Menuju konten utama

Bukan karena Orang Tua Malas: Mengapa Balita Diberi Screen Time?

Memberikan waktu screen time kepada anak tentu berbeda fungsinya di setiap keluarga. Ada yang memanfaatkan sebagai hiburan, ada juga agar anak jadi anteng.

Bukan karena Orang Tua Malas: Mengapa Balita Diberi Screen Time?
Header DIAJENG Smartphone Balita. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di era serba teknologi saat ini, salah satu hal yang jamak dilakukan orang tua adalah memberikan gawai atau smartphone ke anak agar anak tenang sehingga tidak mengganggu aktivitas orang tua.

Situasi demikian biasanya ditemui pada orang tua dengan anak yang belum lancar berbicara atau anak di bawah lima tahun (balita). Pemandangan ini terlihat saat mereka sedang sarapan di restoran hotel, ketika berada di mal atau kafe, sedang belanja, dan lain sebagainya.

Vita (30 tahun), seorang ibu pekerja di daerah Yogyakarta dengan satu anak berusia 4,5 tahun bercerita pada Diajeng bahwa dia memberikan screen time untuk anaknya terbatas hanya sekali dalam sepekan.

"Main HP setiap hari Minggu saja, di hari itu bisa dua sampai tiga kali mainan HP. Durasinya antara 30 menit sampai 1 jam biasanya," ujarnya.

Menurut Vita, memberikan anak waktu sesekali untuk menggunakan gawai bertujuan sebagai sarana hiburan di waktu luang. Selain itu, screen time untuk anak juga memberikan kesempatan bagi Vita untuk bersantai sejenak, menikmati waktu libur, atau sekejap melepaskan diri dari penatnya pekerjaan sehari-hari.

"Ya tujuannya memang buat hiburan anak saya, sama biar ibunya bisa santai-santai sebentar meskipun hari Minggu," kata Vita sambil tertawa.

Meski memberi batasan hanya sekali seminggu anak bisa screen time, ia mengaku tidak pernah merasa bersalah ataupun bingung jika tidak memberikan smartphone, sebab dirinya sudah mempunyai aturan yang jelas.

"Menurut saya ini wajar saja, soalnya sudah dijadwalkan. Waktu ngasihnya selalu sama, cuma boleh hari Minggu saja," ucap Vita.

Rasa Bersalah Saat Anak Tak Diberikan Gawai

Lain halnya dengan Dewi Rahayu (37 tahun).

Wiraswata asal Medan yang punya dua anak balita ini menyebutkan bahwa dirinya pernah merasa bersalah ketika tidak bisa memberikan gawai sewaktu anaknya meminta akses untuk bermain smartphone.

"Ya namanya orang tua, ada juga perasaan bersalah sewaktu anak minta HP, tapi saya enggak mau berikan. Tapi itu, kan, memang buat kebaikan anak juga," sebut Dewi.

Dewi mengaku, tontonan yang boleh dikonsumsi anaknya sudah disaring oleh Dewi sendiri.

"Tontonan yang saya perbolehkan ditonton anak saya, sudah saya pilih, yang khusus untuk anak balita, jadi tidak sembarangan menonton. Misalnya video-video seperti nyanyian, video edukasi, atau film kartun online yang memang untuk anak-anak," imbuhnya.

Dewi menambahkan, akses gawai yang dia perbolehkan ke anak adalah saat dirinya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Durasi waktu akses gawai juga dibatasi, yakni satu jam paling lama.

"Paling lama cuma boleh satu jam saja. Tujuannya supaya pekerjaan rumah cepat selesai dan anak anteng. Selain itu, agar anak juga bisa terpantau saat saya mengerjakan pekerjaan rumah, jadi saya perbolehkan screen time HP hanya sesaat," pungkas Dewi.

Keputusan terkait pemberian screen time untuk anak tentu berbeda di setiap keluarga. Di satu sisi, ada pula yang beranggapan bahwa memberikan gawai pada anak balita sebagai bentuk kelalaian orang tua.

Di tengah banyaknya pertimbangan orang tua terkait screen time pada anak usia dini, ada sejumlah panduan internasional yang dapat menjadi rujukan.

Pemerintah Inggris, misalnya, seperti dilansir BBC, menganjurkan orang tua untuk tidak memberikan screentime pada anak di bawah usia dua tahun kecuali screen time tersebut bertujuan untuk mendorong bonding, interaksi, atau obrolan. Sementara pada anak usia 2–5 tahun, cukup screen time satu jam dalam sehari, dan tidak dilakukan saat makan serta waktu sebelum tidur.

Mirip dengan Inggris, pemerintah Australia merekomendasikan nol screen time untuk anak usia di bawah dua tahun dan maksimal satu jam screentime dalam sehari pada anak usia 2-5 tahun. Di luar itu, video-chat atau panggilan video masih di karena termasuk dalam konteks interaksi sosial.

Yang terpenting dari itu semua adalah kualitas interaksi yang menyertai anak dan orang tua: mulai dari menjaga waktu makan dan tidur tetap bebas dari gawai, mengurangi penggunaan layar menjelang waktu tidur, serta tetap menghadirkan percakapan dan kebersamaan dalam keseharian.

Alih-alih terus berdebat tentang benar atau salah, yang perlu dipahami adalah bahwa setiap orang tua memiliki alasan yang valid di balik keputusan mereka, sembari terus berupaya mencari keseimbangan yang terbaik bagi anak dan keluarga.

Simak juga artikel lainnya seputar anak dan orang tua di sini.

Baca juga artikel terkait GAWAI atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih