diajeng.id - Meski terkesan sepele, kebahagiaan adalah realitas yang tidak semudah itu dicari, didefinisikan, atau dipertahankan.
Dalam banyak kejadian, kebahagiaan sulit dipisahkan dari irisannya dengan keberadaan pihak lain, entah itu pasangan (suami/istri), anak, sahabat, hingga sanak saudara.
Tentu tak ada yang salah dari itu. Namun, pada satu titik, akan ada momen yang memisahkan. Baik pasangan, anak, orang tua, teman, saudara tidak akan bisa selalu bersama kita selamanya.
Kita sering mendapati bagaimana depresi muncul setelah kehilangan orang yang dicintai, baik karena kematian maupun perselisihan yang berujung pada perpisahan.
Kebahagiaan tersebut bisa, boleh, dan lazim-lazim saja untuk beririsan dengan eksistensi orang-orang yang kita cintai.
Bagaimana sebaiknya kita mengolah kebahagiaan yang tetap berakar kuat di dalam diri sendiri, tanpa perlu selalu dikaitkan dengan eksistensi orang lain?
Mengubah "Blueprint" Kebahagiaan
Salah satu alasan yang bisa membuat kita merasa sakit, stres, frustasi, dan tidak bahagia adalah ketidaksesuaian antara realitas dan hal-hal yang sudah kita rencanakan atau "blueprint" kehidupan.
Banyak orang berpikir, kebahagiaan bisa datang jika sudah menikah, punya pasangan, memiliki anak, punya jenjang karier yang tinggi, dan pencapaian-pencapaian lainnya.
Takut menderita dan takut gagal merupakan faktor-faktor eksternal yang membuat kita cenderung tidak puas.
Tony Robbins dalam tulisan berjudul "A New Blueprint for Happiness" menyarankan kita untuk mengubah blueprint tersebut.
Misalnya, kita tiba-tiba saja diputus atau ditinggalkan oleh orang terkasih. Hidup kita jadi berubah. Maka kita harus berani melepaskan cerita lama dengan menciptakan definisi kebahagiaan yang baru.
Alih-alih bergantung pada keadaan di luar diri, kebahagiaan lebih sering dimaknai sebagai ketenangan batin dan rasa cukup (contentment) yang tumbuh dari dalam diri.
Langkah Praktis Mengolah Kebahagiaan Mandiri
Ada beberapa langkah praktis yang bisa kita olah untuk membangun kebahagiaan yang tidak bergantung pada orang lain:
1. Miliki "Me Time" yang Berkualitas dan Bermakna
Ketika sedang sendiri atau menyendiri, kita sering merasa tidak kenal diri sendiri dengan baik. Akibatnya, tidak jarang kita merasa cemas.Kalau kamu pernah mengalaminya, itu wajar. Setelah kamu memvalidasi perasaan itu, coba untuk mengolah waktu sendiri tersebut menjadi semacam momen eksplorasi.
Sebagai contoh nyata, Mhairi Todd, seorang pakar transformasi di laman Hello Magazine menceritakan pengalamannya saat bercerai.
Todd menggunakan waktu luangnya untuk mencoba berbagai kelas olahraga hingga menemukan jenis exercise yang benar-benar digemari.
Menurut Todd, pengalaman tersebut mengajarinya untuk menikmati kesendirian atau me time dengan berdaya.
"Identifikasi beberapa hobi atau minat yang selalu ingin kamu tekuni dan mulailah membuat janji dengan diri sendiri untuk melakukannya," saran Todd.
2. Fokus pada Validasi Diri Sendiri
Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Alih-alih mencari siapa saja orang yang sering memberimu komentar-komentar bagus, mulailah fokus pada hal-hal yang bikin kamu bangga pada diri sendiri setiap harinya.Kamu bisa juga memulai menulis buku harian atau jurnal dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti, "Apa hal baik yang aku lakukan hari ini? Apa kelebihan yang bisa aku syukuri?"
Semakin kamu menyukai keputusanmu dan nyaman dengan versi diri sendiri, semakin sedikit pula kamu membutuhkan pengakuan atau validasi dari orang lain.
3. Menyusun "Daftar Kebahagiaan" (Happy List)
Kita sering lupa hal-hal kecil sebenarnya bisa meningkatkan mood atau suasana hati.Coba susun daftar yang berisi aktivitas harian yang tidak harus melibatkan orang lain, seperti: menikmati secangkir kopi di pagi hari, mendengarkan musik favorit, atau memberi makan kucing-kucing di jalanan sepulang kerja.
Dengan memiliki daftar kebahagiaan seperti ini, kamu menciptakan semacam "alarm" yang dapat berpengaruh ke mental dan sangat praktis untuk diterapkan ketika sedang merasa kesepian atau jenuh.
4. Mengadopsi Mindset Rasa Syukur
Laman Psychology Spot menegaskan, yang paling memahami kebahagiaan diri adalah diri kita sendiri.Cobalah mencari sisi terang dari setiap situasi yang dihadapi. Setelah menemukannya, latih rasa syukurmu.
Dengan bersyukur atas hal-hal yang sudah kita miliki saat ini, bukan apa yang kita harapkan dari orang lain, kita berhenti menempatkan diri sebagai korban dari keadaan.
Kembali lagi ke diri sendiri, kebahagiaan adalah keputusan pribadi. Kita boleh berbagi kunci kebahagiaan dengan orang lain, tetapi pastikan untuk selalu memegang kunci cadangannya.
Dengan belajar mencintai waktu sendiri, menekuni hobi atau olahraga, membuat daftar kebahagiaan diri, dan terus memupuk rasa syukur, kita sedang membangun fondasi kebahagiaan yang kokoh.
Fondasi seperti ini tidak akan runtuh, bahkan saat orang-orang di sekitar kita harus pergi mendahului atau melangkah ke arah yang berbeda.
Simak juga artikel menarik lainnya di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih