Menuju konten utama

Mengapa Kita Gampang Baper & Jatuh Hati saat Traveling?

Perjalanan bisa menciptakan kondisi yang membuat kita lebih terbuka terhadap ketertarikan dan koneksi emosional dengan orang asing.

Mengapa Kita Gampang Baper & Jatuh Hati saat Traveling?
Ilustrasi pasangan cinta. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Beberapa waktu lalu, seorang pemilik akun di Threads mengomentari pengalaman perempuan yang baper (bawa perasaan) alias jatuh hati pada laki-laki yang membantunya mengangkat koper di perjalanan naik kereta.

"Semoga pasangan gua gapernah nolong cewek2 deh. Biarin usaha sendiri. Ktimbang ada yg baper. Wkwk kcuali nolong lansia sma ibu hamil," tulis @pureloveee666.

Ada yang menganggap respons tersebut adalah cerminan orang yang insecure. Ada yang senang kalau pasangan laki-lakinya membantu perempuan lain. Ada pula yang menganggap bahwa bapak-bapak perlu memenuhi tangki cinta anak-anak perempuannya supaya tidak mudah baper dengan bantuan sepele dari laki-laki lain.

"Makin banyak utas wanita yg klepek2 perkara dibantuin turunin koper oleh penumpang pria di sebelahnya, atau perkara tabrakan di trans Jakarta.

BAPAK BAPAK!!!! Penuhi lumbung cinta putri2mu! Kasih hadiah, surprise, hangout seru2an berdua! Deeptalk tiap hari, puji dan penuhi kebutuhan kasih sayangnya. Agar ga gampang baper … gragas pada hal sesimpel dibantuin sesama manusia. Lelaki yg membantu itu BELUM TENTU NAKSIR, jangan sampai laki2 jadi ogah bantu karena takut dikira naksir," komentar @ummubalqis.blog menanggapi utas tersebut.

Dari banyak dimensi itu, ada satu hal menarik yang bisa dibahas. Mengapa kita cenderung lebih mudah baper ketika sedang bepergian atau liburan?

Rupanya, perjalanan berpotensi menciptakan kondisi yang membuat kita lebih terbuka terhadap ketertarikan dan koneksi emosional.

Situasi Berbeda Sewaktu Traveling

Dalam artikel Vogue berjudul “Can Travel Make You Fall in Love?”, psikolog Holly Parker menjelaskan bahwa bepergian membawa kita ke situasi atau suasana yang tidak familier.

"Rasa petualangan dan kegembiraan, bisa dibilang turut membangkitkan gairah fisiologis di tubuh. Mengingat bahwa pengalaman yang mengaktifkan secara fisik dapat meningkatkan ketertarikan terhadap orang, gairah fisik yang mungkin dibawa oleh perjalanan juga terasa lebih kuat," ujar Parker.

Bayangkan saja. Di tempat sehari-hari kita berinteraksi seperti di lingkup tempat tinggal atau tempat bekerja, orang yang sekadar menawarkan bantuan mungkin hanya dianggap sedang berbuat baik dan lumrah.

Namun, di tengah perjalanan menuju destinasi yang cukup jauh, kerepotan membawa koper, jenuh menunggu jadwal keberangkatan transportasi, lapar dan lelah di tengah kebisingan bandara atau stasiun yang tidak familier, bantuan sepele dari orang asing bisa terasa sangat berarti.

Kita sedang berada dalam situasi asing atau baru, sehingga perhatian yang diberikan orang lain cenderung lebih mudah mendapatkan tempat spesial dalam ingatan.

Traveling juga membuat kita keluar dari rutinitas dan identitas sehari-hari. Kita tidak sedang menjadi karyawan yang dikejar pekerjaan, anak yang harus memenuhi tuntutan dari keluarga, atau orang yang setiap hari bergelut dengan hal yang itu-itu saja.

Dilansir Pedestrian, ketika berliburan, kita mengambil jarak dari teman, keluarga, pekerjaan, bahkan hubungan masa lalu yang biasanya ikut membentuk cara kita memandang diri sendiri. Akibatnya, kita bisa merasa lebih bebas menjadi versi diri yang berbeda.

Perjalanan Bisa Menciptakan Spontanitas

Perjalanan menciptakan ruang untuk bertemu orang baru tanpa beban kehidupan sehari-hari.

Kita mungkin menjadi lebih spontan saat mengobrol dengan orang asing, menerima ajakan makan, atau sekadar berbagi cerita karena merasa tidak terlalu banyak yang dipertaruhkan.

Selain itu, menurut Paste Magazine, ada pula efek “waktu yang terbatas”. Ketika traveling, kita sering sadar bahwa pertemuan dengan orang lain mungkin hanya berlangsung beberapa jam atau hari. Karena ada kemungkinan berpisah, momen bersama bisa terkesan lebih intens.

Sesuatu yang memiliki “tanggal kedaluwarsa” membuat kita lebih menghargai pengalaman tersebut. Momen pertemuan singkat tersebut bisa jadi lebih indah karena kita tidak sempat melewati fase-fase membosankan yang biasanya muncul dalam hubungan sehari-hari.

Apalagi, suasana perjalanan cenderung menyenangkan; tempat baru, makanan enak, pemandangan, dan pengalaman yang menggembirakan membuat emosi kita berada dalam kondisi positif.

Menurut Parker dalam Vogue, perasaan menyenangkan terhadap sebuah tempat juga dapat membuat kita merasa lebih terhubung dengan orang lain.

"Orang-orang yang memiliki perspektif, pengalaman hidup, dan pengetahuan yang berbeda dari kita, (orang dari wilayah lain yang punya budaya berbeda), dapat memberikan peluang yang sangat besar untuk berkembang," tambahnya.

Itulah sebabnya orang yang biasanya kita temui di lingkup tempat tinggal bisa mendadak tampak menarik ketika ditemui di perjalanan. Sebab, kita sedang melihatnya dalam suasana yang berbeda, pada waktu sama kita pun sedang menjadi versi diri kita yang berbeda pula.

Jadi, kalau saat kita melakukan perjalanan lalu tiba-tiba menganggap ada sosok asing yang begitu istimewa, tidak perlu buru-buru menyalahkan hati.

Bisa jadi, kita memang menciptakan koneksi berarti. Di sisi lain, sebagian rasa itu bisa juga merupakan “efek perjalanan”; kombinasi kebaruan, kebebasan, kegembiraan, kedekatan, dan kesadaran bahwa waktu bersama mungkin terbatas.

Traveling memang tidak otomatis membuat kita jatuh cinta. Namun, perjalanan selalu membuat pintu hati sedikit lebih terbuka. Setelah pulang atau tiba di rumah, kita perlu mencari tahu; yang dibawa pulang itu benar-benar perasaan spesial pada orang lain, atau sekadar kenangan indah dari sebuah perjalanan yang berkesan?

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih