Menuju konten utama

Rekomendasi Film tentang Diskriminasi di Tempat Kerja

Ada banyak film yang berupaya menangkap dinamika kompleks dalam praktik-praktik diskriminasi di tempat kerja. Berikut beberapa contohnya.

Rekomendasi Film tentang Diskriminasi di Tempat Kerja
Header Diajeng Rekomendasi Film Diskriminasi Gender. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Diskriminasi di tempat kerja merupakan realitas yang mustahil dipisahkan dari keseharian pekerja. Jika pun kita tidak mengalaminya sendiri, kita pasti kerap mendengarnya melalui cerita-cerita yang ada di media sosial atau curhatan dari teman-teman terdekat.

Kadang-kadang, diskriminasi ini tidak mewujud dalam bentuk yang kentara sehingga membuat kita jadi bertanya-tanya sendiri, “Kenapa aku diperlakukan begini? Atau ini cuma perasaanku aja, ya?”

Dampak tempat kerja yang diskriminatif ternyata lebih besar dari sekedar merasa takut, yaitu hilangnya motivasi pekerja untuk menjadi produktif.

Dosen sosiologi dari University of South Carolina, Brent Simpson, dalam artikel di The Conversation mengungkap hasil eksperimen yang pernah dilakukannya terhadap 1.200 responden. Responden diminta menyelesaikan penugasan sederhana; menghitung berapa banyak angka 3 yang muncul dalam suatu tabel. Semakin banyak mereka menemukan angka 3, semakin besar bonus yang akan mereka dapatkan dari bos atau manajer mereka.

Semua responden menerima informasi bahwa mereka dikelompokkan dalam dua grup: biru dan merah. Meski begitu, sebenarnya semua responden adalah bagian dari grup biru.

Kemudian, sepertiga responden diberitahu bahwa manajer mereka lebih suka dengan pekerja di grup biru, sepertiga lainnya diberitahu bahwa manajer tidak suka dengan grup merah, dan sepertiga responden sisanya tidak mendapatkan informasi sama sekali terkait bias dari pihak manajer.

Hasilnya, dua kelompok pertama yang mendapat informasi bahwa manajernya bersikap diskriminatif menunjukkan hasil pencarian angka 3 yang lebih rendah daripada kelompok yang tidak mendapatkan informasi tentang bias si manajer.

Temuan ini mengindikasikan bahwa ketika pekerja mengetahui bahwa manajer mereka diskriminatif, mereka cenderung enggan untuk berusaha bekerja dengan optimal.

Ada banyak film yang berupaya menangkap dinamika kompleks dalam praktik-praktik diskriminasi di tempat kerja dan menyorot berbagai dampaknya terhadap pekerja yang menjadi korban. Berikut adalah beberapa contohnya.

Hidden Figures (2016)

Film drama sejarah karya Theodore Melfi yang terinspirasi dari kisah nyata ini mengisahkan sekelompok ahli matematika perempuan kulit hitam di NASA pada era 1960-an.

Realitas segregasi rasial dan gender didramatisasi dengan sangat menggugah dalam Hidden Figures. Salah satunya tentang konfrontasi tokoh utama Katherine Johnson dengan atasannya, Al Harrison, terkait absennya Katherine sebanyak beberapa kali dari meja kerjanya dalam sehari.

Ternyata, setiap perlu ke toilet, Katherine harus pergi ke gedung lain yang menyediakan toilet khusus untuk pegawai kulit berwarna. Katherine juga mengakui dirinya harus minum kopi dari teko yang berbeda pekerja kulit putih.

Meski mengalami diskriminasi, perempuan-perempuan luar biasa dalam Hidden Figures berupaya menebas segala hambatan yang ada. Salah satunya, Mary Jackson, berhasil menjadi insinyur perempuan kulit hitam pertama di Amerika Serikat.

Selain menyorot tantangan para tokoh utama, film ini juga menggambarkan dengan jelas bagaimana orang-orang kulit berwarna mengalami kesulitan dalam meniti karier di tengah kelamnya era Jim Crow.

Working Girl (1988)

Film rom-com garapan Mike Nichols ini mengisahkan tentang Tess McGill, sekretaris di perusahaan keuangan yang sedang berjuang meniti karier sebagai pegawai korporat.

Namun, posisinya sebagai sekretaris dianggap remeh dan rendah oleh orang-orang di sekitarnya sehingga Tess tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kariernya.

Keadaan semakin parah saat Tess mengalami pelecehan seksual verbal di tempat kerjanya. Tess berupaya membela diri, tetapi tindakannya malah berujung pada pemecatan.

Menariknya, film ini juga menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menjadi pelaku diskriminasi terhadap perempuan lainnya. Awalnya, Tess bekerja untuk Katharine Parker, seorang perempuan yang sangat dikaguminya.

Seiring hubungan keduanya semakin dekat, Tess memutuskan untuk membagikan rencana bisnisnya pada Katharine. Namun, alih-alih bekerja sama dengan Tess, Katharine malah mencuri ide bisnis milik Tess untuk dipresentasikan di forum seolah-olah itu idenya sendiri.

Working Girl menggambarkan kehidupan perempuan kelas pekerja dengan sangat realistis. Selain menyorot seringnya perempuan diremehkan di lingkungan kerjanya, film ini juga menyisipkan elemen-elemen romantis yang mewarnai kehidupan perempuan dewasa.

9 to 5 (1980)

Film komedi ini mengikuti kisah tiga karakter perempuan, Judy, Violet dan Doralee yang berusaha menghadapi Frank Hart, atasan mereka yang diskriminatif terhadap pekerja perempuan. Ketiganya mempunyai alasan tersendiri atas kebencian mereka terhadap Frank.

Violet menyimpan dendam terhadap Frank karena tidak pernah memberinya peluang untuk memajukan karier. Meskipun menyadari potensi dan pengalaman Violet, Frank memilih untuk membantu pekerja laki-laki yang ada di kantor dan mengabaikan Violet.

Doralee merupakan sekretaris Frank. Kehidupan Doralee di kantor menjadi suram saat Frank menyebarkan gosip tentang Doralee dan dirinya yang mempunyai hubungan gelap. Pada kenyataannya, Frank melakukan pelecehan seksual kepada Doralee.

Judy adalah karyawan baru di kantor yang baru saja bercerai dengan suaminya. Pengalaman kerjanya yang masih sedikit membuat Judy sering dikomentari miring oleh Frank.

Ketiga perempuan ini kelak menjalin ikatan emosional dari pengalaman buruk yang didapat dari Frank. Meski kisahnya tidak menyenangkan, penggambaran relasi mereka dikemas dalam balutan komedi yang mengundang tawa.

Berbeda dengan Working Girl, film 9 to 5 menggambarkan solidaritas perempuan di tempat kerja dan pentingnya dukungan emosional sesama perempuan. Melalui Judy, Violet dan Doralee, kita bisa melihat bagaimana mereka berupaya meruntuhkan budaya seksisme yang sangat kental di lingkungan kerja pada era 80-an.

Bombshell (2019)

Berbeda dari Working Girl atau 9 to 5 yang bergenre komedi, Bombshell adalah film dengan nuansa suram yang terinspirasi dari kisah nyata tentang skandal pelecehan seksual oleh CEO Fox News Roger Ailes yang berujung pada kejatuhannya pada 2016.

Bombshell menceritakan tentang Kayla, Gretchen, dan Megyn yang menyimpan dendam terhadap Roger.

Relasi kuasa digambarkan dengan sangat terang dalam film ini, salah satunya dari cerita Gretchen yang berusaha menuntut Roger karena aksi pelecehan seksual terhadap dirinya. Namun, orang-orang di sekitarnya memilih untuk diam. Mereka tidak memercayai Gretchen karena besarnya kekuasaan Roger; dari mengontrol gaji dan promosi karyawan, sampai akses yang dimilikinya ke jejaring dunia pertelevisian.

Sementara itu, Megyn menerima serangan verbal dan pelecehan secara daring dari Donald Trump. Hal itu terjadi setelah Megyn bertanya pada Trump dalam acara debat pemilihan awal Partai Republik pada 2015 tentang komentar-komentarnya di masa lalu yang merendahkan perempuan.

Megyn kemudian dikucilkan di Fox News. Lingkungan kerja yang toksik memaksanya untuk jadi perempuan yang bersikap sopan dan mau “menerima” situasi apa adanya. Di akhir cerita, dijelaskan bahwa Megyn juga merupakan korban pelecehan seksual yang dilakukan Roger.

Sosok perempuan ketiga, Kayla, merupakan karakter fiktif di Bombshell yang merepresentasikan perjuangan seluruh pekerja perempuan di Fox News yang pernah mengalami pelecehan seksual dari Roger.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih