diajeng.id - Setelah kamu menyelesaikan slide presentasi terakhir di ruang meeting dengan penuh semangat, atasanmu merespons singkat dengan anggukan kepala dan sepatah kata "oke".
Tidak ada penjelasan lebih lanjut darinya. Sementara rekan-rekan kerja yang dari tadi mendengarkan kamu presentasi hanya diam.
Kamu lega karena tidak ada komentar atau teguran. Di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mengganggu. Apa presentasiku tadi sudah cukup baik, atau jangan-jangan sebenarnya masih banyak yang kurang?
Sebagai pekerja baru, mungkin cukup banyak dari kita yang merasa cemas karena belum paham betul tentang capaian atau porsi kinerja kita. Tanpa evaluasi yang jelas dari atasan atau kolega, kecemasan ini bisa memengaruhi performa kerja ke depannya.
Meskipun meminta feedback sering terasa menegangkan, keputusan untuk diam justru membuat situasi menjadi semakin tidak pasti.
Takut pada feedback itu wajar, terutama di awal karier.
Kita biasanya khawatir dianggap tidak kompeten dan ingin selalu terlihat mampu di mata atasan. Kritik pun jadi terasa seperti penilaian pribadi, alih-alih sekadar evaluasi pekerjaan.
Setelah dikomentari, kamu jadi overthinking dan memutar ulang semuanya di kepala.
Kalau kamu pernah merasa seperti ini, tenang. Reaksi itu normal bagi siapa pun yang peduli pada kinerjanya.
Cara Meminta Feedback dari Atasan
Meminta feedback dari atasan memang tidak selalu terasa mudah. Ada rasa canggung, takut dinilai terlalu percaya diri, atau justru khawatir dianggap tidak mampu.
Padahal, keberanian untuk bertanya tentang evaluasi kerja justru menunjukkan bahwa kamu serius ingin berkembang.
Daripada terus menebak-nebak apakah kinerjamu sudah sesuai ekspektasi, lebih baik beranikan diri untuk mulai membuka ruang percakapan yang jelas dan profesional.
1. Pilih Waktu yang Tepat
Pilih momen saat atasan sedang tidak sibuk atau tidak berada di bawah tekanan deadline agar mereka bisa memberi perhatian penuh pada feedback yang kamu minta.Hindari bertanya tepat sebelum meeting besar atau saat suasana sedang tegang.
Waktu yang ideal biasanya setelah kamu menyelesaikan satu proyek atau tugas penting, ketika konteks pekerjaan masih segar di ingatan atasan.
Contoh kalimat untuk dipertimbangkan:
“Kak/Pak/Bu, apa saya boleh minta waktu 10 menit minggu ini untuk minta masukan soal penugasan kerja yang sudah saya selesaikan kemarin?”
2. Ajukan Pertanyaan Spesifik
Daripada bertanya terlalu umum seperti, “Aku gimana kerjanya?”, lebih baik arahkan pertanyaan pada bagian tertentu dari pekerjaanmu.Pertanyaan yang spesifik membantu atasan memberi masukan yang konkret dan bisa langsung kamu tindak lanjuti.
Contoh kalimat:
“Bagian laporan kemarin menurut Kakak/Ibu/Bapak sudah jelas atau masih ada yang perlu saya perbaiki?”
“Apa yang bisa saya tingkatkan dari cara presentasi saya?”
3. Fokus pada Perbaikan, Bukan Pembelaan
Tujuan meminta feedback adalah untuk belajar, bukan membuktikan bahwa kamu sudah benar.Saat menerima masukan, usahakan tidak langsung menjelaskan alasan atau membela diri. Sikap terbuka dan tenang akan membuat percakapan lebih produktif dan menunjukkan bahwa kamu memang ingin berkembang.
4. Catat dan Ringkas Kembali
Saat atasan memberikan evaluasi, catat poin-poin pentingnya. Setelah itu, ringkas kembali apa yang kamu tangkap agar tidak terjadi salah paham. Cara ini menunjukkan bahwa kamu serius mendengarkan dan siap memperbaiki diri.Contoh kalimat:
“Berarti saya perlu lebih rapi di timeline dan update progress, ya?”
Cara Menerima Feedback Tanpa Baper
Setelah kamu berani meminta feedback, tantangan berikutnya adalah bagaimana menerimanya dengan tenang. Ini fase yang berbeda. Apabila meminta feedback butuh keberanian, menerimanya butuh kedewasaan emosi.
Pertama, dengarkan dulu sampai selesai. Jangan menyela, jangan langsung menyiapkan pembelaan di kepala. Kadang-kadang kita terlalu cepat fokus pada satu kalimat yang terasa menyentil, padahal ada konteks utuh yang perlu dipahami.
Kedua, jangan langsung menjelaskan diri. Dorongan untuk berkata, “Soalnya tadi waktunya mepet,” atau “Sebenarnya aku sudah coba,” itu sangat manusiawi.
Namun, jika tujuanmu adalah belajar, beri ruang dulu untuk menerima sudut pandang atasan.
Ketiga, beri jeda sebelum merespons. Kamu tidak harus langsung punya jawaban yang sempurna. Tarik napas, cerna maksudnya. Tidak perlu langsung setuju pada semua hal, tetapi usahakan untuk benar-benar memahami poin yang disampaikan.
Pertimbangkan untuk memberikan respons sederhana dan profesional, seperti:
“Terima kasih sudah memberi tahu, ya.”
“Saya akan coba perbaiki di tugas berikutnya,ya.”
Kesempurnaan memang sering jadi aspek utama yang diyakini di dunia perkantoran. Pada waktu sama, latihan jadi sosok yang terbuka untuk belajar juga penting untuk dipertimbangkan.
Meminta feedback adalah bagian dari proses belajar menjalin relasi profesional karena menunjukkan bahwa kamu peduli pada kualitas kerja dan ingin terus berkembang.
Ingat, mengajukan pertanyaan adalah salah satu tanda kalau kamu serius kerja dan mau jadi lebih baik.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih