Menuju konten utama

Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri: Apa Kamu Self-Critical?

Terlalu kritis terhadap diri sendiri kadang-kadang sulit disadari karena pola ini bisa muncul dalam kebiasaan sehari-hari.

Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri: Apa Kamu Self-Critical?
Header diajeng Self-Critical. FOTO/Wikipedia

diajeng.id - Memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri sebenarnya bukan realitas yang unik. Namun, ketika tuntutan tersebut terlalu tinggi dan membuatmu terus merasa kurang, kebiasaan ini bisa menjadi bentuk self-critical atau terlalu kritis terhadap diri sendiri.

Kondisi ini ditandai dengan kecenderungan terus menyoroti kesalahan, memikirkan hal yang seharusnya dilakukan, dan sulit menghargai pencapaian yang sudah diraih.

Orang yang self-critical sering berfokus pada kekurangan daripada keberhasilan yang dimiliki. Kebiasaan tersebut dapat muncul karena pengalaman mengecewakan atau sudah terbentuk dalam waktu lama tanpa disadari.

Mengenali pola ini penting agar kamu dapat mulai mengevaluasi diri tanpa terus-menerus menyalahkan atau merendahkan diri sendiri.

Tanda-tanda Kamu "Self-Critical"

Terlalu kritis terhadap diri sendiri kadang-kadang sulit disadari karena pola ini bisa muncul dalam kebiasaan sehari-hari. Beberapa tanda berikut bisa membantumu mengenali apakah kamu cenderung terlalu keras pada diri sendiri.

1. Selalu Menyalahkan Diri Sendiri saat Rencana Berjalan Buruk

Ketika terjadi masalah, kamu cenderung langsung merasa bahwa semuanya adalah kesalahanmu. Faktor lain di luar kendali pun sering diabaikan.

Misalnya, sesepele menyalahkan diri sendiri karena mengadakan acara di hari yang ternyata hujan bisa menjadi tanda bahwa kamu terlalu keras pada diri sendiri.

2. Selalu Menganggap Dirimu Gagal

Alih-alih melihat kesalahan sebagai sesuatu yang bisa diperbaiki, kamu memberi label negatif pada diri sendiri. Kamu memutuskan untuk mengatakan, “Aku memang gagal,” daripada mencari jalan yang lain. Akibatnya, rasa percaya dirimu ikut terkikis.

3. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Kamu mudah merasa kurang ketika melihat orang lain lebih tahu, lebih mampu, atau lebih berhasil. Bahkan, kamu mungkin memandang orang lain secara keseluruhan jauh lebih baik darimu. Kebiasaan membandingkan diri seperti ini dapat membuatmu terus merasa tidak cukup.

4. Sulit Merasa Puas atas Pencapaian Sendiri

Sekali pun berhasil melakukan sesuatu dengan baik, kamu tetap mencari kekurangan atau sisi negatif dalam pencapaian tersebut.

Kamu merasa sesuatu harus dilakukan dengan sempurna atau tidak usah melakukannya sama sekali. Akibatnya, pencapaian yang seharusnya bisa dirayakan malah tertutupi oleh kesalahan kecil.

5. Sulit menerima pujian

Saat dipuji, kamu curiga atau merasa bahwa pujian tersebut tidak sepenuhnya tulus. Bahkan ketika orang lain menghargai hasil kerjamu, kamu masih merasa tidak pantas mendapatkannya. Suara kritis dalam diri akhirnya membuatmu sulit melihat kelebihan sendiri.

6. Mudah Frustrasi terhadap Masalah Sepele

Hal-hal kecil yang tidak berjalan sesuai rencana bisa membuatmu frustrasi. Kamu kemudian sibuk menyalahkan diri sendiri karena merasa seharusnya bisa mencegah atau mengantisipasi masalah tersebut.

7. Sering Mengikuti Orang Lain Meski Sebenarnya Tidak Setuju

Kamu memilih ikut tertawa, menyetujui sesuatu, atau mengatakan “iya” meski sebenarnya bertentangan dengan nilai dan keinginanmu. Setelahnya, kamu menyesal atau menyalahkan diri sendiri karena tidak berani menyampaikan keberatan.

8. Lebih Baik Hati pada Orang Lain daripada Diri Sendiri

Ketika teman mengalami masa sulit, kamu mudah memberikan semangat dan meyakinkannya bahwa temanmu mampu melewatinya. Namun, kamu masalh kesulitan untuk mengatakan hal yang sama kepada diri sendiri.

9. Terus Merasa Tidak Mampu Menyelesaikan Semuanya

Kamu selalu merasa masih ada banyak hal yang belum tuntas dalam hidupmu, meski sebenarnya kamu sudah melalui tahap-tahapnya dengan konsisten setiap hari. Kebiasaan mengkritik diri sendiri membuatmu sulit menikmati pencapaian dan menghargai usaha yang sudah dilakukan.

Akibatnya, kamu terus merasa harus berusaha lebih keras tanpa pernah benar-benar merasa sudah cukup.

Cara Mengurangi Kecenderungan "Self-Critical"

Kebiasaan terlalu kritis terhadap diri sendiri bisa dikurangi secara perlahan. Salah satunya dengan mengubah cara berbicara kepada diri sendiri, misalnya mengganti pikiran negatif dengan kalimat yang lebih positif dan realistis.

Cobalah juga memperlakukan diri seperti kamu memperlakukan teman yang sedang melakukan kesalahan, yaitu dengan lebih memahami dan tidak mudah menyalahkan.

Selain itu, belajar menghargai pencapaian kecil dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri. Kamu juga bisa membicarakan keraguan dan perasaan tersebut dengan orang yang dipercaya agar mendapat sudut pandang lain.

Latihan mindfulness, seperti meditasi atau yoga, juga dapat membantu menenangkan pikiran dan membuatmu lebih mampu mengamati perasaan sebelum bereaksi atau menghakimi diri sendiri.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih