Menuju konten utama
Renungan Diajeng

Melatih Empati di Tengah Lunturnya Rasa Peduli

Dengan berempati, kita ditarik dari gelembung kenyamanan untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kesusahan dan perjuangannya sendiri.

Melatih Empati di Tengah Lunturnya Rasa Peduli
Header diajeng Melatih Empati. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Kita telah tiba di era yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi umat manusia untuk mengekspresikan berbagai isi hati, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, hingga amarah.

Teknologi, terutama media sosial, semakin memudahkan kita untuk menyampaikan perasaan dan pikiran yang kemudian dapat dilihat, dibaca, serta dikomentari oleh khalayak luas.

Pada satu titik, kita mungkin terlena oleh ilusi bahwa segala hal adalah tentang diri kita. Maka, ketika diingatkan tentang pentingnya berempati, kita cenderung menganggapnya sekadar jargon populer tentang perasaan yang penting untuk menjaga relasi dengan sesama.

Menariknya, empati bukanlah sekadar feeling. Empati adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan diasah untuk memahami pengalaman orang lain. Terdengar abstrak? Memang iya, tetapi bukan berarti sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Empati membentuk cara kita memahami diri sebagai manusia dan memperlakukan orang lain. Dengan berempati, kita ditarik dari gelembung kenyamanan untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kesusahan dan perjuangannya sendiri.

Dari pemahaman terhadap pengalaman orang lain, kita bisa menjadi lebih peduli dan peka terhadap kebutuhan dan kesulitan yang selama ini tidak pernah kita lihat atau ketahui.

Kendati demikian, penurunan empati merupakan fenomena yang jamak ditemui sekarang. Kian banyak kita jumpai orang-orang yang menutup diri dari peristiwa yang terjadi di sekitar mereka, bahkan meremehkan perasaan orang lain yang terkena musibah atau tengah berjuang di tengah kesusahan.

Berempati, Proses yang Menguras Energi

Sampai hari ini, kita mengenal setidaknya tiga jenis empati; kognitif, somatik, dan afektif. Empati kognitif merujuk pada kemampuan untuk mengetahui kondisi mental orang lain, empati somatik artinya merasakan reaksi fisik yang dirasakan oleh orang lain, sementara empati afektif adalah memahami cara merespons kondisi emosional orang lain.

Otak manusia memiliki andil dalam membiasakan praktik empati. Menurut studi yang dilakukan Jankowiak-Siuda dkk dalam jurnal Medical Science Monitor (2011), terdapat dua cara otak memproses emosi dan tindakan orang lain.

Mekanisme pertama melibatkan proses otomatis lewat sistem mirror dari neuron. Begitu melihat emosi dari orang lain, otak kita langsung cepat mengikuti emosi yang kita pahami dari orang tersebut.

Kedua, mekanisme yang tidak otomatis atau mekanisme sadar. Mekanisme sadar dimulai dari niat diri sendiri untuk memahami orang lain. Bagian otak yang terlibat yakni prefrontal otak.

Ketika kita sadar tentang emosi dari orang lain, kita berpikir terlebih dahulu reaksi yang tepat untuk orang tersebut. Terdapat pertimbangan dan keputusan tentang tindakan kita selanjutnya. Proses ini dinamakan mekanisme sadar dalam pembentukan empati.

Penelitian di atas menunjukkan bahwa empati bukan sekedar fungsi otak, tetapi ditumbuhkan dari niat dalam diri. Menariknya, kemunculan niat ini acap kali juga terhambat. Akibatnya, empati jadi sulit dibiasakan.

Dari perspektif psikologis, manusia memang memiliki kecenderungan untuk menghindari empati. Daryl Cameron dkk dalam Journal of Experimental Psychology (2019) menemukan bahwa empati merupakan proses yang melelahkan dan menguras energi yang besar.

Empati mengajak kita untuk memahami perasaan orang lain secara mendalam. Kita perlu benar-benar menyelami realitas yang dialami orang lain supaya bisa memprosesnya. Pemrosesan ini bahkan bisa sampai mengorbankan kondisi mental kita sendiri.

Di satu sisi, persepsi yang kita bangun dari pemahaman terhadap pengalaman orang lain belum tentu benar. Kita sangat mungkin keliru menafsirkan pengalaman mereka.

Akibatnya, kita dapat merasa frustasi apabila belum berhasil juga memahami kondisi orang lain. Dalam jangka panjang, menjadi orang yang berempati sangatlah menguras mental.

Di luar itu, empati tetap dibutuhkan dalam relasi sosial kita. Empati penting untuk ditumbuhkan, dalam takaran yang sehat tentunya, demi kebaikan satu sama lain.

Membiasakan Empati

Empati dapat kita biasakan dengan melatih diri untuk senantiasa terbuka terhadap ilmu-ilmu baru dan mengembangkan diri.

Erika Weisz, PhD menjelaskan pada American Psychological Association, “Orang-orang yang meyakini bahwa empati dapat dipupuk akan berusaha lebih keras untuk berempati ketika hal itu tidak muncul secara alami bagi mereka. Misalnya, mereka akan mencoba berempati kepada orang-orang yang tidak mereka kenal atau yang berbeda dari diri mereka, dibandingkan dengan orang-orang yang meyakini empati sebagai sifat tetap."

Menemukan motivasi untuk menumbuhkan empati juga bisa jadi faktor pendorong yang tepat. Motivasi ini menjadi pengingat agar kita senantiasa berempati pada siapa pun yang kita temui.

Menurut Shannon Spaulding dalam artikel ilmiah bertajuk “Empathy Skills and Habits” (2023), cara melatih empati dapat dibagi menjadi dua, yaitu melalui keterampilan empati dan kebiasaan empati.

Keterampilan empati dapat diasah dengan lebih sering mengeksplorasi perspektif orang lain secara imajinatif. Misalnya, membaca buku fiksi dan bermain peran.

Sementara kebiasaan empati merupakan kecenderungan yang sudah tertanam sehingga menjadi rutinitas. Salah satu caranya adalah dengan mengingatkan diri kita sendiri untuk selalu mengedepankan empati dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengingatkan diri untuk berempati, kita melatih empati melalui tindakan spontan dan manusiawi, seperti memerhatikan detail kecil pada orang yang kita temui.

“Ini cuma pengingat kecil untuk melakukan hal-hal yang kurasa sudah diketahui semua orang. Jadi, lain kali kamu mengobrol dengan seseorang, pastikan kamu perhatikan bahasa tubuhnya dan menatap matanya, hal-hal yang sangat mendasar. Atau, ketika berbicara dengan orang lain, bayangkan bagaimana rasanya jika kamu berada di posisi mereka,” pesan Sara Konrath, PhD dalam siniar Speaking of Psychology.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih