele.
Bukan Soal Bertengkar atau Tidak, Tapi Bagaimana Caranya
Dilansir Gottman Institute, pertanyaannya bukan lagi apakah orang tua boleh berdebat di depan anak. Yang lebih tepat adalah, bagaimana cara orang tua berdebat.
Sesekali berdebat di hadapan anak sebenarnya tidak apa-apa, bahkan bisa jadi arena pembelajaran.
Namun demikian, cara berdebat dan kualitas komunikasi orang tua memegang peran yang sangat besar.
Dampaknya bisa terlihat pada gangguan tidur, prestasi belajar yang menurun, kesulitan fokus, dan dalam jangka panjang, ketidakmampuan mengelola konflik serta membangun hubungan dewasa yang sehat.
Anak belajar tentang konflik bukan dari nasihat, melainkan dari apa yang mereka saksikan.
Pendekatan Gottman menekankan bahwa tujuan konflik bukanlah untuk “menang” atau selalu menyelesaikan masalah secara tuntas, melainkan mengatur konflik dengan sehat.
Dalam konflik yang sehat, kedua pihak merasa didengar, diberi ruang untuk merasakan emosi, memahami sudut pandang satu sama lain, dan mencapai kesepakatan yang bisa diterima bersama.
Beberapa keterampilan penting dalam mengelola konflik sehat antara lain memberi ruang pada emosi agar benar-benar dirasakan dan dilepaskan, mendengarkan secara aktif hingga pasangan merasa didengar, menumbuhkan empati dengan mencoba memahami perspektif pasangan, serta berkolaborasi untuk mencari solusi bersama.
Proses ini hanya bisa terjadi ketika kedua pihak cukup tenang dan hadir sepenuhnya.
Ketika orang tua mampu mengelola konflik dengan cara-cara tersebut, anak bukan hanya menyaksikan perbedaan pendapat, tetapi juga belajar bagaimana emosi diproses, hubungan dijaga, dan masalah dihadapi tanpa merusak koneksi.
Maka, konflik orang tua bisa menjadi berbahaya atau justru bermanfaat, semuanya bergantung pada bagaimana konflik itu dijalani.
Jadi, apakah berdebat di depan anak selalu salah? Tidak selalu. Dalam kondisi tertentu, dengan cara yang sehat, jawabannya tentu bisa, boleh-boleh saja.
Sebuah studi tahun 2013 dari tim peneliti di University of Oregon menunjukkan bahwa konflik orang tua bukan hanya didengar anak, tetapi juga “dirasakan” oleh sistem saraf mereka. Bahkan bayi yang sedang tidur dapat bereaksi terhadap nada suara penuh emosi, terutama kemarahan.
Studi lain dari University of Vermont melaporkan, anak-anak yang tumbuh dalam rumah dengan konflik tinggi berisiko mengalami kesulitan mengelola emosi dan hubungan sosial di kemudian hari. Akibatnya, ketika perbedaan pendapat tak terhindarkan, cara bertengkar menjadi sangat menentukan.
Prinsip Berkonflik dengan Sehat
Berikut beberapa prinsip penting agar konflik tetap sehat dengan mempertimbangkan keberadaan anak-anak yang dinukil dari situs Parents.
Tenangkan diri terlebih dahulu
Fokus pada pernapasan membantu menurunkan intensitas emosi."Tetap tenang, perhatikan pernapasanmu," kata Penny Mansfield, pakar hubungan dan direktur lembaga riset dan inovasi hubungan terkemuka di Inggris, One Plus One.
Cara ini akan membantu untuk tidak kehilangan kendali emosi, sehingga kamu lebih dapat mengendalikan emosi.
Orang tua yang mampu tetap tenang lebih mungkin mengendalikan kata-kata dan perilakunya, sehingga konflik tidak berubah menjadi ledakan emosi yang menakutkan bagi anak.
Dengarkan pasangan dengan sungguh-sungguh Mendengarkan bukan berarti harus setuju. Memberi ruang pasangan untuk menyampaikan sudut pandangnya menunjukkan kerja sama, bukan persaingan.
Anak pun belajar bahwa perbedaan dapat dihadapi dengan saling mendengar.
Tetap fokus pada satu masalah
Mengungkit banyak persoalan sekaligus hanya akan memperpanjang konflik.Menjaga fokus membantu percakapan tetap terarah dan mencegah pertengkaran berkembang menjadi pertikaian yang lebih besar.
Gunakan kata-kata yang tidak menyalahkan
Mengungkapkan perasaan dengan kalimat “aku rasa” atau “aku pikir” dapat menjadi strategi penyampaian emosi yang tidak agresif.Cara tersebut lebih aman secara emosional dan membuka ruang dialog, bukan pertahanan.
Pilih waktu yang tepat
Tidak semua momen cocok untuk membahas konflik.Menunda pembicaraan hingga kedua pihak lebih siap secara mental justru menunjukkan kedewasaan emosional dan kepedulian terhadap situasi keluarga.
Hindari permusuhan dalam bentuk apa pun
Agresi verbal, kekerasan fisik, saling mendiamkan, atau pertengkaran hebat sangat berdampak buruk bagi anak. Bentuk komunikasi ini tidak hanya mengganggu, tetapi juga dapat melukai rasa aman mereka.
Ingat keberadaan anak
Ketika anak mulai ikut terlibat, merasa tertekan, atau berusaha melerai, itu adalah tanda bahwa konflik sudah melewati batas aman.Pada titik ini, orang tua perlu segera menghentikan pertengkaran dan menenangkan suasana.
Konflik yang Melindungi, Bukan Melukai
Dalam sebuah studi besar yang dilakukan 32 tahun lalu tentang konflik antar orang tua dan stres anak-anak, antropolog Mark Flinn dan Barry England menganalisis sampel hormon stres kortisol dari anak-anak di seluruh desa di pantai timur pulau Dominika di Karibia. H
asilnya menunjukkan bahwa tubuh dan otak anak tidak pernah benar-benar “kebal” terhadap konflik orang tua.
Sebaliknya, lingkungan yang tenang dan penuh kehangatan membantu sistem stres anak kembali stabil dan memberi ruang bagi tumbuh kembang yang sehat.
Kabar baiknya, konflik tidak selalu merugikan.
Konflik yang ringan hingga sedang, disertai empati, dukungan, dan upaya kompromi justru memberi perlindungan jangka panjang bagi anak.
Anak-anak yang menyaksikan orang tuanya bertengkar lalu berusaha memahami, bernegosiasi, dan menemukan titik temu, meski tidak sempurna, cenderung memiliki rasa aman secara emosional, keterampilan sosial yang lebih baik, prestasi akademik yang lebih tinggi, dan lebih sedikit masalah psikologis.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau bertumbuh.
Bukan ketiadaan konflik yang mereka perlukan, tetapi contoh bahwa perbedaan bisa dihadapi dengan cara yang aman, dewasa, dan penuh kasih.
Ingin membaca artikel terkait orang tua dan anak yang lainnya? kamu juga bisa mengkliknya di tautan ini: anak-orang tua.
Editor: Sekar Kinasih