diajeng.id - Meskipun tim sepak bola nasional Norwegia gagal melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2026 , Erling Haaland sukses menjadi juara di hati banyak orang.
Haaland menjadi satu dari 100 atlet paling berpengaruh menurut majalah Time. Sebagai seorang striker, Haaland banyak dipuji karena kemampuannya mencetak gol dengan "santai", effortless, atau natural.
Dalam artikel analisisnya tentang sepak terjang Haaland, The New York Times sampai menyebutnya sebagai "striker yang begitu hebat, sampai-sampai dia tidak perlu menyentuh bola" untuk bisa mengubah jalannya suatu pertandingan.
Menariknya, popularitas Haaland tidak hanya berangkat dari kemampuannya yang spektakuler dalam menggiring dan menendang bola ke gawang. Pembawaan diri dan kepribadiannya di luar lapangan ternyata juga menuai kekaguman publik.
Lucu dan Baik Hati: Persona “Sang Terminator”
Di balik penampilannya yang garang saat bertanding, pesepak bola usia 25 tahun yang kerap dijuluki dengan sebutan-sebutan sangar nan maskulin seperti "Cyborg", “Viking”, dan “Terminator” ini memiliki sisi jenaka yang disukai publik.
Unggahan Snapchat-nya menunjukkan humor unik, mulai dari swafoto, meme yang dibuatnya sendiri, sampai caranya menjawab pertanyaan dengan lugas, membuat banyak orang ikut meresponsnya dengan senyuman.
Ketenaran sebagai atlet kelas dunia tidak menghentikan Haaland untuk menjadi versi diri yang autentik. Humor Haaland disambut seperti angin segar di tengah barisan pemain sepak bola yang terkenal bergaya dingin atau cuek.
Media sosial turut memopulerkan citranya sebagai figur yang jujur, apa adanya, dan supel. Gerak-gerik, respons, maupun komentar-komentarnya dianggap mencerminkan spontanitas yang relateable bagi banyak orang, baik penggemar maupun bukan.
Pada wawancara bersama Vogue India, Ira Patil, penggemar Haaland menjelaskan ketertarikannya pada atlet satu anak tersebut.
Kendati bertanding dalam kondisi yang menegangkan dan penuh tekanan, Haaland dikenal sebagai pemain yang cerdas dalam mengontrol emosinya. Sosoknya jarang tersulut amarah di lapangan yang rentan dipenuhi gesekan dan konflik.
Dalam setiap pertandingan, Haaland selalu bisa menempatkan diri untuk melindungi teman satu tim maupun lawan. Di luar lapangan, Haaland juga mampu menjaga komunikasi dan hubungan yang baik dengan para penggemar.
Psikiater Katherine Cullen ikut berkomentar, “Daya tariknya yang luas berkaitan dengan kemampuannya untuk melindungi, pengendalian emosi dan pengendalian diri di bawah tekanan, kebaikan dan kesetiaannya, serta kemampuannya untuk membuat kita tertawa.”
Tidak hanya itu, keputusan Haaland untuk menyebutkan nama ibunya, Braut, dalam jersey miliknya menuai banyak pujian. Meskipun terlihat sepele, langkah ini adalah sebuah apresiasi besar dari Haaland terhadap sang ibunda yang bermakna dalam.
Maskulinitas yang Sehat
Eksistensi Haaland menjadi bukti bahwa sisi lemah lembut seorang laki-laki tidak serta-merta menghapuskan maskulinitas darinya.
Selama ini, maskulinitas sering dibayangi oleh standar-standar toksik. Laki-laki dituntut menghindarkan diri dari sifat-sifat feminin yang membuatnya kurang terlihat maskulin. Asumsi keliru yang beredar selama ini menekankan bahwa, untuk terlihat maskulin, laki-laki harus tangguh, mengintimidasi, bahkan memiliki perilaku agresif.
Maskulinitas toksik membatasi laki-laki untuk mengekspresikan perasaannya sebab itu artinya mereka dianggap lemah. Tekanan dari maskulinitas yang tidak sehat ini pun dapat berdampak pada kesejahteraan mental laki-laki itu sendiri.
Haaland menunjukkan bahwa maskulinitas dapat dilihat dari berbagai sisi. Ia tidak takut untuk menunjukkan kepedulian pada teman satu tim maupun tim lawan. Haaland juga memiliki kemampuan pengendalian emosi yang baik.
Kepribadiannya yang jenaka, baik hati, jujur, hingga caranya untuk selalu merangkul dan melibatkan orang-orang di sekitarnya, justru semakin menguatkan pesona Haaland sebagai laki-laki maskulin.
Menolak tunduk pada maskulinitas sempit yang semata-mata memuja ketangguhan dan citra "tough—keras", Haaland paham bahwa dirinya juga bisa jadi sosok yang diterima masyarakat luas dengan setia pada jati diri pribadi. Nilai-nilai maskulinitas yang sehat pun tumbuh mengiringi.
Maskulinitas sepatutnya menjadi nilai yang positif, alih-alih menuntut. Seperti diintisarikan dari pemaparan Psychology Today, konsep maskulinitas sebaiknya memberi ruang untuk bermacam-macam cara laki-laki dalam mengekspresikan diri.
Pasalnya, sebenarnya ada banyak laki-laki muda menginginkan narasi tentang maskulinitas yang tidak selalu dikaitkan dengan ancaman atau kekerasan, melainkan sebagai kualitas yang dapat mendorong kesejahteraan dirinya sendiri dan relasi-relasi sosialnya.
Popularitas Haaland seharusnya dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mengeksplorasi berbagai sisi maskulinitas mereka, dari spektrum sisi lembut hingga sisi terkuat.
Pada akhirnya, setiap orang berhak mengekspresikan diri tanpa dibatasi oleh definisi sempit tentang bagaimana laki-laki "seharusnya" bersikap. Dari situlah maskulinitas yang sehat benar-benar dimulai. Bagaimana menurutmu?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih