Menuju konten utama

Pemutaran Film Madani Kids: Refleksi Dunia Anak Masa Kini

Sesi film anak dalam Madani International Film Festival 2026 mengajak kita memahami usaha anak menjalin relasi & menciptakan kebahagiaan dalam keterbatasan.

Pemutaran Film Madani Kids: Refleksi Dunia Anak Masa Kini
Kak Anyi dan Pakde Ibut dari Yayasan Peduli Musik Anak Indonesia (YPMAI) serta aktivis hak anak Kak Ami mengisi acara pembuka dalam pemutaran film Madani Kids, bagian dari Madani International Film Festival yang berlangsung 7-11 Oktober 2026 di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. foto/Arrazai Hafidza

diajeng.id - Hampir satu tahun berlalu sejak bencana banjir melanda Aceh, persisnya pada 19 November 2025. Banjir yang awalnya menggenangi wilayah Kabupaten Aceh Singkil tersebut kemudian meluas ke desa-desa lain dan menghancurkan rumah warga serta fasilitas umum.

Di tengah kesulitan tersebut, warga tetap bersemangat untuk menemukan kebahagiaan lewat aktivitas kecil, seperti dilakukan anak-anak yang terus mencari cara untuk bermain. Meski tempat bermain mereka rusak dan lingkungan sekitarnya dipenuhi oleh alat-alat berat, keinginan untuk menemukan kesenangan tidak lantas hilang.

“Karena tempat mainnya hancur dan segala macam, mereka cuma memanfaatkan apa yang ada. Menariknya, karena ini era digital, mereka tetep bisa buka TikTok dan liat tren-tren begitu. Oh ada nih, namanya paper squishy,” ujar Karina Adistiana, atau akrab disapa Kak Anyi, psikolog sekaligus pendiri dan wakil ketua Yayasan Peduli Musik Anak Indonesia (YPMAI) pada Minggu (11/10).

Dalam upaya mendampingi anak-anak di tengah situasi pascabencana, YPMAI melakukan kegiatan kerelawanan dan residensi bersama lembaga riset ISSED di Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Selama program tersebut berlangsung, mereka turut menggandeng Kamina atau Kak Ami, seorang aktivis hak anak di Bantar Gebang, Bekasi.

Melalui residensi yang berlangsung Agustus hingga September 2026, Kak Anyi dan suaminya Ribut Cahyono (Pakde Ibut), serta Kak Ami menghasilkan lima lagu serta sejumlah karya visual. Karya-karya yang terdiri dari kolase dan peta bukit merupakan hasil kolaborasi antara anak-anak dan orang dewasa di Desa Kalasegi.

Mereka mengisi acara pembukaan untuk sesi pemutaran film Madani Kids, bagian dari Madani International Film Festival yang berlangsung 7-11 Oktober 2026 di Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Bagi Kak Anyi, kreativitas anak-anak dalam menemukan cara bermain di tengah keterbatasan memperlihatkan bagaimana mereka beradaptasi dengan keadaan yang harus mereka lewati. “Tapi, kids will be kids. Jadi, mereka beradaptasi dengan cara mereka sendiri,” ungkapnya.

Sepanjang sesi, Kak Anyi, Pakde Ibut, dan Kak Ami mengajak audiens beraktivitas lewat games, menyerukan yel-yel, serta menyanyikan lagu-lagu yang mereka ciptakan selama residensi; Kalasegi Kami, Rumah Hanyut Kebun Hancur, Danau Biru, Orom-Orom, dan Burni Telong. Mereka juga mempresentasikan arti personal dari karya visual yang dibuat oleh anak-anak Desa Kalasegi.

Bagi Kak Anyi, mendampingi anak-anak tidak selalu harus dimulai dengan kegiatan yang rumit. Orang dewasa perlu terlebih dahulu memahami apa yang menarik bagi anak-anak, kemudian menyediakan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri. “Jadi sebenarnya, membahagiakan anak-anak sesederhana itu. Kita cari tahu apa yang memang mereka lagi suka,” tuturnya.

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam proses pembuatan karya visual anak di Desa Kalasegi. Anak-anak korban bencana banjir diajak menyusuri kampung, mengamati lingkungan yang berubah, serta mengenali apa yang hilang dan masih tersisa setelah bencana. Dari pengamatan itu, mereka kemudian menuangkan pengalaman dan ingatan melalui gambar.

“Jadi kita hadir sebagai teman dulu,” ujar Kak Ami tentang proses pendampingan anak-anak selama residensi.

Anak-anak Desa Kalasegi memanfaatkan dakron dan kapas dari bantal milik ibu mereka untuk membuat paper squishy sebagai alternatif permainan setelah ruang bermain rusak akibat bencana. Mereka juga menggambar dan menjadikannya kolase untuk merekam kondisi sebelum dan sesudah bencana, sebuah refleksi tentang perubahan lingkungan tempat tinggal.

Header Diajeng Madani Kids

Kolase karya anak-anak yang merekam kondisi sebelum dan sesudah bencana yang dihasilkan selama Kak Anyi, Pakde Ibut, dan Kak Ami melakukan residensi di Desa Kalasegi, Kabupaten Aceh Tengah. foto/Arrazai Hafidza

Pemutaran Film Madani Kids

Seusai diskusi dan penampilan musik oleh Kak Anyi, Pakde Ibut, dan Kak Ami, acara dilanjutkan dengan sesi pemutaran film Madani Kids. Film-film yang ditayangkan menyajikan cerita dan perspektif beragam dari sineas muda, terutama dalam konteks kehidupan masyarakat Muslim, kewargaan, peradaban, serta kota yang menjadi spirit dari penyelenggaraan Madani International Film Festival sejak 2018.

Buddy in Mistic City karya Rizky Orama

Film pendek karya Rizky Orama ini mengikuti perjalanan Ridho dan Fadli, dua anak yang sengaja bolos sekolah untuk mencari kerang di pantai dekat Padang 12, wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kerang-kerang itu mereka jual demi bisa top-up saldo game daring yang biasa mereka mainkan.

Namun, petualangan tersebut berubah menjadi pengalaman ganjil ketika Ridho meninggalkan Fadli untuk buang air kecil. Saat terbangun, Fadli mendapati tubuhnya telah setengah menyatu dengan air pantai. Fadli kemudian bertemu Dini, yang membawanya menjelajahi dunia-antah berantah.

Memadukan unsur sepernatural, folklore, dan komedi, Buddy in Mistic City mengisahkan persahabatan lewat petualangan yang aneh. Berangkat dari dinamika anak zaman sekarang, seperti game online, keinginan mencari uang sendiri, aktivitas bermain bersama teman bisa diceritakan sebagai pengalaman mistis yang membuka ruang bagi imajinasi anak-anak.

Alis: The Magical Memories karya Aliyya Nurbaiti Agitsna

Film animasi ini mengisahkan Alis, anak perempuan pemalu yang tinggal sementara di rumah neneknya ketika kedua orang tuanya bekerja di kota. Di kampung, Alis menemukan kesenangan baru dengan bermain bersama teman-temannya di sungai belakang rumah. Alis juga bertemu Haru, kerang ajaib yang bisa berbicara dan kemudian menjadi teman khayalannya.

Namun, kedekatan Alis dengan Haru membuat teman-temannya menjauh. Dengan elemen fantasi, film ini melihat persahabatan dari sudut pandang anak yang sedang mencari tempat untuk merasa nyaman dan diterima. Kehadiran Haru menjadi bagian dari dunia imajinasi Alis. Film ini mengajak penonton melihat kesepian dan kebutuhan untuk didengarkan adalah pengalaman setiap anak-anak yang patut untuk didengar, alih-alih disepelekan atau dicemooh.

A Veil and A Cross Necklace karya Nabila Aulia Putri

Mengisahkan Aisyah, anak perempuan yang dijauhi teman-temannya di sekolah karena mengenakan cadar. Pengucilan ini membuat Aisyah merasa kesepian dan kehilangan semangat untuk pergi ke sekolah.

Keadaan mulai berubah ketika Aisyah berkenalan dengan teman baru yang menganut agama berbeda. Pertemanan mereka tumbuh secara spontan setelah Aisyah membantu temannya tersebut mencari kalung salib yang hilang.

Film ini menyoroti bagaimana anak-anak berhadapan dengan perbedaan identitas dan keyakinan di lingkungan sekolah. Alih-alih hanya memperlihatkan pengalaman dikucilkan, A Veil and A Cross Necklace menegaskan bahwa perbedaan di lingkungan anak-anak tidak menghentikan mereka untuk memperlakukan sesama dengan baik.

Sewajarnya karya Kresna Dwi Anugrah

Melalui bentuk animasi, Kresna Dwi Anugrah menghadirkan kisah perundungan dari perspektif anak laki-laki yang kerap menjadi sasaran intimidasi di sekolah.

Film ini menceritakan perjuangan tokoh utama menghadapi lingkungan yang membuatnya merasa tertekan, secara terang-terangan mengajak penonton untuk memahami bahwa perundungan bukan hal kecil atau bisa disepelekan. Sewajarhnya ditutup dengan pesan pendek, “Bertutur kata sewajarnya!”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa cara berbicara memiliki dampak yang sangat besar, terutama ketika anak-anak masih belajar mencari dan memahami identitas diri mereka.

Those Left Behind karya Dior Yoyada Raphaele Eberhard

Film ini mengisahkan Ridho, seorang siswa SMP yang berusaha membantu adik-adiknya hidup dengan layak di tengah keterbatasan. Ridho tinggal di lingkungan kumuh dan suka meminjam buku dari perpustakaan sekolah untuk dibacakan kepada adik-adiknya.

Ridho kemudian mendapat teguran dari guru karena terlambat mengembalikan buku selama berbulan-bulan. Gurunya juga mengingatkan Ridho untuk memperbaiki nilai agar beasiswanya tidak dicabut. Di tengah itu semua, Ridho masih harus menghadapi perundungan di sekolah.

Kisah Ridho memperlihatkan beban yang dipikul seorang anak ketika tuntutan hidupnya melampaui hal-hal yang semestinya ia hadapi. Di tengah kesulitannya, kebiasaan membawa pulang buku ke rumah pada adik-adiknya menunjukkan upaya kecil Ridho untuk menemukan perasaan senang di masa-masa sulit.

Invisible Color karya Fajar Fajar Atmojo

Film pendek satu ini menggunakan sudut pandang yang tidak biasa: sekumpulan pensil warna dan sebuah pensil putih. Warna-warna lain merasa memiliki kegunaan karena hasil goresannya terlihat di atas kertas putih, sedangkan pensil putih dianggap tidak berguna karena warnanya nyaris tak nampak. Situasi ini membuat si pensil putih mempertanyakan eksistensi dan perannya di antara warma-warna lain.

Namun, cerita kemudian memperlihatkan bahwa peranan yang dimiiki setiap pensil tidak selalu sama. Sesuatu yang kerap diremehkan, pada satu titik, memiliki peran yang tak disangka. Dengan menjadikan pensil sebagai tokoh, film ini membahas tentang perasaan ketertinggalan dan keraguan atas peran diri sendiri melalui metafora yang unik.

A Silent Distance karya Muhammad Fauzan

Cerita berawal dari seorang anak laki-laki tuli yang terpisah dari kakak perempuannya di kereta hingga tersasar. Dalam petualangan singkatnya, anak laki-laki tersebut menyadari bahwa stasiun di tempatnya berada tidak menyediakan ruang yang memadai bagi penyandang disabilitas.

Film animasi pendek ini mempertanyakan apakah transportasi umum telah memberi ruang yang layak bagi penyandang disabilitas. Alih-alih hanya menyoroti pengalaman anak tersebut, film ini mengarahkan perhatian pada fasilitas transportasi umum yag belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.

A Silent Distance mengajak kita mempertanyakan prioritas seperti apa yang dipertimbangkan ketika fasilitas publik dirancang. Bagi anak-anak penyandang disabilitas, sistem transportasi yang memperhitungkan kondisi mereka tentu akan membuat mereka merasa lebih diterima.

Happy Meals karya Andra Erwine

Bercerita tentang Nadia, siswi kelas lima SD yang ingin bisa berbaur dalam lingkungan pertemanannya.

Nadia merasa minder dan menjadi sasaran perundungan karena bekal makanannya kelihatan biasa-biasa saja. Nadia kemudian meminta ibunya, yang mengelola usaha binatu, untuk menyiapkan bekal yang tampak lebih menarik dari biasanya.

Namun, Nadia tidak mengetahui bahwa kondisi finansial ibunya sedang tidak baik-baik saja. Melalui pengalaman makan di meja sekolah, Happy Meals memperlihatkan bagaimana tekanan untuk menyesuaikan diri di sekolah memiliki dampak yang besar bagi anak-anak di tengah keterbatasan.

Echoes of the Unseen karya Sesarini

Film ini memadukan kisah keseharian anak-anak dengan unsur supernatural melalui pengalaman Ardo, anak laki-laki yang nyaris tertabrak kereta ketika terpesona pada kalung yang menarik perhatiannya.

Ardo diselamatkan oleh Ladya, remaja perempuan yang muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Mereka berdua kemudian menghabiskan waktu bersama di pasar malam, tempat yang sama Ladya memperlihatkan hal-hal mistis. Dalam kebersamaan mereka yang singkat, Ardo dan Ladya mulai berbagi cerita serta trauma yang mereka alami.

Namun, identitas Ladya menyisakan pertanyaan: apakah sosoknya benar-benar manusia biasa?

Di balik unsur supernaturalnya, Echoes of the Unseen menyoroti bagaimana anak-anak dapat menjalin kedekatan emosional melalui hal-hal yang tak terduga. Cerita ini menunjukkan bahwa anak-anak juga dapat membangun kedekatan ketika mereka saling memberi ruang untuk mengungkapkan trauma yang selama ini mereka pendam.

Film-film yang ditayangkan dalam Madani Kids mengajak penonton melihat dunia dari perspektif anak-anak; melalui relasi mereka dengan orang dewasa, perjuangan untuk diterima, hingga cara mereka menemukan kebahagiaan di tengah keterbatasan. Pengalaman anak-anak tidak selalu sejelas atau selugas kalimat-kalimat yang mereka lontarkan.

Di balik keseharian yang lumrah, anak-anak berupaya memahami keadaan. Usaha mereka ini pun perlu mendapat perhatian dari orang-orang sekitar.

Cerita dari kumpulan film di atas selaras dengan pengalaman anak-anak di Desa Kalasegi yang terus berusaha mencari cara untuk bermain di tengah situasi pascabencana. Anak-anak menunjukkan bahwa kesulitan yang mereka hadapi tidak menghentikan mereka untuk menikmati hari-hari secara sehat dan menyenangkan.

Seperti disampaikan Kak Anyi, “Membahagiakan anak-anak sesederhana itu.” Bisa jadi, proses memahami anak dapat dimulai dari kesediaan kita untuk mengamati hal-hal kecil yang mereka sukai dan memberi ruang bagi mereka untuk bercerita.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Kontributor: Arrazani Hafidza
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih