diajeng.id - Setelah lebih dari satu dekade aplikasi kencan seperti Tinder atau Bumble menawarkan pengalaman praktis untuk mencari teman kencan, tibalah sejumlah penggunanya di titik kejenuhan.
Di balik ragam cerita sukses pengguna aplikasi yang menikah setelah mendapatkan jodoh di aplikasi kencan, ada sebagian pengguna lainnya yang memutuskan untuk menghapus aplikasi tersebut.
“Gue main dating apps bukan buat cari pacar sebenarnya, tapi yang gue cari temen chat, temen ngobrol biar ada teman main aja sih,” ujar Naza (23) saat menceritakan alasannya mencoba aplikasi kencan.
Namun, beberapa pengalaman buruk membuat Naza urung melanjutkan pemakaian aplikasi kencan.
“Misalnya udah meet-up ya, di-chat dia biasa aja, tapi ketika kita ketemu ternyata dia gelagatnya kayak mau ngajak gue ke tempat yang lebih private dan komentarin pakaian; lu pake baju ini keliatan banget pinggang lebih kecil. Jatuhnya ke verbal harassment,” begitu kira-kira pengalaman buruk Naza.
Sementara itu, harapan Jihan (24) untuk menemukan pasangan romantis yang serius melalui aplikasi kencan tidak membuahkan hasil berarti.
“Aku berniat nyari pasangan di dating apps. Karena menurutku cari pasangan di real life itu cukup sulit. Kalau pengalaman buruk, behavior orang yang pernah match sama aku kadang nggak senonoh, aku juga nggak dapet orang yang sesuai sama yang aku mau. Harus hati-hati juga sama profil palsu,” ungkap Jihan.
Pemanfaatan aplikasi kencan tidak selalu menjadi pengalaman yang positif. Survei Forbes Health yang dirilis pada 2025 lalu terhadap 1.000 pengguna aplikasi kencan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 78 persen responden setidaknya sesekali merasa lelah secara emosional akibat menggunakan aplikasi kencan.
Seperti Naza dan Jihan, kesulitan menemukan koneksi yang cocok dan kekecewaan terhadap orang yang mereka temui menjadi salah satu penyebab pengguna aplikasi kencan mengalami kelelahan emosional.
Alih-alih mempermudah proses mencari pasangan, pengguna aplikasi dihadapkan dengan puluhan, bahkan mungkin ratusan, profil orang untuk diseleksi. Seiring itu, kepala pun dituntut untuk berpikir keras; siapa yang penampilannya paling atraktif, kepribadiannya sesuai tipe atau tidak, bagaimana menciptakan pick-up line yang menarik supaya tidak diabaikan?
Stres yang dialami pengguna aplikasi kencan digital sudah dibahas dalam banyak penelitian, populer dengan istilah dating app burnout.
Sharabi, Von Feldt, dan Ha dalam studinya di jurnal New Media & Society (2024) pernah melakukan pemantauan selama 12 minggu terhadap 493 pengguna aktif aplikasi kencan di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, hanya 190 partisipan yang menyelesaikan seluruh rangkaian observasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelelahan emosional meningkat seiring berjalannya waktu. Banyaknya pilihan pasangan, interaksi terus-menerus, hingga pengalaman penolakan menjadi beberapa faktor yang berpotensi membuat mental pengguna terkuras dalam membangun hubungan romantis.
Tim peneliti juga menemukan bahwa individu dengan gejala depresi, kecemasan, dan kesepian cenderung merasakan kelelahan emosional yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan social compensation hypothesis; kecenderungan seseorang menggunakan aplikasi kencan untuk menghindari sulitnya membangun hubungan di dunia nyata.
Di tengah kejenuhan inilah, sebagian orang mulai mempertimbangkan format perjodohan langsung yang lebih organik. Ya, kembali ke cara-cara lama ala mak comblang.
Keunikan Jasa Mak Comblang di Era Sekarang
Mak comblang zaman sekarang hadir dengan ciri khas utamanya sebagai komunitas. Salah satunya, Cindo Match. Komunitas yang memiliki booth di dalam gedung mal di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ini secara eksklusif mempertemukan sesama jomblo keturunan Tionghoa.
Di tempat ini, calon pasangan tidak dihadirkan dengan bentuk profil digital, melainkan dipajang dalam bentuk CV fisik di sebuah instalasi booth yang menyerupai etalase. Pengunjung bisa melihat profil peserta lengkap dengan informasi seperti usia dan pendidikan sebelum mereka menentukan siapa yang ingin mereka kenali lebih jauh.
Berbeda dengan fitur swipe, pengalaman mencari jodoh yang difasilitasi seperti ini bisa memberikan sense of genuineness (perasaan asli atau tulus) yang meminimalkan ruang untuk kecewa terhadap potensi catfishing atau penipuan.
Ada pula Please Pair Them. Komunitas yang berbasis di Jakarta ini merangkul grup pertemanan yang masih memiliki anggota jomblo. Alih-alih pihak jomblo mempromosikan dirinya secara langsung di bursa asmara, yang aktif di sini adalah orang-orang yang ingin menjadi “sales” untuk sahabatnya yang masih lajang. Mereka membuat slides dari Microsoft PowerPoint atau Canva untuk mempresentasikan kepribadian, pekerjaan, hobi, hingga hal-hal menarik dari teman jomblo mereka di hadapan orang-orang baru.
Dengan begitu, pihak yang menjomblo tidak harus menjelaskan dirinya dari nol lagi. Acara yang difasilitasi Please Pair Them ini pun bisa jadi solusi bagi jomblo yang sudah lelah secara emosional karena harus mengulang-ulang perkenalan diri setiap mencari pasangan.
Di luar komunitas, belakangan ini juga semakin banyak pengguna media sosial yang berinisiatif menyebarkan profil singkat teman dekat atau keluarganya lewat platform TikTok dan Threads.
Biasanya pemilik akun mengawali kontennya dengan template tulisan yang cukup spesifik dan blak-blakan, “Hi guys I’m looking for cewe muslim for my brother” atau, “Hi guys I’m looking for a boyfriend for my best friend.” Jika formatnya video, biasanya disebutkan pula zodiak, love language, suku, hingga pandangan politik sosok jomblo yang dipromosikan.
Seiring itu, beberapa pengembang aplikasi juga mulai melihat komunitas olahraga sebagai ruang untuk peluang asmara yang sehat secara fisik maupun sosial.
Melansir reportase The New York Times pada Juni 2026 lalu, aplikasi seperti Surf, Leg Day, dan There’s Ateam mengajak penggunanya untuk bertemu pasangan sembari melakukan aktivitas kebugaran, dari exercise di gym sampai kompetisi HYROX.
Berbeda dari first date yang biasanya dihabiskan sambil duduk berhadapan dan mengandalkan pertanyaan-pertanyaan khas first date, pencinta olahraga dapat saling mengenal teman kencan di sela-sela aktivitas olahraga.
Jika pun hubungan romantis gagal dibangun, waktu yang dihabiskan tidak sepenuhnya sia-sia karena peserta tetap dapat manfaat dari aktivitas fisik sekaligus berkesempatan mengenal orang baru lewat komunitas olahraga yang diminatinya.
Faktanya, tantangan dalam mencari jodoh selalu hadir di setiap zaman.
Kalau di masa lalu ruang gerak mencari pasangan lebih terbatas secara geografis karena mobilitas masyarakat yang belum setinggi sekarang, era komunikasi serbadigital melahirkan persoalan baru: dating app fatigue, suatu pengalaman yang semakin jamak dalam masyarakat modern dan tidak memiliki solusi instan.
Mereka yang mencari pasangan melalui aplikasi membutuhkan dukungan mental dan support system untuk menghadapi proses yang penuh ketidakpastian, penolakan, dan kelelahan emosional; tantangan yang tidak terbayangkan dalam pola pencarian jodoh generasi sebelumnya.
Pendekatan mencari jodoh berbasis komunitas seperti Cindo Match atau Please Pair Them memang bisa menjadi angin segar di tengah kejenuhan dan ketergantungan kita pada aplikasi kencan.
Pertanyaannya kemudian, apakah pendekatan cari jodoh seperti ini dapat bertahan dalam jangka panjang, ataukah hanya jadi alternatif sementara di tengah inovasi teknologi yang terus menawarkan cara-cara baru untuk mendapatkan pasangan dan membangun hubungan?
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih