diajeng.id - Pada bulan Agustus-September mendatang, angkatan mahasiswa baru akan bersiap-siap menyambut perkuliahan.
Tidak semua calon mahasiswa tinggal di kota yang menjadi tujuannya kuliah. Sebagian besar merantau untuk melanjutkan pendidikannya. Maka sebelum kuliah dimulai, ada banyak keputusan yang perlu dipikirkan, termasuk menentukan akomodasi alias tempat tinggal.
Bagi sebagian mahasiswa, pilihan indekos atau tinggal di asrama tentu menjadi alternatif yang paling umum. Namun, tidak sedikit pula yang memulai kehidupan merantau dengan menumpang di rumah saudara dengan alasan kedekatan keluarga, lebih hemat dari segi biaya, atau sekadar ingin tinggal di tempat yang dianggap lebih aman.
Irna (28), menceritakan bagaimana kehidupannya semasa kuliah beberapa tahun silam.
Kepada Diajeng, ia menuturkan, setelah diterima di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Nasional di Jakarta Selatan pada tahun 2016, Irna tinggal menumpang di rumah kakak kandung sang ayah, yang dipanggil Bude, sampai lulus kuliah.
Pilih "Menumpang", Lebih Terawasi
Rumah Bude Irna hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari kampus. Selain itu, dari segi finansial juga lebih hemat biaya dan orang tuanya merasa lebih tenang karena ada keluarga yang bisa mengawasi jika sewaktu-sewaktu terjadi sesuatu.
"Ayah bilang karena saya perempuan, lebih baik ada yang mengawasi. Lagi pula, Bude sudah seperti orang tua sendiri," kenang perempuan asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini.
Meski demikian, tinggal di rumah saudara bukan berarti tanpa tantangan. Menurut Irna, status sebagai "keluarga" tetap berbeda dengan tinggal di rumah sendiri. Irna harus beradaptasi dengan kebiasaan dan aturan yang sudah berlaku di rumah Bude.
Irna menyatakan, ada banyak kemudahan saat tinggal di rumah Bude, seperti tidak perlu memikirkan harus makan apa, cuci baju bagaimana, pengeluaran juga jauh lebih hemat. Pada waktu sama, Irna sering dilibatkan dalam berbagai acara keluarga, yang membuatnya merasa semakin "diterima".
Anak-anak Bude memiliki jadwal masing-masing untuk menyapu, mengepel, hingga menyetrika pakaian. Irna pun ikut mengerjakan bagiannya sesuai dengan kesepakatan bersama.
"Penumpang" Harus Bisa Menahan Ego
"Karena saya statusnya menumpang, wajar kalau saya juga harus terlibat dalam urusan di rumah Bude. Jadi, sebelum berangkat kuliah, saya usahakan nyapu-ngepel, kadang bantuin setrika juga. Dampaknya, kadang jadi enggak begitu fokus ketika ada tugas kuliah, tapi ya enggak apa-apa, saya tetap bersyukur dan ini sebagai bentuk terima kasih juga," jelas Irna.
Hal lainnya yang jadi pengganjal ketika menumpang di rumah saudara adalah soal ruang pribadi, apalagi ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Alih-alih diutarakan, Irna mengaku lebih memilih diam.
"Ya kalau misalnya ada yang enggak sesuai sama keinginan, saya pasti pendam saja, enggak mungkin diomongin karena sungkan. Sebisa mungkin saya ikuti sesuai aturan di rumah Bude, saya enggak bisa semaunya sendiri," ucapnya.
Irna mengaku, tiga setengah tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa rantau di rumah Bude merupakan pengalaman berharga yang turut membentuk cara berpikirnya sebagai seorang dewasa muda. Setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di Jakarta, Irna pun mengambil keputusan untuk pindah ke indekos, ini lantaran ia merasa saatnya telah tiba untuk belajar hidup lebih mandiri.
"Saya ingin menentukan banyak hal sendiri, tidak terus dibayang-bayangi keinginan orang lain," imbuhnya. "Saya obrolin baik-baik, dan alhamdulilah Bude, meski [karakternya] agak keras, mau memahami juga. Meskipun udah ngekos, saya tetap jaga hubungan baik, seminggu sekali minimal ke rumahnya bawa buah tangan atau jalan-jalan bareng".
Berkaca dari pengalamannya, Irna menilai tinggal di rumah saudara bukan pilihan yang cocok untuk semua orang.
"Kalau yang tipe ingin bebas dan semaunya sendiri, menurut saya enggak cocok tinggal sama saudara, sebaiknya ngekos saja demi menjaga hubungan baik dan menjaga kesehatan mental juga. Tapi kalau masih mau dibilangin dan enggak baperan, masih bisalah tinggal di rumah saudara, tapi balik lagi lihat kondisi juga, terutama finansial dan lain-lain," tukas Irna.
Pengalaman yang tak jauh berbeda juga dialami Ichsan Samanta atau Iksan (23 tahun). Mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2021 itu memilih tinggal di rumah kakaknya selama kuliah, karena berada di kota yang sama, Depok.
Tinggal di Rumah Saudara Lebih Hemat
"Meskipun enggak dekat UI banget, tapi untuk transportasi mudah, bisa naik angkot dan turun di stasiun, terus lanjut ke Stasiun UI dan begitu pula sebaliknya untuk perjalanan pulang. Kalau mau mengekos pun pasti pertanyaannya adalah, 'Kenapa enggak di rumah kakak saja? Kan dekat, biar enggak ngeluarin duit lagi buat kos'," ujar Iksan tentang kenangan awal mula dirinya masuk kuliah.
Dari sisi kenyamanan, Iksan mengaku cukup beruntung. Iksan memiliki kamar sendiri sehingga tetap mempunyai ruang pribadi untuk beristirahat maupun mengerjakan berbagai aktivitas.
"Rumah kakakku udah fully-furnished, dan aku enggak bayar apa pun," ucapnya.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, Iksan mengaku ada konsekuensinya, sebab "menumpang" di rumah saudara artinya harus ikut aturan yang berlaku di rumah itu.
Sambil berseloroh Iksan berkata, "Dukanya.. mungkin bayarnya di sini pake mental hahaha."
Laki-laki asal Tangerang ini mengatakan, dirinya tinggal di rumah kakaknya selama ia menempuh pendidikan, dan setelah selesai masa kuliah, Iksan akhirnya memutuskan untuk pindah ke indekos. Alasannya bukan lagi soal kenyamanan, melainkan tuntutan mobilitas.
"Karena kantorku sekarang ada di tengah Jakarta dan kalau harus pulang-pergi Depok dengan naik KRL itu sangat jauh dan melelahkan, apalagi tahu ya, rush hour Jakarta-Bogor itu kayak gimana," kata Iksan.
Perpindahan itu memang membuatnya harus menanggung seluruh biaya hidup sendiri. Namun, menurut Iksan, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar.
"Aku merasa semuanya jauh lebih positif. Keliling Jakarta dekat karena banyak transportasi umum, bisa pulang kapan saja, dan lebih banyak dapat privasi," ucapnya.
Meski kini memilih hidup mandiri dengan tinggal di indekos sendiri, Iksan tidak lantas menganggap tinggal di rumah saudara sebagai pilihan yang kurang tepat. Menurutnya, opsi tersebut justru sangat cocok bagi mahasiswa yang ingin berhemat, apalagi jika lokasi rumah saudara cukup dekat dengan kampus.
"Buat yang masih bingung, bisa dipertimbangkan lagi hal-hal seperti pengeluaran, jarak perjalanan, sama seberapa banyak kamu mau privasi. Tambahan lagi untuk yang mau sama saudara, seberapa cocok juga gaya hidup kalian, karena berbulan-bulan tinggal pasti akan ada konflik. Jadi akan lebih baik kalau gaya hidup dan gaya komunikasinya sejalan," tutup Iksan.
Baca pengalaman mahasiswa rantau yang indekos di artikel berikutnya.
Editor: Sekar Kinasih