Menuju konten utama

Tidak Semua Orang Suka Kita, Memangnya Kenapa?

Merasa tidak disukai orang lain adalah pengalaman jamak setiap orang. Apa yang bisa dilakukan agar kita tidak terlalu terbebani dengan pikiran tersebut?

Tidak Semua Orang Suka Kita, Memangnya Kenapa?
Header diajeng Tidak Disukai Orang. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Tentu rasanya menyenangkan ketika kita tahu bahwa diri kita disukai banyak orang.

Namun, kita hidup di masyarakat dengan berbagai latar belakang dan kepentingan. Tidak mengherankan jika akan selalu ada orang yang tidak suka pada kita.

Bisa saja teman di kampus yang menolak hangout bareng lagi, rekan kerja di kantor yang tiba-tiba bersikap dingin, atau bahkan kolega/kenalan yang sengaja menghindar saat tidak sengaja berpapasan.

Kalau itu terjadi, seketika pikiran kita berkecamuk.

Sembari mencoba mengingat obrolan terakhir sewaktu bersama, kita mungkin juga bertanya-tanya, "Apa aku ada salah ngomong, ya?" atau, "Aku ada salah apa sama dia ya?"

Merasa tidak disukai orang lain adalah pengalaman yang pernah dirasakan semua orang. Meski sifatnya umum, tetapi kondisi ini bikin pikiran lelah dan menguras energi emosional kita.

Lantas, mengapa rasa tidak nyaman ini bisa muncul dan bagaimana kita sebaiknya?

Mengapa Rasa Tidak Disukai Sangat Mengusik Kita?

Dilansir laman Capsule NZ, merasa cemas saat mengetahui ada orang yang tidak menyukai kita sangatlah manusiawi.

Manusia, secara biologis, selalu mendambakan agar dirinya disukai. Keinginan manusia untuk selalu disukai ini sudah ada sejak zaman purba.

Pada masa berburu dan meramu, ketergantungan pada kelompok sangatlah tinggi. Dikucilkan atau tidak disukai oleh kelompok (ostracism) pada masa itu bisa mendatangkan ancaman terhadap keselamatan diri, termasuk kematian.

Di era modern sekarang, meskipun cara hidup kita telah berubah, sebagian besar dari kita tetap menginginkan orang lain untuk "setuju" dengan kita sehingga bersedia mendukung kita. Dengan begitu, kita merasa diterima dan kehidupan pun terasa lebih mudah.

Selain faktor evolusi, ketidaknyamanan kita ternyata juga berkaitan erat dengan rasa aman kita sendiri.

Artikel Kaytee Gillis berjudul "Why Does It Bother Us So Much When Someone Doesn’t Like Us?" di Psychology Today menyebutkan, orang yang tumbuh di lingkungan masa kecil yang sering mengalami penolakan akan sangat peka terhadap perubahan kecil pada sikap orang lain.

Di bawah sadar, otak manusia mengasosiasikan ketidaksetujuan orang lain dengan bahaya nyata. Ketika mengetahui ada yang tidak menyukai kita, menurut Gillis, maka pikiran pun bisa kacau sampai kita merasa cemas berlebihan.

Pada kondisi tersebut, kita biasanya akan mulai mencari tahu; mengecek ulang pesan-pesan yang pernah kita kirimkan ke orang lain dan segera mencari apa pun yang mungkin bisa disalahartikan.

Gillis menceritakan pengalamannya dan minta pendapat suaminya sambil bertanya, "Apa aku pernah bilang hal yang menyinggung perasaan?"

Gillis kemudian mengambil smartphone, mencermati nada bicaranya dan mencari bukti, mencari momen yang tanpa disadarnya mungkin berisi ucapan yang menyinggung orang lain. "Bagaimana jika orang itu salah tangkap dengan yang aku sampaikan," pikir Gillis.

Suaminya lalu mengambil smartphone Gillis, menutupnya, lalu berkata, "Berhentilah terlalu memikirkannya. Apa pun pendapat mereka seharusnya tidak menjadi masalah bagimu. Hal itu tidak mengubah siapa dirimu. Lepaskan saja," saran suaminya.

Bagaimana Cara Menyikapinya dengan Bijak?

Mengetahui bahwa diri kita tidak disukai orang lain adalah perasaan yang tidak mengenakkan. Hal tersebut valid.

Namun, di balik kegelisahan yang muncul dari situ, kita bisa melakukan hal-hal tertentu untuk menjaga diri agar tidak larut dalam kecemasan berlebih.

1. Kenali Reaksi Fisik dan Nilai Situasi

Menurut Dr. Marcia Reynolds di Psychology Today Ireland, langkah yang paling penting adalah mengenali reaksi defensif tubuh kita saat merasa cemas. Coba amati di mana rasa cemas itu termanifestasikan, apakah berupa sesak di dada atau merasakan tegang di pundak.

Tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan sarafmu. Selanjutnya, evaluasi apakah sikap tidak suka orang tersebut benar-benar memengaruhi pekerjaan atau hidupmu.

Jika tidak, lepaskan keinginan untuk disukai olehnya dan tetaplah bersikap netral tanpa membalas kebencian.

2. Atur Emosi dan Ajukan Pertanyaan Realistis

Ahona Guha dalam Psyche Guides menyarankan agar kita berhenti mencemaskan skenario terburuk (catastrophizing).

Ajukan pertanyaan realistis pada diri sendiri, "Seberapa besar dampak ketidaksukaan orang ini terhadap masa depanku?"

Meredakan kecemasan ini bisa dilakukan melalui latihan pernapasan terkontrol (menghirup napas 4 detik, menahan 2 detik, dan mengembuskan 6 detik) atau menulis jurnal.

Jika ketidaksukaan itu dipicu oleh kesalahan yang memang berasal dari dirimu, segeralah meminta maaf secara tulus tanpa mencari pembenaran.

3. Terapkan Batasan dan Tahu Kapan Harus Merelakan

Berdasarkan ulasan di situs Charlie Health, penting untuk mengevaluasi apakah ada perilaku kita yang memicu kesalahpahaman.

Namun, jika ketidaksukaan mereka murni karena perbedaan nilai atau kecemburuan, buatlah batasan yang tegas untuk melindungi kesehatan mental dirimu. Batasan ini bisa berupa membatasi interaksi.

Apabila segala upaya perbaikan tidak dihargai, ketahuilah kapan saatnya merelakan orang yang tidak menyukaimu itu. Alihkan energimu untuk membangun hubungan yang positif dengan orang-orang yang tulus mendukung perkembangan dirimu.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait PERTEMANAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih