Menuju konten utama

Menemukan Pelarian dan Ruang Berdaya lewat Fiksi Romantis

Sejauh mana para pembaca, terutama perempuan, dapat menjaga jarak dari fantasi tentang relasi problematik dalam fiksi romantis?

Menemukan Pelarian dan Ruang Berdaya lewat Fiksi Romantis
Header Diajeng Novel Romantis. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - “Halah, itu cuma terjadi di novel-novel. Di dunia nyata, nggak ada laki-laki yang mau bersikap begitu.”

Demikian komentar pacar seorang teman ketika mendengar tentang karakter sosok laki-laki dalam novel fiksi romantis yang digemari kekasihnya.

Terlepas dari celetukan yang terdengar sepele tersebut, pada satu titik kita mungkin jadi ikut tergelitik untuk mempertanyakan kembali esensi dari sebuah penciptaan fiksi romantis, genre yang secara statistik lebih banyak digandrungi oleh perempuan.

Dalam sebuah artikel untuk koran The Independent pada 1998, novelis Charlotte Lamb pernah berargumen, “Fiksi romantis adalah satu-satunya bentuk seni yang seutuhnya feminin. Ragam bentuk seni lainnya dibentuk dan didominasi oleh laki-laki.”

Melalui kisah asmara yang ditulis oleh perempuan dan ditujukan untuk perempuan, terciptalah sosok laki-laki “idaman” dengan karakteristik bermacam-macam, dari yang lemah lembut dan vulnerable (rentan), sampai yang sosoknya begitu bergairah, brutal, ekspresif, atau dominan.

Karakter laki-laki tersebut datang silih-berganti mewarnai genre cerita cinta yang dalam perkembangannya juga menjadi semakin beragam, sebut di antaranya romantic-comedy, slow burn romance, dan dark romance.

Begitu luasnya referensi karakter laki-laki yang lahir dari imajinasi penulis perempuan, tidaklah mengherankan kita tiba di satu titik ketika tokoh laki-laki dalam fiksi romantis dilabeli sebagai “asing”, jika bukan khayalan belaka, terutama oleh laki-laki di dunia nyata.

Relasi Problematik dalam Fiksi Romantis

Novel percintaan It Ends With Us karya Colleen Hoover sempat mendulang popularitas pada tahun 2022, tak lama setelah komunitas buku di TikTok alias #BookTok mulai banyak membahasnya.

Seiring itu, It Ends With Us menuai kritik tajam dari kelompok feminis karena isi ceritanya menempatkan sang heroine dalam relasi yang toksik.

Di balik popularitas fiksi romantis yang sarat dengan narasi kekerasan dalam relasi, sedikit mundur ke belakang, kemunculan novel serial fiksi erotis Fifty Shades of Grey (2011) karya E.L James menjadi titik tolak yang menyuburkan subgenre fiksi romantis yang disebut dark romance.

Dark romance secara khusus mengeksplorasi sisi gelap dari cinta dan hasrat. Tidak sedikit pula dark romance yang berkembang dari fanfiction, cerita-cerita yang ditulis penggemar berdasarkan karya sastra atau film yang sudah ada. Fifty Shades of Grey itu sendiri awalnya merupakan fanfiction dari Twilight, franchise fiksi romantis remaja era Milenial.

Karena berangkat dari ruang kreatif yang lebih merdeka, cerita-cerita dark romance baik karya asli atau fanfiction memang cenderung lebih berani dalam mengeksplorasi seks, hasrat, dan hubungan antarkarakter, termasuk dinamika relasi yang tidak sehat.

Pertanyaannya, sejauh mana para pembaca, terutama perempuan, dapat menjaga jarak dari fantasi tentang relasi problematik dalam fiksi romantis?

Strategi Pelarian, Pengusir Kesepian

Abigail Brennan dalam penelitian berjudul Feminism and Romance Novels (2014) menemukan bahwa sebagian pembaca menikmati fiksi romantis sebagai apa yang Brennan sebut escapist strategy, suatu cara memandang novel romantis sebagai bentuk hiburan dan pelarian yang terpisah dari pandangan feminis mereka.

Pembaca dalam kategori ini, kata Brennan, mampu mengenali adanya unsur-unsur seksisme di dalam novel yang mereka baca, tetapi pada waktu sama mereka menerima itu semua sebagai unsur yang dianggap memperkuat fungsi cerita sebagai hiburan atau pelarian.

Dalam penelitiannya, Brennan juga menemukan bahwa sebagian pembaca tetap menikmati tokoh laki-laki yang digambarkan sangat maskulin, agresif, bahkan pelaku kekerasan, selama karakter tersebut memiliki sisi lemah lembut terhadap pasangan dalam konteks fantasi serta memiliki fungsi untuk menunjang jalannya cerita.

Selain itu, meningkatnya popularitas fiksi romantis bertema gelap ini bisa dilihat pula dari preferensi pembaca terhadap narasi cerita yang lebih menantang.

Dalam artikel The Conversation, Lisa J. Hackett dan Jo Coghlan membagikan hasil surveinya terhadap 233 pembaca novel crime-romance yang 72 persennya perempuan.

Sensasi tegang ternyata menjadi salah satu alasan pembaca tertarik pada genre crime-romance. Bagi sebagian pembaca, perpaduan antara romansa dan kejahatan membuat cerita lebih menarik dibandingkan dengan kisah cinta yang manis, genre yang dianggap monoton dan repetitif.

Tanya (23) dari Depok, penggemar shōjo manga Fruit Baskets, menganggap bacaan-bacaan romantis sebagai mood booster dalam kehidupannya.

“Aku baca novel fiksi romantis buat mengisi hari-hariku yang sepi, gak cuma pas lagi galau aja. Aku butuh dopaminnya,” jelas Tanya.

Pandangan Tanya sejalan dengan penjelasan peneliti psikologi sosial dan kepribadian Katrina Fong, PhD. Menurut riset yang dilakukan Fong, aktivitas membaca kisah relasi asmara dan merasa terkoneksi dengan karakter-karakternya “bisa membantu memenuhi kebutuhan psikologis pribadi”.

“Menjalin koneksi dengan karakter fiksi bisa jadi menciptakan sense of closeness—rasa kedekatan—yang meredakan kesepian, terutama jika karakter-karakter dalam cerita dianggap seperti manusia di dunia nyata oleh para pembaca,” tutur Fong dalam kepada SELF.

Sementara Dya (22) di Palmerah mengaku selalu kembali ke novel-novel romantis setiap kali baru saja bertengkar dengan pacarnya. “Aku suka banget baca novel fiksi romantis, apalagi kalau habis berantem sama pacar. Suasana hati jadi nggak semurung sebelumnya,” kata pembaca setia novel karya Colleen Hoover ini.

Alih-alih membaca cerita-cerita tersebut untuk menemukan sosok laki-laki lain dalam dunia fantasi, Dya lebih melihatnya sebagai jeda atau pelarian sejenak dari aturan percintaan klasik; “kalau memang cinta, seharusnya kita menerima pasangan apa adanya”.

Survei Talker Research terhadap 2.000 perempuan pembaca novel fiksi romantis dan erotis yang dipublikasikan awal tahun ini menunjukkan bahwa genre ini tidak sekadar membangkitkan imajinasi, tetapi juga menormalisasikan percakapan yang selama ini dipandang tabu di masyarakat.

Dua pertiga responden meyakini bahwa adegan-adegan di dalam cerita buku-buku fiksi romantis membantu mereka menormalisasi hal-hal yang rentan disalahpahami sebelumnya, terutama terkait pengalaman seksualitas.

Dari situlah, hal-hal yang diimajinasikan dalam lembaran buku akhirnya bergeser menjadi percakapan di ruang luring. Setelah membaca novel-novel romantis, 55 persen perempuan yang disurvei merasa lebih punya daya untuk mendiskusikan topik seks secara langsung dengan pasangannya.

Kalau kamu, apa alasanmu suka baca fiksi romantis?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza & Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Arrazani Hafidza & Sekar Kinasih
Editor: Sekar Kinasih