Menuju konten utama

Punya Pasangan Humoris, Seberapa Penting?

Kita tetap perlu memiliki sumber kebahagiaan lain di luar hubungan, sekaligus memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.

Punya Pasangan Humoris, Seberapa Penting?
Header diajeng pasangan humoris. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Semua orang punya tipe pasangan masing-masing. Ada yang ingin menjalin hubungan dengan orang yang hobinya yang sama, usia sepantaran, atau bahkan karena pasangannya memiliki kemiripan dengan childhood crush dulu.

Salah satu indikator adalah selera humor. Menariknya, perempuan cenderung memilih pasangan dengan sifat humor yang bagus.

Studi Brown dkk dalam jurnal Evolutionary Behavioral Sciences (2023) menunjukkan bahwa humor dapat memengaruhi bagaimana perempuan menilai daya tarik laki-laki sebagai calon pasangan.

Dalam membuat candaan, kita perlu memahami konteks dan situasi yang sedang terjadi. Ketika berhasil menyampaikan sesuatu yang lucu, hal tersebut dapat menunjukkan kemampuan kita dalam membaca situasi dan berinteraksi secara sosial.

Kecakapan dalam membangun hubungan sosial kemudian dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai seseorang sebagai calon pasangan romantis.

Kemampuan tersebut juga dapat memberi kesan bahwa seseorang mampu membangun interaksi dan kedekatan dengan orang lain.

Maka dari itulah, kemampuan membuat orang lain tertawa dapat menjadi salah satu hal yang membuat laki-laki dipandang lebih menarik sebagai calon pasangan.

Studi di atas menunjukkan bahwa perempuan cenderung memberikan penilaian yang lebih positif terhadap laki-laki yang mampu menampilkan humor dengan baik.

Kamu mungkin menjadi salah satu orang yang punya tipe pasangan humoris. Namun, mengapa kita menyukai pasangan yang lucu?

Daya Tarik Pasangan Humoris

Wajar kita merasa perlu “memiliki” sesuatu untuk ditertawakan di hidup yang penuh kejutan ini. Penting untuk rehat sejenak dan menikmati kehidupan tanpa dibebani olehnya.

Pasangan yang humoris bisa berperan penting dalam membantu memperbaiki suasana hati. Tidak sekadar menghibur, mereka bisa membantu kita mencari sisi terang bahkan dalam situasi terpojok sekali pun.

Dalam situasi yang rumit, sisi humoris mereka bisa membantu kita mengembangkan perspektif baru atau cara lain dalam memandang dunia di sekitar.

“Ketika kamu membuat lelucon atau menertawakan lelucon, ada efek yang jelas di otakmu: korteks prefrontal jadi aktif. Bagian otak ini membantu hubungan antara informasi yang satu dan lainnya, termasuk punchline dari suatu lelucon,” ujar Dr. Madelijn Strick, dosen Ilmu Sosial dan Perilaku dari Utrecht University.

Setelah memahami sebuah lelucon, bagian otak lain ikut jadi aktif. Aktivasi ini memunculkan semacam reward atau hadiah untuk kita. Rasanya menyerupai momen menikmati sesuatu yang kita sukai, misalnya makan coklat.

Maka dari itu, humor dapat mencerahkan suasana yang sedang kita lakukan sekaligus mengingatkan kita pada hal-hal baik.

“Ketika pasangan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan aktif selama kencan mereka, mereka lebih menyukai satu sama lain setelahnya daripada pasangan yang tidak melakukan aktivitas menyenangkan tersebut,” lanjut Dr. Strick.

Sisi humoris bisa datang dari pihak perempuan juga.

Dalam artikel The Conversation, disebutkan bahwa perempuan humoris berperan dalam menjaga stabilitas hubungan, khususnya dalam relasi pernikahan.

Perempuan cenderung menggunakan humor sebagai cara meredakan ketegangan dalam konflik antarpasangan. Setelah ketegangan ini berkurang, pasangan bisa mencari solusi konflik mereka dengan lebih tenang.

Pada akhirnya, partner humoris membantu kita menjalani hidup dengan lebih menyenangkan. Mereka bisa menunjukkan hal-hal baik kepada kita, ketika kita kurang bisa melihatnya. Selain itu, humor mereka dapat menjadi penenang bahkan di tengah konflik yang terjadi.

Sisi Lain Humor dalam Relasi Romantis

Menariknya, ada batasan tertentu saat kita mengidealkan pasangan humoris.

Ketika kita mencari seseorang yang lucu, kita mengharapkan orang tersebut akan selalu mampu untuk menghibur kita. Pada satu titik, harapan tersebut bisa menjadi ketergantungan yang berisiko mengubah hubungan menjadi toksik.

“Jika sumber kebahagiaan utamamu adalah sesuatu yang kamu bebankan pada orang lain, ada dua hal akan terjadi. Kamu membuat kebahagiaanmu bergantung pada bagaimana pasanganmu menjalani harinya. Di saat yang sama, kamu juga memberinya tugas yang pada akhirnya pasti gagal dipenuhi, sebab tidak ada pasangan yang bisa selamanya dituntut untuk lucu setiap saat, apalagi ketika dia sendiri sedang melalui hari yang berat,” tulis Changiz Mohiyeddini, PhD, dosen Kedokteran Perilaku dan Psikopatologi dari Oakland University, di Psychology Today.

Mengharapkan partner kita menjadi penghibur artinya mengubah dinamika relasi antara penonton (diri kita) dan penghibur (pasangan kita).

Begitu peran sebagai penghibur itu gagal dilakukan, kamu bisa jadi merasa kecewa terhadap pasanganmu. Hubungan pun bisa berubah jadi suntuk.

Dalam sebuah hubungan, peran untuk menjaga keberlangsungan hubungan tidak seharusnya dibebankan pada satu orang. Apalagi, pasangan kita belum tentu bisa menghibur setiap saat. Sebagaimana manusia, pasangan kita juga punya momen-momen sulitnya tersendiri.

Kebahagiaan dalam hubungan tidak harus selalu datang dari lelucon yang dibuat pasangan.

Kita tetap perlu memiliki sumber kebahagiaan lain di luar hubungan, sekaligus memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri, termasuk ketika pasangan sedang tidak bisa menghibur kita.

Jadi, jangan hanya mencari pasangan yang bisa bikin kamu tertawa. Carilah orang yang bisa diajak tertawa bersama, sekaligus menemani satu sama lain melewati hari-hari yang tidak selalu menyenangkan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih