Menuju konten utama

Film Komedi Romantis Era 90-an vs Hari Ini, Apa yang Berubah?

Seiring zaman berubah, cara film memandang cinta, perempuan, dan relasi pun ikut berkembang. Itulah yang bikin romcom selalu terasa relevan untuk ditonton.

Film Komedi Romantis Era 90-an vs Hari Ini, Apa yang Berubah?
Header Diajeng Film Romcom. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Film bergenre romantic-comedy atau romcom selalu memiliki tempat spesial di hati kita semua.

Romansa dua karakter dengan bumbu-bumbu humor ini tidak pernah gagal menjadi pelarian kita di hari yang penat. Dengan alur cerita menghibur dan penampilan para bintang pemain yang menarik hati, romcom menjadi pengalaman menonton yang nyaman dan menghangatkan.

Era keemasan romcom Hollywood terbentang dari tahun 1990 sampai 2000-an awal. Julia Roberts, Kate Hudson, Sandra Bullock, Katherine Heigl mendominasi sinema kala itu. Bersama Richard Gere, Hugh Grant, sampai Matthew McConaughey, mereka pernah jadi ikon romcom besar pada masanya.

Kalau action menjadi genre paling marak belakangan ini, romcom juga pernah berjaya pada era keemasannya. Sebut di antaranya film-film seperti Pretty Woman (1990), Four Weddings and a Funeral (1994), Notting Hill (1999), How to Lose A Guy in 10 Days (2003), 27 Dresses (2008).

Menariknya, romcom senantiasa punya basis penggemar yang kuat dari masa ke masa. Meskipun bermunculan berbagai film dengan genre beragam, penonton masih tetap antusias menantikan rilisan romcom terbaru.

Anyone But You (2023), The Idea of You (2024), The Materialists (2025), Eternity (2025), digadang-gadang membawa kebangkitan romcom di kancah perfilman. Masih dengan kisah romansa yang menghibur hati, film-film ini membawa penonton ke suasana romcom yang sempat populer beberapa tahun lalu.

Di balik euforia menyambut gelombang film romcom baru, para penonton tetap merasakan adanya perbedaan saat menyaksikan romcom modern dengan romcom di pada era keemasannya di dekade 1990-an.

Jatuh Cinta di Romcom Era 90-an

Pertemuan tidak terduga, gestur romantis yang megah, sampai akhir cerita happily ever after yang terjamin. Demikian kira-kira kerangka romcom pada dekade 1990-an sampai 2000-an awal yang pola ceritanya cenderung repetitif antara satu dengan lainnya.

Alur romcom yang mudah diprediksi tidak lantas menghalangi orang-orang untuk tetap pergi menontonnya. Pengulangan alur terbantu oleh penggambaran suasana yang dibawakan secara unik dan menyenangkan.

Adegan demi adegan diiringi dengan musik pop yang membangun suasana. Setiap karakter utama memiliki kepribadian menarik yang dieksplorasi sepanjang film. Lalu, latar cerita ditampilkan lewat tangkapan-tangkapan bernuansa hangat oleh sinar matahari.

Notting Hill (1999) misalnya, memungkinkan kita melihat ke dalam kehidupan sehari-hari karakter utama sebagai aktris populer. How To Lose A Guy in 10 Days (2003) memulai kisahnya dengan memberikan sedikit cuplikan pada kesibukan tokoh perempuan utama sebagai jurnalis.

Karakter di film romcom 90-an dihadapkan pada konflik tunggal yang dinamikanya tidak terlalu sulit ditebak.

Anna di Notting Hill kebingungan akan keputusan untuk memilih karier atau pasangan hidupnya, sementara Andie dari How To Lose A Guy in 10 Days, dan tokoh utama laki-laki, Ben, tidak sengaja saling jatuh cinta di balik agenda-agenda terselubung mereka yang tak berkaitan sama sekali dengan asmara.

Serumit apapun permasalahan yang dimiliki para karakter, film hampir selalu ditutup dengan akhir bahagia. Anna bersatu dengan laki-laki pilihannya, begitu pula Andie. Akhir bahagia ini bisa jadi memberikan rasa aman bagi penonton yang mendambakan perasaan feel-good dari pengalaman menonton film.

Cinta Lebih Kompleks dalam Romcom Modern

Jika film-film romcom era dulu cenderung memberikan kepastian bahagia di akhir cerita, film romcom sekarang dibuat relatif jauh lebih realistis.

Karakter-karakternya menjalani kehidupan yang bisa dibilang dekat dengan pengalaman sebagian besar dari kita sehari-hari. Akhir bahagia tidak lagi terjamin dan penonton dihadapkan pada realitas kehidupan para karakter yang tantangannya menyerupai kita.

Unsur unik, menyenangkan, dan whimsical yang sering ditemukan pada romcom 90-an juga jarang ditemukan lagi di romcom masa kini. Meski begitu, romcom modern memiliki perkembangan dalam pendekatan yang khas.

Berdasarkan studi dari Jenna Kim di International Journal of Social Relevance & Concern (2023), romcom era 90-an memiliki klise yang menempatkan karakter perempuan untuk mengorbankan karier mereka demi cinta.

Dalam How to Lose A Guy in 10 Days, Andie yang awalnya mengejar Ben agar mendapat inspirasi tulisan, justru mengesampingkan alasan pekerjaan ketika hubungannya semakin dekat dengan Ben. Alur semacam ini memberikan kesan bahwa perempuan cenderung memprioritaskan hubungan romansa di samping kariernya.

Romcom modern The Idea of You mengambil pendekatan yang berkebalikan. Solené, karakter utama perempuan, justru memisahkan diri dari Hayes, selama kurang lebih 5 tahun untuk menyempurnakan kariernya.

Romcom era 90-an kerap menempatkan karakter perempuan dalam narasi yang berpusat pada pencarian cinta. Akibatnya, perjalanan hidup mereka sering digambarkan mencapai titik utuh setelah menemukan pasangan.

Dalam 27 Dresses, Jane, merasakan konflik mendalam karena belum pernah menemukan cinta meski teman-temannya sudah banyak menikah. Hal ini memperkuat pandangan bahwa perempuan “belum berhasil” jika tidak memiliki partner laki-laki untuk mendampingi mereka.

Romcom 90-an juga hampir selalu menempatkan karakter perempuan untuk memilih satu dari dua laki-laki, sering kali antara “pasangan sempurna (good guy)” dan “pasangan kurang tepat (wrong guy)”.

Jane dalam 27 Dresses berakhir memilih Kevin yang pernah menulis artikel memalukan tentang Jane. Keputusan Jane menekankan bahwa perempuan pada akhirnya harus selalu menoleransi ketidaksempurnaan pasangannya, meski dapat mencari pasangan lain yang lebih cocok untuknya. Selain mengindikasikan bahwa hubungan bisa berakhir buruk, film semacam ini berpotensi memopulerkan relasi tidak sehat di dunia nyata.

Di satu sisi, romcom modern memberikan ruang perspektif yang lebih kompleks pada karakter-karakter utama perempuan.

Meski premisnya mirip dengan karakter Jane di 27 Dresses, Lucy dalam The Materialists (2025) punya pertimbangan yang lebih kontemplatif antara kembali pada mantan kekasihnya, John, yang kerjanya serabutan, atau bertahan dengan Harry yang mapan secara pikiran dan finansial.

Selain itu, dalam film Eternity (2025) contohnya, penonton diajak untuk merefleksikan arti dari cinta sejati yang dirasakan karakter utama, Joan, tanpa mengurangi esensi dirinya sebagai seorang perempuan.

Film menceritakan tentang Joan yang harus memilih antara cinta pertamanya atau suaminya selama puluhan tahun. Joan tidak hanya mempertimbangkan tentang partner yang cocok, tetapi juga bagaimana dirinya bisa memahami perjalanan hidupnya bersama mereka.

Baik Eternity maupun The Materialists tidak hanya menempatkan romansa sebagai jalan cerita utama, melainkan juga proses perjalanan penemuan jati diri.

Tentu, pembahasan ini bukan untuk menggeneralisasi atau menentukan bahwa salah satu era lebih baik daripada yang lain. Romcom era 90-an maupun romcom modern lahir dari konteks zaman yang berbeda.

Seiring zaman berubah, cara film memandang cinta, perempuan, dan hubungan pun ikut berkembang. Itulah yang membuat romcom terus terasa relevan untuk ditonton, baik yang tumbuh dewasa di era 90-an maupun yang hari ini tengah berusaha memaknai arti cinta.

Pada akhirnya, keduanya sama-sama menawarkan kisah yang bikin kita tertawa, jatuh hati, dan sesekali ikut patah hati. Kalau kamu, lebih suka romcom di era yang mana?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih