Menuju konten utama

Fringe Friend: Merasa Dekat, tapi Tidak Pernah Jadi Prioritas?

Sebagai sosok di lingkaran sosial terluar, kamu sebenarnya terbebas dari tanggung jawab untuk senantiasa hadir dalam kehidupan grup pertemananmu.

Fringe Friend: Merasa Dekat, tapi Tidak Pernah Jadi Prioritas?
Header diajeng Fringe Friend. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Temanmu banyak, tetapi kamu tidak merasa menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Kalian memang jalan bersama, momen bertukar cerita juga pasti ada. Hanya saja, kuantitasnya tergolong jarang.

Kalau kamu pernah merasa begitu, bisa jadi kamu hanyalah sesosok “background friend” atau “fringe friend” alias teman di lingkaran sosial terluar.

Dengan diperlakukan sebagai fringe friend, bukan berarti kamu diabaikan sepenuhnya oleh temanmu atau grup pertemanan yang kalian ikuti bersama.

Kamu masih punya hubungan baik dengan mereka yang kamu anggap teman-temanmu tersebut. Mereka pun memperlakukanmu dengan ramah selayaknya teman yang normal. Pada waktu sama, ada semacam jarak yang tercipta di antara kalian.

Meski kamu masih dilibatkan dalam janji pertemuan mereka, kamu dilewatkan dari sesi-sesi hangout yang lebih intim. Kamu mungkin juga kerap diajak ikut kegiatan pada menit-menit terakhir sebelum acara dimulai. Selain itu, kamu agak kesulitan memahami inside joke yang dilontarkan mereka.

Menjadi fringe friend bisa jadi pengalaman yang menyakitkan karena menimbulkan tekanan mental sebagai pribadi yang tidak terlalu dianggap. Lumrah jika kadang-kadang kamu merasa dimanfaatkan.

Menariknya, ada sisi lain yang bisa dilihat dari realitas sebagai sesosok fringe friend.

Keuntungan Jadi Fringe Friend

Sebagai background alias “latar” dalam suatu pertemanan, kamu sebenarnya terbebas dari tanggung jawab untuk senantiasa hadir dalam kehidupan temanmu atau grup pertemananmu.

“Kamu tidak harus selalu berjaga karena kamu tahu kamu bukan kontak darurat mereka. Rasanya menyenangkan jika tidak punya orang lain yang bergantung ke kamu. Kamu tidak merasa menolak siapa pun,” terang psikolog dan pakar relasi pertemanan Dr. Irene Levine dikutip dari The Guardian.

Kehidupan sosial masa kini, terutama di era media sosial yang memungkinkan kita lebih banyak berbagi pengalaman cerita, telah melahirkan semakin banyak tuntutan, termasuk dalam konteks menjaga hubungan pertemanan.

Sudahkah kamu memberikan perhatian yang cukup sebagaimana temanmu memerhatikanmu? Apa kado ulang tahun yang kamu berikan ke temanmu itu sepadan dengan hadiah yang pernah kamu terima darinya? Pada satu titik, energimu mungkin akan terkuras untuk memikirkan hal-hal terkait itu semua.

Sebagai fringe friend yang jarang berinteraksi dan cenderung menjalin relasi seperlunya, kamu tidak lagi memiliki tanggungan tersebut. Kamu pun bisa menjalani hidup dengan lebih merdeka.

Waktu untuk teman-teman yang kadang-kadang hanya menghubungimu kalau ada perlunya itu bisa dialokasikan untuk kegiatan lain yang lebih bermakna untuk perkembangan dirimu.

Di satu sisi, dalam lingkup pertemanan yang tidak terlalu dekat dan dalam itu, kamu tetap bisa mendapatkan manfaat dari koneksi yang telah kalian bangun. Sedangkal apapun suatu hubungan pertemanan, tentu masih ada sejumlah momen berkesan yang dapat membantu mengurangi rasa kesepian.

Selain itu, menjadi fringe friend memungkinkan kamu bergabung dengan lebih banyak kelompok pertemanan.

Kamu bisa menyerap pengetahuan baru dari teman-temanmu yang memiliki latar belakang ilmu atau minat hobi berbeda darimu. Dengan begitu, kamu dapat melihat berbagai perspektif dari macam-macam tipe lingkaran pertemanan.

Memahami Batas sebagai Fringe Friend

Poin-poin menyenangkan sebagai fringe friend tentu tidak berlaku pada semua orang.

Kenyataannya, menjalin komunikasi seperlunya atau dicari saat diperlukan saja bisa terasa tidak memuaskan. Kamu mungkin merasa kurang dapat memenuhi kebutuhan sosialmu jika terus-terusan diposisikan sebagai fringe friend.

Apabila kamu memang berkemauan kuat untuk “naik kelas” di lingkaran pertemananmu, pertimbangkan untuk meningkatkan kualitas hubungan kalian dengan menambah intensitas waktu pertemuan dan variasi kegiatan bersama.

Kalau kamu selama ini terbiasa menunggu diajak temanmu, coba lakukan yang sebaliknya. Ajak teman-temanmu melakukan sesuatu dan lihat respons mereka terhadap ajakanmu.

Menurut psikolog Dr. Miriam Kirmayer, kalau kamu merasa tertinggal dalam lingkup pertemanan besar, kamu bisa mempertimbangkan untuk menemukan kebahagiaan dalam pertemanan skala kecil.

Alih-alih memaksakan diri untuk cocok dengan grup pertemanan yang anggotanya banyak dan intens bertemu, tidak ada salahnya memilih kenyamanan dengan pertemanan lebih intim yang melibatkan 1-2 orang saja dan agenda pertemuan tidak terlalu sering.

Adakalanya kamu sudah menghabiskan banyak tenaga untuk mempertahankan suatu pertemanan, tetapi kamu tetap merasa tidak nyaman lantaran diperlakukan sebagai fringe friend. Kalau sudah begitu, keputusan ada di tanganmu.

Pertemanan sepatutnya terasa menyenangkan, tanpa harus menekan atau menimbulkan rasa gelisah. Apabila kamu merasa sebaliknya, sudah saatnya kamu mengeksplorasi hubungan pertemanan lain yang lebih memuaskan buatmu. Setuju?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih