Menuju konten utama

Di Balik Sebutan "Mean Mom": Ibu yang Tegas Tetapkan Batasan

Menuruti setiap keinginan anak tidak sama dengan memberikan kasih sayang. Memanjakan anak secara berlebihan tidak akan mendatangkan kebahagiaan hakiki.

Di Balik Sebutan
Header DIajeng ibu yang galak dan tegas. foto/istockphoto

diajeng.id - Tren pengasuhan anak datang silih berganti, dari yang disebut sad-beige parenting, free-range parenting, attachment parenting, hingga gentle parenting ala selebritas seperti Nikita Willy.

Seiring istilah pengasuhan tersebut bermuncullan, lahirlah berbagai sebutan untuk orang tua, khususnya ibu; sebut di antaranya beta mom, butter mom, atau tiger mom.

Di tengah ramainya narasi tipe-tipe parenting, sejumlah ibu secara sadar memutuskan untuk mengambil peran sebagai versi yang sangat tegas, bahkan tak jarang dicap "galak" dalam menjalankan peran pengasuhan anak sehari-hari. Literatur pengasuhan kerap menyebut sosok tersebut "mean mom".

Apa Itu "Mean Mom"?

Tulisan Erin Leigh berjudul "I unapologetically embrace being a ‘mean mom’—because it’s necessary" di Motherly menjelaskan, "mean mom" pada esensinya bukanlah ibu yang kejam atau galak tanpa alasan.

Menjadi "mean mom", menurut Leigh, berarti menjadi ibu yang berani menetapkan batasan tegas (boundaries) dan konsisten dalam mendidik anak.

Mereka memahami fungsi utamanya di rumah sebagai orang tua yang membimbing anak dan berwibawa di depan anak, alih-alih teman sebaya atau sahabat karib bagi anaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola pengasuhan "mean mom" tecermin dari ketegasannya berkata "tidak" pada anak, termasuk tidak mengikuti seluruh keinginan anak, seperti menolak permintaan bermain terus-menerus serta menjaga batasan pribadi.

Contoh praktisnya; ketika pergi ke restoran bersama, ibu memesan makanan A, sementara anak memesan makanan B. Ketika anak tidak suka makanan pilihannya lalu ingin mengambil makanan ibu, ibu dengan tegas menolak untuk berbagi.

Konsisten pada konsekuensi adalah prinsip yang lekat pada perilaku ibu-ibu tegas ini. Dinukil The Spiring Something, "mean mom" menerapkan aturan batasan peringatan yang tegas, misalnya hanya memberi kesempatan kedua pada kesalahan sama tapi tidak pada kesempatan ketiga, serta memastikan konsekuensi yang jelas jika aturan dilanggar.

Sebagaimana orang tua dengan pola pengasuhan otoritatif, "mean mom" menunjukkan ketegasan ekstra dalam menerapkan kemandirian dan tanggung jawab pada anak, seperti mewajibkan anak membereskan mainan sebelum melakukan aktivitas lain, menjadwalkan mereka secara rutin untuk membantu pekerjaan rumah tangga, bahkan menolak untuk menyediakan menu makanan khusus yang diminta anaknya karena alasan kesehatan atau tidak pada waktunya.

Di tempat umum, "mean mom" tidak segan untuk membatalkan playdate atau mengajak anak pulang lebih awal dari acara jika anak menunjukkan perilaku tidak sopan atau tantrum.

Alasan di Balik Pilihan Menjadi "Mean Mom"

Apa alasan ibu-ibu memilih untuk menjadi sosok yang terkesan "galak" dan menerima lirikan sebal dari anak sendiri?

Melansir laman Scary Mommy, alasan pertama karena gentle parenting tidak selalu efektif untuk semua anak. Nyatanya, tidak semua anak merespons pendekatan pengasuhan yang lembut atau berorientasi pada koneksi emosional semata. Dalam beberapa situasi, ketegasan dan instruksi lebih mempan.

Selain itu, ketegasan dari "mean mom" dapat mencegah anak tumbuh menjadi sosok yang manipulatif. Anak-anak pada dasarnya cepat menangkap karakter orang tua yang terlalu membolehkan, sehingga mereka memanfaatkan situasi tersebut untuk mendapatkan yang mereka kehendaki.

Alasan berikutnya, menyadarkan anak tentang realitas dunia. Sejak dini, anak perlu memahami bahwa dunia tidak selalu berputar di sekitar keinginan mereka saja.

Pembagian peran yang timpang dalam keluarga juga dapat mendorong ibu mengambil posisi sebagai "mean mom". Di sebagian keluarga, ayah yang santai dan luwes lebih mudah mendapat predikat “ayah keren” (cool dad), sementara ibu memikul tanggung jawab untuk menetapkan batasan dan menegakkan aturan.

Baik karena pilihan sendiri maupun tuntutan keadaan, ibu akhirnya menjadi pihak yang lebih sering berkata “tidak” demi menjaga kedisiplinan anak. Peran inilah yang kemudian membuat ibu lebih mudah dicap sebagai sosok yang "galak" atau "suka marah-marah".

Tujuan dan Ekspektasi Utama

Meskipun sering dilabeli sebagai "ibu paling jahat di dunia" (world's meanest mommy) oleh anak-anaknya karena ketegasannya, ekspektasi utama dari seorang "mean mom" berfokus pada jangka panjang.

Tujuan utamanya, menurut Motherly, adalah membesarkan anak-anak yang sopan, santun, bertanggung jawab, memiliki empati, serta menghormati orang lain ketika mereka dewasa kelak.

Para ibu ini siap mengorbankan "popularitas" mereka di mata anak saat ini demi memastikan anak-anak mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang tidak menyenangkan atau arogan di masa depan.

Mereka percaya bahwa meskipun ketegasan tersebut sempat "merusak kesenangan" anak dalam sehari, hal itu tidak akan merusak masa depan atau kehidupan anak.

Ada harapan besar bahwa kelak anak-anaknya tumbuh dewasa atau menjadi orang tua sendiri, mereka akan memahami dan berterima kasih atas ketegasan ibunya.

"Mean Mom" Bukan Berarti Toksik atau Jahat

Satu hal penting yang wajib ditekankan adalah bahwa menjadi "mean mom" sama sekali tidak sama dengan menjadi ibu yang toksik, jahat, atau bersikap buruk.

Tindakan tegas "mean mom" berakar dari kasih sayang tanpa syarat (unconditional love) dan komitmen untuk melakukan apa yang terbaik bagi anak, meskipun keputusan tersebut tidak populer.

Menuruti setiap keinginan anak tidak sama dengan memberikan kasih sayang. Memanjakan anak secara berlebihan juga tidak akan mendatangkan kebahagiaan hakiki.

Semua ibu adalah manusia. Mereka bisa merasa lelah, merasa bersalah, atau lepas kendali dan berteriak. Namun begitu, mereka tidak ragu untuk meminta maaf dan terus belajar menjadi lebih baik.

Ketegasan ekstra yang dipilih ibu untuk anak-anaknya adalah bentuk keberanian dan cinta untuk membimbing mereka menjadi manusia yang tangguh dan bertanggung jawab.

Artikel lainnya terkait pola asuh anak juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait POLA ASUH ANAK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih