Menuju konten utama

Di Dunia Serba Touchscreen, Kita Tetap Butuh Sensasi Taktil

Sentuhan adalah jembatan interaksi kita dengan dunia, lapisan emosional yang mampu menyampaikan makna serta membentuk relasi manusia dan realitas dunia.

Di Dunia Serba Touchscreen, Kita Tetap Butuh Sensasi Taktil
Header diajeng Touchscreen. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Manusia modern semakin lancar berinteraksi dengan mesin daripada sesamanya. Sebab, ke mana pun tujuan kita, mesin-mesin sudah siap memberikan sambutannya yang paling hangat.

Restoran cepat saji menawarkan layanan mesin self-service untuk memesan makanan. Di bank dan rumah sakit, kita hanya perlu satu-dua kali sentuh layar untuk terdaftar dalam jalur antrean. Beberapa sekolah bahkan sudah mengganti papan tulis tradisional menjadi bentuk digital yang lebih praktis dan tentu tidak berdebu.

Di balik efisiensi yang diciptakannya, mesin dalam bentuk layar sentuh (touchscreen) pelan-pelan mengubah gaya hidup kita. Dari dunia taktil yang sarat keberagaman akan sensasi sentuhan, ujung jari kita kini mulai terbiasa dengan menyentuh permukaan layar yang datar-datar saja.

Dikutip dari Vox, Mark Paterson, sosiolog dari University of Pittsburgh mengatakan bahwa, “Kalau layar bisa membayangkan wujud penggunanya, kita akan terlihat seperti sepasang bola mata dan satu jari.”

Memang, kemajuan teknologi hadir untuk mempermudah hidup. Sebuah instruksi dapat terlaksana hanya dengan satu-dua kali pencet atau swipe, scroll, tap!

Bagi yang punya kecemasan sosial, sekarang tidak perlu berbicara pada kasir untuk memesan makanan. Bagi yang perfeksionis, kini tidak perlu terlalu khawatir pada human-error karena sudah ada sistem komputer yang lebih bisa diandalkan.

Namun, proses kehidupan yang “repot” itu pada esensinya justru membentuk makna kita sebagai manusia. Seiring kuatnya gelombang digitalisasi dan menjamurnya layanan touchscreen, mungkinkah kita semakin kehilangan rasa menjadi manusia?

Bukan Sekadar Sentuhan Fisik

Sama seperti sensasi tubuh lainnya, sentuhan memiliki peran dalam membentuk pengalaman kita. Setiap kali kita menyentuh sesuatu, tubuh mengaitkannya dengan memori dan perasaan tertentu. Kita bisa saja mengingat sesuatu dari sekadar momen bersentuhan.

Dalam tulisan berjudul “Touch in digitalized worlds: An Introduction” yang terbit di jurnal Antrophology of Consciousness (2024), Broch dan Varma menyebutkan bahwa sentuhan menjembatani interaksi kita dengan dunia di sekitar kita. Sentuhan memiliki lapisan emosional yang mampu menyampaikan makna dan membentuk cara kita berhubungan dengan dunia.

Nah, mesin-mesin touchscreen telah membatasi sentuhan-sentuhan yang tadinya dialami manusia itu. Layar sentuh tidak mampu memberikan timbal balik berupa emosi dan sensasi yang acap kali kita dapatkan melalui permukaan taktil di dunia nyata.

Berbeda dengan pengalaman fisik, touchscreen tidak memberikan sensasi suhu, tekstur, dan tekanan kembali kepada manusia.

Terlalu banyak bersentuhan dengan touchscreen juga berisiko menggerus kepekaan kita terhadap sensasi-sensasi ketubuhan dan menjauhkan kita dari tubuh sendiri, jika bukan memisahkan pengalaman tubuh dari realitas dunia.

Pada dasarnya, menyentuh adalah pengalaman penting yang membentuk kita sebagai manusia. Kebiasaan menyentuh touchscreen yang tidak dikontrol dengan sehat sangat mungkin “merampas” kita dari pengalaman-pengalaman ketubuhan yang humanis tersebut.

Mengeksplorasi Tekstur Dunia

Di tengah masifnya penggunaan smartphone dan berbagai fitur berbasis touchscreen, mulai terlihat geliat untuk mengimbanginya dengan dunia yang lebih sarat tekstur.

Gaya desain softer architecture kembali populer pada desain-desain hunian. Gaya ini identik dengan tata rumah yang penuh dengan permukaan taktil, sudut-sudut melengkung, dan lapisan bertekstur.

Softer architecture mengambil alih gaya minimalis menjadi desain yang lebih manusiawi. Natural, homey, serta tetap memiliki kedalaman emosional.

Selain rumah, berbagai produsen mobil menghadirkan kembali tekstur lewat fitur tombol dan kenop fisik di dalam kendaraan mereka.

Seperti kita amati dalam beberapa tahun ke belakang, telah terjadi pergeseran tren pada fitur interior mobil. Kendali-kendali dasar untuk mengatur lampu, wiper, volume audio, mulai dipindahkan ke format layar sentuh.

Dalam artikel Maret lalu, Forbes melaporkan pabrik-pabrik besar seperti Volkswagen, Porsche, sampai Kia dan Hyundai, memutuskan untuk memasang kembali fitur tombol atau kenop pada beberapa seri mobil keluaran terbaru, di antaranya untuk mengatur volume audio dan suhu AC.

Melansir The Conversation, ANCAP Safety, program penilaian keselamatan mobil di Australia & Selandia Baru, per 2026 ini bahkan mengimbau produsen mobil untuk memasang kembali fitur-fitur tombol pada kendali mobil.

Studi menunjukkan bahwa interaksi supir dengan fitur pengaturan interior mobil via touchscreen menimbulkan distraksi yang memecah konsentrasi.

Survei juga mengungkap tingginya pengendara mobil yang frustasi lantaran sistem touchscreen menuntut mereka untuk mengikuti sejumlah langkah tertentu dan perhatian visual di tengah aktivitas menyetir—berbeda dengan sistem tombol yang jauh lebih praktis.

Selain dilakukan di industri otomotif, upaya untuk mengimbangi tren teknologi touchscreen juga diinisiasi oleh masyarakat urban masa kini. Gerakan ini salah satunya terlihat dari semakin populernya komunitas hobi yang memungkinkan kita berinteraksi dengan tekstur melalui aktivitas analog, seperti merajut, melukis, hingga berolahraga.

Kembalinya tekstur dan tombol menunjukkan adanya keletihan manusia terhadap layar sentuh. Bagi kamu yang juga merasa suntuk dengan dominasi touchscreen sehari-hari, apa strategimu untuk mengimbanginya?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Teknologi
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih