diajeng.id - Hidup ini kadang-kadang begitu absurd, sampai kita tiba di titik yang membuat kita merasa pantas untuk menertawakan kekonyolan atau kesalahan yang diciptakan sendiri.
Mulai dari lupa membawa dokumen penting yang sudah dikerjakan semalaman sampai begadang, telat membayar pajak kendaraan, hingga salah melihat tanggal rapat penting, adakah momen-momen sepele dalam hidup yang menurutmu perlu ditertawakan?
Menariknya, perilaku menertawakan diri sendiri ternyata bisa memberikan kebaikan bagi kesehatan mental dan hubungan sosial kita.
Mengapa Tertawa adalah Obat Terbaik?
Menurut penelitian yang dipublikasikan di Psychology Today, menertawakan diri sendiri setelah melakukan kesalahan kecil atau istilahnya faux pas, adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan reputasi sosial.
Studi yang dilakukan oleh Selin Goksel dan rekan-rekannya itu menunjukkan bahwa selama kesalahan tersebut bersifat "ringan" atau tidak merugikan orang lain, tertawa membuat kita dinilai lebih hangat, kompeten, dan autentik oleh orang lain.
Artinya, kita dapat menerima diri sendiri, termasuk kekurangan, secara apa adanya tanpa rasa takut berlebih.
Selain mempererat hubungan sosial, laman VeryWell Mind menjelaskan bahwa kemampuan ini memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan mental.
Menertawakan diri sendiri merupakan bentuk humor reflektif yang mampu menurunkan hormon stres, membantu relaksasi tubuh, dan meningkatkan fungsi imun.
Alih-alih meratapi kegagalan, kita belajar memperlakukan kelemahan kita dengan kebaikan, kesadaran diri (self-awareness), dan welas asih (self-compassion).
Ketika Lelucon Berubah Jadi "Bullying" Internal
Meskipun menertawakan diri sendiri sering dianggap sebagai perilaku menyenangkan, terdapat batasan tipis antara humor yang sehat (self-enhancing) dan humor yang merusak diri sendiri (self-defeating).
Lelucon yang sehat membantu kita bertahan di tengah stres, sedangkan humor yang merusak diri melibatkan tindakan merendahkan diri sendiri secara berlebihan hanya demi kenyamanan orang lain.
Jika tidak dikontrol, lelucon yang meremehkan diri sendiri dapat berkembang menjadi bentuk penolakan terhadap pencapaian pribadi, kesulitan menerima pujian, bahkan berubah menjadi dialog batin yang sangat negatif.
Terlalu sering mengulang pernyataan negatif tentang diri sendiri, meskipun dibungkus dengan tawa, bisa membuat kita perlahan memercayainya sebagai sebuah kebenaran.
Tanda-Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai
Adakah sisi gelap yang perlu diwaspadai agar lelucon tersebut tidak berubah menjadi senjata yang melukai diri sendiri?
Dikutip dari analisis psikolog di situs Grazia Magazine, berikut adalah beberapa hal yang bisa menandakan bahwa humor yang kamu tertawakan sudah tidak lagi sehat serta mulai mengikis harga diri.
Salah satu tandanya, setelah tertawa, kamu bukannya merasa lebih lega, tetapi malah berkecil hati dan sedikit sakit hati. Tertawa yang sehat seharusnya membebaskan, alih-alih meninggalkan rasa perih atau tidak nyaman di dada.
Kamu juga suka mengulang kalimat tajam yang menyakiti dirimu, baik tentang penampilan, berat badan, atau usia, seolah-olah kamu sedang membaca naskah drama. Ketika ejekan terhadap kondisi fisik atau usia terus diulang, lelucon tersebut telah berubah menjadi bentuk perundungan internal yang merusak citra diri.
Tanda lainnya, setelah kamu menertawakan diri sendiri, orang-orang di sekitarmu merasa canggung sehingga mengubah topik pembicaraan atau menenangkan dirimu, alih-alih ikut tertawa dengan tulus. Reaksi sosial ini menandakan bahwa orang lain merasa tidak nyaman dengan tingkat penghinaan diri yang kamu tunjukkan.
Selain itu, kamu juga cenderung membuat lelucon yang merendahkan diri sendiri. Kalau satu-satunya caramu untuk melucu atau mencairkan suasana adalah dengan merusak harga diri sendiri, kamu mungkin sedang terjebak dalam perilaku menyenangkan orang lain (people-pleasing) secara berlebihan.
Apabila kamu mengalami satu atau lebih tanda-tanda di atas, sebaiknya perlu waspada. Renungkan kembali pandangan hidupmu, mulailah bersikap lebih welas asih pada diri sendiri.
Belajarlah tertawa bersama diri sendiri, alih-alih menjadikan diri sendiri sebagai bahan ejekan. Semisal kamu tidak mau membuat lelucon seperti itu kepada temanmu karena menghargai perasaannya, jangan pula memperlakukan dirimu sendiri dengan cara yang sama.
Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih