Menuju konten utama

Kemesraan di Ruang Publik: Kenapa Bikin Orang Lain Tak Nyaman?

Meskipun kita punya kemerdekaan untuk mengekspresikan cinta, ruang publik akan selalu menghadirkan situasi yang perlu dibaca dengan konteks dan kepekaan.

Kemesraan di Ruang Publik: Kenapa Bikin Orang Lain Tak Nyaman?
Header Diajeng Public Display Affection. foto/iStock

diajeng.id - Bukan sekali dua kali kita melihat dua sejoli, biasanya masih berusia muda, yang tengah dimabuk asmara, seperti berboncengan kencang naik sepeda motor seolah dunia milik berdua, makan di restoran berbagi satu mangkuk, bergandengan tangan di jalan, dan sebagainya.

Fenomena ini terasa semakin mencolok di era media sosial saat ini, ketika figur publik, terutama artis, dengan sangat terang-terangan menampilkan kemesraan mereka di ruang digital.

Pamer kemesraan di depan umum atau istilah asingnya disebut Public Display of Affection (PDA) merujuk pada ekspresi kasih sayang yang ditampilkan di ruang publik.

Bentuk PDA bisa sangat beragam, mulai dari yang relatif ringan seperti bergandengan tangan, merangkul, hingga yang lebih intim seperti berpelukan atau berciuman.

Dalam konteks kekinian, “ruang publik” juga meluas ke media sosial, ruang digital yang nyaris tanpa aturan bagi siapa pun untuk mengunggah segala kesehariannya melalui foto dan video.

Dari sudut pandang psikologi, PDA bukan sekadar ekspresi spontan dari rasa cinta. PDA adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, dari dinamika relasi, norma sosial, kebutuhan akan pengakuan, hingga karakter kepribadian individu.

Kenapa Ada Pasangan Pede Melakukan PDA?

Beberapa studi menunjukkan bahwa sebagian orang melakukan PDA sebagai cara untuk “mengomunikasikan” status hubungan mereka kepada orang lain, atau bahkan untuk memperoleh validasi sosial, terutama di era digital saat relasi kerap menjadi bagian dari identitas yang ditampilkan.

Menariknya, seperti dibahas dalam artikel Stylist, faktor kepribadian juga memainkan peran penting.

Dalam perspektif psikologi kepribadian, orang-orang dengan kecenderungan ekstrovert umumnya lebih nyaman mengekspresikan emosi dan pengalaman personal di ruang publik.

Mereka cenderung terbuka, ekspresif, dan menikmati interaksi sosial, sehingga tidak terlalu canggung menunjukkan afeksi di hadapan orang lain.

Sebaliknya, orang yang lebih introvert biasanya memilih mengekspresikan kedekatan secara privat, karena merasa ruang personal lebih aman dan autentik bagi mereka.

Temuan ini sejalan dengan kajian psikologi yang menyebut bahwa orang ekstrovert memang lebih nyaman “membagikan diri” kepada publik, termasuk dalam hal emosi dan relasi .

Selain kepribadian, ada pula dimensi kebutuhan psikologis yang lebih halus. PDA bisa menjadi bentuk afirmasi, baik untuk pasangan sendiri maupun untuk “penonton”.

Dalam beberapa kasus, PDA bisa memperkuat rasa memiliki, kedekatan, atau bahkan kebanggaan terhadap hubungan yang dijalani.

Menariknya, pada saat yang sama, PDA juga bisa bersinggungan dengan kebutuhan akan pengakuan sosial terkait keinginan agar hubungan tersebut “terlihat” dan diakui oleh orang lain.

Melihat PDA semata-mata sebagai perilaku “berlebihan” atau “tidak tahu tempat” pun terasa seperti oversimplifikasi.

Di baliknya, ada spektrum motivasi, dari yang tulus sebagai ekspresi kasih sayang, hingga yang lebih kompleks sebagai bagian dari konstruksi identitas sosial.

Memahami lapisan-lapisan ini membantu kita untuk tidak mudah "sebal" atau buru-buru menghakimi ketika melihat pasangan pamer kemesraan.

Mengapa Kita Cenderung Tak Nyaman Melihat Orang Pamer Kemesraan?

Jika bagi pelaku PDA kemesraan adalah ekspresi rasa, bagi sebagian pemirsa justru sebaliknya.

Sebagian dari kita yang melihat pasangan PDA mungkin sering menilai aksi mereka mengganggu, canggung, bahkan menjijikkan. Bukan semata-mata soal “tidak suka melihat orang bahagia”, reaksi kita bisa jadi berkaitan dengan pengalaman sosial dan psikologis yang lebih kompleks.

Dalam salah satu tulisan di Refinery29, penulis Pema Bakshi menggambarkan bagaimana pasangan yang terlalu larut dalam kemesraan di ruang publik bisa terasa “mengambil alih ruang bersama”, seolah-olah mereka menciptakan dunia sendiri yang sulit diakses orang lain.

Fenomena ini membuat orang di sekitarnya merasa tersisih, bahkan terganggu secara fisik maupun emosional. Ada semacam pelanggaran batas tak tertulis bahwa ruang publik yang seharusnya “netral” berubah menjadi sangat personal bagi dua orang saja.

Perasaan tidak nyaman sebagai penonton juga sering muncul karena faktor persepsi. Ketika melihat PDA yang intens, sebagian orang langsung menangkapnya sebagai sesuatu yang “berlebihan”, tidak pada tempatnya, atau terlalu intim untuk disaksikan.

Pada banyak kasus, seperti digambarkan dalam berbagai esai populer, bahkan suara atau gestur kecil, seperti ciuman di tempat umum, dapat memicu rasa risih yang sulit dijelaskan secara rasional.

Selain itu, reaksi negatif terhadap PDA sering kali berakar dari kondisi internal penonton itu sendiri.

Beberapa kajian psikologis menunjukkan bahwa melihat pasangan lain bermesraan dapat memunculkan perasaan-perasaan laten seperti iri, kesepian, atau kesadaran akan kekosongan dalam relasi pribadi.

Bahkan, ada pula kecenderungan untuk mencurigai motif di balik kemesraan tersebut, misalnya anggapan bahwa pasangan itu “sedang mencari perhatian” atau sekadar membangun citra hubungan yang tampak ideal.

Namun di titik ini, penting untuk berhenti sejenak dan menguji asumsi-asumsi kita. Di sinilah perspektif dari Psychology Today menjadi relevan, terutama dalam membongkar mitos-mitos umum tentang PDA.

Salah satu mitos paling kuat adalah anggapan bahwa semakin sering pasangan menunjukkan kemesraan di publik, semakin bahagia pula hubungan mereka. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut tidak selalu benar.

PDA yang intens bisa saja bersifat “performatif”, ditampilkan untuk memberi kesan tertentu kepada orang lain, atau bahkan menjadi kompensasi atas rasa tidak aman dalam hubungan.

Dengan kata lain, kemesraan yang terlihat bukanlah indikator tunggal dari kualitas relasi.

Sebaliknya, ketiadaan PDA juga kerap disalahartikan sebagai tanda hubungan yang dingin atau tidak harmonis. Padahal, preferensi untuk mengekspresikan kasih sayang secara privat bisa dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, nilai budaya, maupun kenyamanan personal.

Ada pasangan yang sangat intim, tetapi memilih menjaga ekspresi tersebut di ruang yang lebih personal, dan itu sama validnya.

Rasa tidak nyaman dari pemirsa maupun perilaku PDA itu sendiri sama-sama berada dalam spektrum yang luas. Yang satu tidak sepenuhnya “salah”, dan yang lain tidak selalu “benar”.

Yang menjadi gesekan di sini adalah pertemuan antara ekspresi personal dan norma sosial, yang kadang-kadang bisa selaras dan di lain waktu bisa saling bertabrakan.

Batas antara ekspresi kasih sayang dan “pamer kemesraan” tidak pernah benar-benar hitam-putih karena dipengaruhi oleh konteks, budaya, siapa yang hadir, dan sejauh mana ekspresi itu ditampilkan.

Seperti diingatkan dalam salah satu tulisan GQ, ada semacam “aturan tak tertulis” dalam PDA. Alih-alih soal memperbolehkan atau melarang PDA, yang perlu diperhatikan baik-baik adalah seberapa jauh dan di mana PDA dilakukan.

Gestur sederhana seperti bergandengan tangan atau kecupan singkat umumnya masih dapat diterima. Namun, ketika aksi tersebut jadi terlalu intens, terlalu lama, atau terlalu “menguasai ruang”, di situlah PDA mulai terasa mengganggu bagi orang lain.

Persoalan PDA bukan semata-mata tentang moralitas. Aksi ini ini juga penting dilihat dari lensa sensitivitas atau kepekaan sosial.

Ruang publik adalah ruang bersama. Di dalamnya selalu ada orang lain dengan batas kenyamanan yang berbeda-beda.

Meskipun kita punya kemerdekaan untuk mengekspresikan cinta pada pasangan, ruang publik akan selalu menghadirkan situasi yang perlu dibaca dengan konteks dan kepekaan, "Siapa saja yang ada di sekitar kita? Dalam konteks apa kita berada? Bagaimana perilaku kita mungkin diterima oleh orang lain?"

Artikel lainnya seputar percintaan juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait BAHASA CINTA atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih