Menuju konten utama
Panduan untuk Mahasiswa Baru

Kuliah Merantau, Memilih Indekos: Antara Bebas dan Mandiri

Pengalaman indekos mengajarkan kemandirian, disiplin keuangan, hingga strategi menghadapi berbagai persoalan tanpa bergantung pada orang lain.

Kuliah Merantau, Memilih Indekos: Antara Bebas dan Mandiri
Header Diajeng Mahasiswa Rantau Indekos. foto/istockphoto

diajeng.id - Baca pengalaman mahasiswa rantau yang tinggal bersama saudara di artikel berikut.

Tinggal bersama kerabat atau saudara saat merantau untuk kuliah di luar kota mungkin terdengar seperti pilihan yang enak dan menguntungkan.

Meski bukan bagian dari keluarga inti, ada relasi persaudaraan yang bisa menjadi "tempat pulang". Dengan menetap bersama saudara ayah-ibu, sepupu, atau kakak-adik, biaya hidup yang ditanggung selama menjalani masa perkuliahan akan jadi lebih ringan. Selain itu, hati menjadi lebih tenang lantaran kamu tidak benar-benar sendirian di kota asing nan baru.

Namun, pengalaman setiap orang tidaklah selalu sama.

Dengan menumpang, ada yang merasa dirinya diterima dengan hangat oleh pihak yang menampungnya. Di satu sisi, ada pula yang beranggapan bahwa kenyamanan, privasi, dan kemandirian memiliki nilai yang tidak kalah penting, sehingga indekos dipandang sebagai pilihan lebih tepat, baik di asrama atau kos-kosan rumah pada umumnya.

Yosefa Putri (22 tahun), mahasiswi Universitas Diponegoro (UNDIP) memutuskan untuk langsung menyewa kamar kos saat menjalani program magang selama 6 bulan di Denpasar, Bali. Padahal, Putri memiliki sepupu yang tinggal di Pulau Dewata.

Ada dua alasan yang menjadi pertimbangannya. Pertama, jarak rumah sepupu di kawasan Kuta menuju lokasi magangnya di Denpasar membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Kedua, dan yang lebih penting, Putri memang ingin merasakan pengalaman hidup mandiri di perantauan.

"Ditambah juga sepupuku ini sudah berkeluarga dan mempunyai anak, terkadang butuh waktu sendiri untuk bisa punya waktu sama diri sendiri dan tanpa dilibatkan dengan urusan pribadi keluarganya," kata Putri.

Bebas Mengatur Hidup Sendiri

Memutuskan untuk indekos memberikan pengalaman tersendiri bagi dirinya. Putri merasakan bagaimana ia bebas untuk mengatur hidupnya sendiri. Mulai dari menentukan jadwal harian hingga kapan ingin bepergian ke tempat yang diinginkan.

"Aku jadi bisa punya waktu sendiri dan bisa pergi kemana pun tanpa harus izin dahulu, dan bisa pulang kapan pun juga. Selama ini, kan, aku di rumah sama keluarga harus izin dan ada jam malam. Tapi kalau di kos, bisa bebas girls night out sama temen-temen dan ya, itu salah satu hal yang aku cari kalau aku hidup merantau, karena semua keputusan ada di diri sendiri jadi bisa lebih bertanggung jawab juga," jelasnya.

Putri melanjutkan, meskipun punya kebebasan saat indekos, tapi itu datang bersama tanggung jawab yang menjadi lebih besar.

Semua kebutuhan sehari-hari harus diputuskan sendiri, mulai dari memilih menu makan, menentukan apakah pakaian akan dicuci sendiri atau menggunakan jasa binatu, hingga mengatur pengeluaran agar tetap sesuai anggaran.

"Tentu ini keputusan terbaik karena menurut aku memang semua itu ada plus minusnya, tapi hidup ngekos sendiri banyak mendatangkan pelajaran buat bisa mandiri dan atau pilihan sendiri," sebut Putri.

Putri mengakui, tinggal bersama saudara memang punya banyak keuntungan, seperti makan yang lebih terjamin, pekerjaan rumah jadi lebih ringan, serta suasana yang dirasakan layaknya seperti berada di rumah sendiri.

"Tapi itu menurutku mirip kaya tinggal di rumah bareng keluarga aja, enggak jauh beda," imbuhnya.

Apabila tujuan utama merantau adalah belajar mandiri, lanjut Putri, pengalaman tersebut tidak akan sepenuhnya didapat ketika masih bergantung pada kerabat keluarga atau saudara.

Maka Putri menyarankan mahasiswa yang memiliki kesempatan merantau, apabila kondisi memungkinkan, cobalah untuk tinggal sendiri, tujuannya agar bisa hidup lebih mandiri.

"Kalau awal-awal seminggu atau dua minggu enggak apa-apa tinggal bareng saudara, tapi enggak usah kelamaan, setelah itu kalo bisa langsung ngekos sendiri aja, pasti banyak hal dan pelajaran yang jauh lebih bisa didapat," saran Putri.

Putri menambahkan, meskipun ia lebih pilih tinggal sendiri di kos-kosan, tapi tetap menjaga hubungan baik dengan keluarganya di Bali.

"Jadi memang sebulan, at least sekali aku agendakan itu untuk bercerita, kumpul bersama, ke gereja bareng dan jalan-jalan juga kadang. Jadi tetap terhubung, tapi tidak yang setiap saat dan saling menghormati pilihan," tutupnya.

Pandangan serupa juga datang dari Audialiy Dewfan atau Audi (21 tahun), mahasiswi Politeknik LPP Yogyakarta asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Meski memiliki saudara di Yogyakarta, ia sejak awal memilih indekos.

Menurut Audi, keputusan tersebut lahir dari keinginannya untuk belajar bertanggung jawab atas kehidupan sendiri tanpa merasa sungkan ataupun khawatir merepotkan keluarga.

"Lokasi kos saya juga lebih dekat dengan kampus sehingga lebih praktis untuk mengikuti kegiatan perkuliahan atau organisasi dibandingkan dengan lokasi rumah saudara," tuturnya.

Audi menyadari bahwa secara finansial tinggal bersama saudara tentu lebih menghemat pengeluaran.

"Tapi hal ini jika terus-menerus dilakukan akan berpotensi memunculkan rasa sungkan yang mendalam dan yang lebih parahnya dapat memunculkan konflik kecil sampai besar yang mengakibatkan ketidaknyamanan dan akan memengaruhi proses perkuliahan. Di mana ketika kita memulai hidup dengan keluarga lain, kita juga harus menyesuaikan diri dengan aturan rumah yang diciptakan keluarga tersebut," terang Audi.

Menciptakan Suasana Kos Sebagai "Rumah" Kedua

Bagi Audi, tinggal sendiri dan jauh dari keluarga awalnya memang bisa menimbulkan rasa kesepian. Namun, sering berjalannya waktu, dirinya yakin bisa menciptakan suasana yang nyaman, sehingga kos terasa seperti rumah keduanya.

"Karena rasa 'rumah' bagi saya tidak harus berbentuk rumah, tetapi adanya rasa aman, nyaman, selalu ingin pulang, dan dikelilingi teman teman dan orang orang baik yang menciptakan suasana rumah walaupun berada di tanah rantau," ujar Audi.

Hingga kini, Audi tidak pernah menyesali keputusannya. Sebaliknya, pengalaman hidup sendiri mengajarkannya banyak hal tentang disiplin, kemandirian, pengelolaan keuangan, hingga menghadapi berbagai persoalan tanpa bergantung kepada orang lain.

"Tentu ada tantangannya, seperti rasa rindu rumah atau harus menghadapi semua masalah sendiri, tetapi itu menjadi proses pendewasaan. Saya bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kenyamanan diri saya sendiri tanpa adanya rasa sungkan dan merepotkan keluarga," kata Audi.

Teruntuk mahasiswa lain yang sedang dihadapkan pada pilihan serupa, Audi menilai tidak ada keputusan yang sepenuhnya benar atau salah. Tinggal di rumah saudara tetap menjadi pilihan yang baik jika sesuai dengan kondisi finansial maupun kenyamanan masing-masing.

"Jika memutuskan untuk ngekos, manfaatkan kesempatan itu untuk belajar mandiri. Namun, jika tinggal bersama saudara lebih sesuai dengan kondisi finansial dan kenyamanan, itu juga merupakan pilihan yang baik. Yang terpenting adalah tetap fokus pada tujuan utama, yaitu menyelesaikan pendidikan dengan baik," pungkas Audi.

Artikel terkait lainnya bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih