diajeng.id - Ada satu waktu ketika orang tua menyadari anaknya menutup diri dari mereka; tidak mau bercerita, ketika ditanya menolak menjawab, memilih bungkam, atau mengelak ajakan orang tua untuk pergi bersenang-senang bersama.
Anak yang pada waktu tertentu jadi tertutup tentang kondisinya dapat membuat orang tua merasa cemas dan frustrasi. Di tengah kegelisahan itu, penting bagi orang tua untuk memahami pesan-pesan emosional dari anak alih-alih menganggap perilakunya sebagai serangan pribadi.
Belajar dari Sikap Anak yang Menutup Diri
Laman Peaceful Parent Institute menyarankan orang tua untuk berefleksi dan memberi kesempatan berempati pada diri sendiri di balik sikap anak yang menutup diri. Meski berat, yakinilah bahwa situasi ini bisa dihadapi dengan baik.
Emosi negatif seperti marah atau merasa ditolak yang muncul dalam diri orang tua sebenarnya adalah petunjuk berharga untuk memahami dinamika hubungan dengan anak.
Alih-alih langsung menghakimi anak yang tiba-tiba jadi diam, orang tua perlu juga mengatur emosi agar stabil. Ketika situasi sudah lebih tenang, ajak anak mengobrol dengan santai dan penuh kasih.
Cari tahu secara bijaksana apa sebenarnya yang mereka inginkan. Anak-anak hanya bisa bekerja sama dan terbuka ketika "tangki emosi" mereka telah terpenuhi.
Mengapa Mereka Menutup Diri?
Anak-anak yang diam dan tak mau terbuka lagi, bukanlah tanpa alasan. Umumnya mereka bersikap seperti ini, melansir Parents, karena ada perasaan takut dihakimi, dihukum, atau disalahpahami oleh orang tua mereka.
Ketakutan terbesar mereka kadang-kadang adalah mengecewakan orang tua yang sangat mereka sayangi.
Pola ini kerap terbentuk sejak dini dan menumpuk. Misalnya, anak merasa ada hal yang tidak sesuai ekspektasi orang tua mereka di masa lalu yang direspons dengan kritik, kemarahan, atau kepanikan orang tua.
Secara tidak sadar, reaksi orang tua seperti itu membuat anak berpikir bahwa situasi akan menjadi lebih aman apabila segala hal dipendamnya sendiri.
Bahkan, niat baik orang tua yang terlalu cepat memberikan nasihat atau mencoba "membereskan masalah" malah berisiko membuat anak merasa tidak didengar dan memilih bungkam.
Di sisi lain, beberapa anak menutup diri hanya karena mereka belum memiliki kosakata emosional yang cukup untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan.
Mengenali Tanda-Tandanya
Masih menukil dari Parents, tanda anak yang tidak nyaman untuk terbuka bisa terlihat jelas meski tidak selalu terang-terangan.
Tanda-tanda yang jelas meliputi sikap mengabaikan, berbohong, menghindari kontak mata, menolak berkomunikasi (stonewalling), atau mengalihkan pembicaraan dengan humor dan sarkasme. Mereka mungkin hanya memberikan jawaban satu kata yang singkat seperti "iya" atau "enggak".
Namun, ada pula tanda-tanda halus yang lebih sulit ditangkap. Sebagian anak mengekspresikan ketidaknyamanan mereka dengan menjadi anak yang sangat penurut (overly compliant), perfeksionis, dan terlalu berambisi menyenangkan orang tua.
Mereka melakukan ini bukan karena mereka adalah "anak yang mudah diatur", melainkan karena rasa takut yang mendalam akan penolakan atau kekecewaan orang tua.
Selain itu, tanda-tanda anak tidak terbuka ini juga terlihat dari kecenderungan terlihat gugup di sekitar orang tua dan hanya bersedia menceritakan hal-hal yang sifatnya hanya di permukaan saja.
Langkah Bijak Saat Jarak Sosial Mulai Berisiko
Jika anak menunjukkan tanda-tanda menarik diri secara konsisten hingga mengarah pada risiko tidak sehat, orang tua perlu menyikapi dengan kepala dingin.
Langkah pertama, menurut situs Mount Behavioral Health di artikel "Strategies to Encourage Emotional Expression When Kids Won't Talk" adalah menenangkan diri sendiri terlebih dahulu. Perhatikan nada bicara, postur tubuh, dan napas kita sebelum mendekati anak.
Selanjutnya, ciptakan momen-momen tenang tanpa tekanan, seperti mengobrol santai di dalam mobil saat perjalanan, menjelang tidur, atau saat melakukan aktivitas kreatif bersama.
Jangan lupa untuk memvalidasi perasaan mereka dengan kalimat hangat misalnya, "Ibu tahu kok, tadi di sekolah kamu capek banget ya, enggak apa-apa kalau belum siap cerita sekarang, masih ada hari esok."
Bagi anak yang sulit berbicara, orang tua bisa menggunakan jalur tidak langsung seperti menulis, menggambar, bermain peran, atau mendongeng bersama.
Selain itu, penting pula bagi orang tua untuk menjaga privasi dan kepercayaan anak dengan tidak menceritakan rahasia mereka kepada orang lain tanpa izin.
Namun, jika anak terus-menerus menarik diri, tidak mau lagi menampakkan sisi emosionalnya, sangat reaktif, atau menunjukkan gejala kecemasan dan depresi yang parah selama berminggu-minggu, ini saatnya orang tua membawa anak menemui psikolog atau terapis.
Terapi oleh profesional akan memberikan ruang yang aman dan netral bagi anak untuk mengekspresikan emosinya sekaligus membantu membangun kembali jembatan koneksi yang sehat antara orang tua dan anak.
Anak-anak tidak butuh paksaan, yang mereka butuhkan adalah kehadiran orang tua yang aman dan penuh kasih sayang.
Artikel lainnya seputar orang tua dan anak juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih