Menuju konten utama

Seperti Teman Indekos: Menelisik Kesepian dalam Pernikahan

Kesepian sering hinggap saat dua orang terjebak dalam rutinitas harian, kesibukan kerja, atau perlahan berhenti membagi sisi paling rentan dari diri mereka.

Seperti Teman Indekos: Menelisik Kesepian dalam Pernikahan
Header diajeng Menikah Kesepian. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Bayangkan, di suatu malam tenang yang diiringi rintik hujan, kamu duduk bersantai dengan pasanganmu di sofa untuk menonton serial drama komedi romantis. Bertahun-tahun lamanya kalian tinggal di atap yang sama, tidur di ranjang yang sama, makan di meja yang sama, akan tetapi di dalam dada, kamu merasa terasing dan sendirian.

Situasi tersebut tentu membingungkan sekaligus menyakitkan; bagaimana mungkin seseorang bisa merasa begitu asing di dekat orang yang paling dicintainya?

Berada di dalam satu ruangan dengan orang yang kita nikahi bertahun-tahun tidak selalu otomatis menciptakan kedekatan emosional.

Ulasan dari situs The Therapy Group "Feeling Lonely in a Relationship: What It Really Means", menjelaskan bahwa kesepian dalam hubungan pernikahan jarang dipicu oleh konflik hebat atau krisis dramatis.

Sebaliknya, kesepian muncul ketika dua orang terjebak dalam rutinitas harian, kesibukan kerja, atau perlahan berhenti membagikan sisi paling rentan dari diri mereka.

Mengapa Kesepian Bisa Terjadi di Antara Pasangan?

Pernikahan yang bergairah dan hangat bisa berubah menjadi "dingin" karena beberapa faktor utama. Faktor pertama kemungkinan terjadi karena adanya pergeseran komunikasi menjadi sekadar logistik. Percakapan yang awalnya berisi impian, harapan, kekhawatiran, dan ide-ide transformatif, berubah menjadi sekadar koordinasi jadwal harian, tagihan, dan urusan rumah tangga.

Dinukil ReachLink, kondisi ini diibaratkan seperti dua orang yang hidup sebagai teman dalam satu kamar kos.

Faktor kedua, karena untuk menghindari konflik. Alih-alih mendapat risiko ketika ingin mengungkapkan perasaan secara terang-terangan, ada orang yang memilih memendam lelah atau kecewa agar tak terjadi pertengkaran. Padahal, dengan cara ini, tembok emosional malah berisiko jadi semakin tebal.

Faktor ketiga, tuntutan peran dan pengaruh teknologi. Pengasuhan anak dan tekanan pekerjaan sering menguras energi. Di malam hari, alih-alih saling menyapa, pasangan cenderung memilih menggulir gawai (doomscrolling) masing-masing di atas tempat tidur.

Selain itu, perbedaan respons gender juga bisa menyebabkan salah satu pihak merasa kesepian dalam pernikahan.

Masih merangkum analisis ReachLink, laki-laki yang merasa kesepian cenderung menarik diri ke dalam pekerjaan atau hobi, sedangkan perempuan sering mengalami kelelahan emosional akibat menanggung beban hubungan sendirian (emotional over-functioning).

Apa Kata Studi Ilmiah?

Perasaan isolasi ini bukanlah imajinasi belaka. Kalau kamu mengalaminya, kamu tidak sendirian.

Berdasarkan survei riset American Association of Retired Persons (AARP) di Amerika Serikat yang dikutip dalam artikel Verywell Mind, hampir 1 dari 3 orang yang menikah (sekitar 30 persen hingga 33 persen) melaporkan merasa kesepian dalam pernikahan mereka.

Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa individu dalam pernikahan yang jauh secara emosional bisa merasa lebih kesepian dibandingkan mereka yang masih lajang.

Studi kesehatan dan psikologi yang terbit di Journal of Social and Personal Relationships (2020) menegaskan bahwa kesepian dalam pernikahan merupakan fenomena klinis yang nyata.

Dari hasil penelitian bahkan terungkap bahwa kesepian kronis dalam hubungan tidak hanya mengganggu kesehatan mental, seperti meningkatkan risiko depresi, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan fisik, mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

Strategi Praktis Menghadapi Kesepian Pernikahan

Kesepian dalam pernikahan bukanlah akhir bahwa hubungan yang sudah kamu bangun bersama pasanganmu telah gagal.

Melansir Verywell Mind, rasa sepi dalam pernikahan merupakan sinyal atau panggilan untuk kembali merawat hubungan. Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan.

Hal krusial pertama yang dapat dilakukan adalah dengan berkomunikasi dan tidak saling menyalahkan. Awali percakapan dengan menyampaikan perasaan sendiri, bukan menyerang pasangan.

Kalimat yang bisa dipakai seperti, "Aku merasa agak ada jarak di antara kita belakangan ini, dan aku kangen sama momen-momen hangat kita,". Kalimat tersebut menekankan pada situasi yang terjadi alih-alih ucapan seperti, "Kamu tidak pernah peduli padaku."

Hal berikutnya yang bisa dipraktikkan adalah membuat momen-momen kecil bermakna. Penelitian ilmiah mengenai "Gottman Method" yang dipublikasikan di PMC/NCBI menunjukkan bahwa hubungan cenderung sulit dipulihkan melalui gestur-gestu megah atau mewah yang frekuensinya jarang, melainkan lewat interaksi-interaksi kecil yang konsisten.

Coba memeluk atau mengecup hangat pasangan sebelum berpisah di pagi hari, ajukan satu pertanyaan bermakna saat makan malam, dan beri satu apresiasi jujur setiap hari.

Penting juga untuk meluangkan waktu khusus tanpa gangguan layar sedikit pun. Sediakan setidaknya 15-20 menit sehari tanpa gawai atau TV untuk memberikan perhatian penuh satu sama lain.

Tak hanya itu, jangan lupa untuk mengelola ekspektasi dan hubungan sosial. Ini artinya kamu tidak akan membebankan seluruh kebutuhan emosional dan sosial hanya kepada pasangan.

Memiliki persahabatan yang sehat di luar pernikahan juga membantu menjaga keseimbangan emosional.

Kalau kamu sudah mengupayakan semua langkah di atas dan merasa belum ada perubahan yang signifikan, pertimbangkan bantuan profesional. Konseling pasangan atau terapi individu bisa jadi solusi mendapatkan ruang aman untuk saling memahami tanpa sikap defensif.

Kesepian dalam pernikahan adalah pengingat bahwa cinta membutuhkan perhatian aktif. Dengan berani jujur dan memulai langkah-langkah kecil, hangatnya hubungan yang sempat meredup sangat mungkin untuk dinyalakan kembali.

Artikel terkait lainnya tentang pernikahan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait PERNIKAHAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih