diajeng.id - Kebutuhan untuk didengar dan tantangan membangun kedekatan emosional telah menjadi realitas masyarakat modern. Di tengah rutinitas sehari-hari yang tak terpisahkan dari layar smartphone, percakapan daring pun bisa dijadikan komoditas.
Baru-baru ini, linimasa Threads diwarnai oleh tawaran jasa chat alias mengobrol secara daring. Layanan yang ditawarkan beragam, mulai dari teman sleep call, teman bergunjing, hingga paket untuk percakapan mingguan dan bulanan.
Berbeda dari percakapan organik dalam relasi sosial, pengguna jasa chat tidak perlu mengerahkan investasi emosional sebagai fondasi awal hubungan untuk bisa merasakan pengalaman mengobrol yang akrab. Pengguna cukup membayar nominal tertentu untuk menyewa waktu dan perhatian dari penyedia jasa.
Fenomena ini tidak sepenuhnya baru. Persisnya pada 2020-2022, ketika pandemi COVID-19 membatasi ruang gerak manusia secara langsung, layanan serupa telah berkembang di platform perpesenan digital melalui praktik boyfriend/girlfriend rent. Kita bisa menyewa orang untuk memainkan peran sebagai pacar yang menemani kita mengobrol secara daring di tengah restriksi sosial.
Praktik tersebut di antaranya tumbuh melalui subkultur fandom dari komunitas roleplay yang dipopulerkan penggemar K-pop. Salah satunya pelakunya adalah Tania (22), perempuan asal Depok, yang pernah membuka jasa boyfriend/girlfriend rent saat usinya masih 18 tahun.
Tania mengenal layanan tersebut melalui komunitas roleplay K-pop di Telegram. Dalam komunitas tersebut, penggemar K-pop bermain peran sebagai idolanya atau tokoh terkenal lain. Bagi Tania dan anak-anak muda yang sudah terbiasa memainkan peran sosok idolanya, tidak ada kesulitan berarti untuk memerankan tokoh lain termasuk sebagai kekasih imajiner.
“Lagi masa-masa pandemi… semua orang kesepian, susah nyari pasangan, jadi ya ikutin yang lagi rame di Telegram aja,” lanjut Tania yang mengaku saat itu sedang membutuhkan uang jajan tambahan.
Bagi Tania, ada semacam sense of security atau rasa aman ketika dirinya menawarkan jasa mengobrol daring. Baik pemberi jasa dan pengguna layanan dapat berinteraksi secara anonim. Kedua pihak sama-sama memiliki kendali dan bisa memilih untuk tidak mengumbar data diri atau foto asli masing-masing dalam proses berinteraksi.
Selain kehadiran jasa chat dengan orang yang tak sepenuhnya kita kenal, kita juga kian terbiasa dengan praktik penggunaan Akal Imitasi (AI) sebagai teman curhat. Sepintas, keduanya sama-sama dapat memberikan rasa aman terkait anonimitas dan kerahasiaan.
Apa yang sebenarnya kita cari lewat jasa mengobrol daring? Apakah sekadar teman bicara, atau ada kebutuhan yang lebih kompleks untuk didengar, diterima, dan dimengerti?
Menurut penelitian tersebut, komunikasi daring memungkinkan kita untuk menghindari hambatan-hambatan sosial dan tekanan yang membuat kita tidak percaya diri dan enggan berinteraksi, seperti kekhawatiran terkait usia, penampilan fisik, maupun stigma yang kita rasakan.
Di ruang digital, kita bebas menjadi siapa saja. Saat berinteraksi dengan orang lain secara daring, kita pun dapat memilih untuk menampilkan versi diri apa pun yang kita mau.
Situasi demikian membuat kita lebih leluasa saat membuka diri dan isi hati. Dengan risiko rendah untuk dihakimi oleh orang lain, kita menjadi semakin luwes menyelami topik-topik pembicaraan yang bersifat personal. Interaksi daring antarpengguna yang belum saling mengenal pun dapat mempercepat tumbuhnya keintiman dibandingkan interaksi tatap muka langsung.
Sementara menurut psikolog klinis Dyah Paramita Turner, kemunculan jasa mengobrol daring tidak bisa dipisahkan dari usaha untuk memenuhi ego manusia agar diperhatikan.
“Hubungan sosial yang sehat di dunia nyata idealnya bersifat resiprokal; manusia dituntut untuk seimbang antara mengekspresikan diri dan peduli pada kondisi orang lain. Namun, interaksi berbayar ini sengaja didesain satu arah agar pengguna bisa sepenuhnya berfokus pada dirinya sendiri,” tutur Dyah saat dihubungi Diajeng Tirto pada Kamis (15/10).
Dengan desain semacam itu, pengguna layanan bebas bercerita tanpa harus memikirkan balik masalah pribadi lawan bicaranya. Mereka tidak harus mendengarkan lawan bicara, tak perlu pula merasa bersalah karena sudah terlalu lama berbicara.
Hal tersebut tentu menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka yang mungkin sudah kelelahan menjaga perasaan orang lain sebelum mencurahkan isi hatinya. Bagi mereka yang terbiasa memendam keluhannya, ruang tanpa potensi munculnya komentar-komentar negatif bisa jadi tempat pertama untuk bercurah hati dengan leluasa.
“Layanan transaksional ini berpotensi memiliki strength sebagai ruang aman atau safe space instan untuk sekadar melepas penat tanpa takut dinilai negatif, sekaligus membuka opportunity sebagai media latihan awal guna memulihkan fungsi komunikasi bagi orang dengan kecemasan sosial,” ujar Dyah.
Namun, Dyah mengingatkan bahwa ruang aman yang ditawarkan jasa chat tidak otomatis bebas dari konsekuensi.
Dyah melanjutkan, ketergantungan ini berisiko menurunkan keterampilan interaksi sosial yang asli di dunia nyata. Selain itu, fenomena jasa mengobrol daring dapat menjadi salah satu indikator krisis isolasi global.
“Ya, dari sudut pandang WHO, fenomena ini bisa menjadi salah satu indikator adanya krisis isolasi sosial global yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. WHO secara resmi mengategorikan kesepian kronis sebagai ancaman kesehatan global serius bagi kesejahteraan mental, yang dampaknya setara dengan merokok 15 batang sehari, terutama bagi generasi muda.”
Dyah mengajak kita untuk melihat secara objektif bahwa tren “membeli” teman chatting ini merupakan “solusi kompensasi darurat” yang perlu disikapi secara bijak.
“Jasa ini bisa menjadi pertolongan pertama yang menenangkan saat dukungan sosial sedang tidak tersedia, namun tetap berisiko jika dijadikan sebagai pengganti permanen dari hubungan nyata di tengah masyarakat,” pungkas Dyah.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih