diajeng.id - Punya teman, sahabat, atau saudara yang sudah bertahun-tahun dikenal membuat kita yakin bahwa kita paham betul siapa dirinya.
Kita tahu sifat yang dimilikinya, apa saja kebiasaan dan kesukaannya, sampai bisa membayangkan seperti apa pasangan yang bakal cocok untuknya.
Maka dari itu, ketika mereka memilih menjalin hubungan yang serius dengan orang lain, baik berpacaran maupun menikah, kita sangat mungkin merasakan hal-hal yang mengganjal.
Alih-alih ikut bahagia, kita malah bisa berpikir bahwa orang yang dipilihnya bukan sosok yang tepat untuk menjadi pendampingnya.
Kita pun terdorong untuk mengutarakan kegalauan tersebut. Toh, kita adalah orang terdekat yang paham betul karakternya. Tidak ada salahnya untuk bilang bahwa sosok yang dipilihnya itu tidak tepat buatnya, bukan?
Tunggu dulu.
Sebelum bertindak lebih jauh, coba tanyakan ke diri kita sendiri, "Kenapa aku tidak suka orang yang dipilihnya jadi kekasih?"
Sebelum kamu melabeli partner temanmu sebagai sebagai orang yang salah, psikoterapis Gabrielle Rifkind dalam laman The Guardian menyarankan untuk melakukan introspeksi mendalam.
Tanyakan ke dirimu sendiri, apakah kebencian ini murni karena karakternya, atau karena apa?
"Mengapa kita merasa kesulitan? Apa mungkin kita takut mereka akan mengambil teman kita dari kita?” ujarnya.
Setelah memahami alasan di balik rasa tidak suka tersebut, berikutnya yang bisa dilakukan adalah menentukan kapan bisa menyampaikan unek-unekmu dan kapan harus memilih diam.
Meski maksudnya terdengar baik, penyampaian yang jujur tersebut berpotensi jadi bumerang. Bagaimana bisa begitu?
Jika alasanmu tidak menyukai pilihan temanmu hanyalah karena perbedaan kepribadian, misalnya mereka terlalu heboh, membosankan, atau tidak memiliki selera humor, maka sebaiknya tahan diri untuk tidak ikut menilai hubungan mereka.
Memberitahu teman bahwa pasangannya tidak sefrekuensi denganmu bisa membuatnya bersikap defensif, bahkan berpotensi merusak hubungan persahabatan kalian.
Meskipun kamu benar-benar tidak menyukainya, pada waktu sama kamu tidak berhak mengatur bahwa pasangan teman harus sesuai dengan standar ideal dari kamu.
Waktu Tepat untuk Membicarakannya
Namun, menurut VeryWell Mind, ada satu pengecualian besar, masalah keamanan dan perilaku toksik.
Perhatikan bagaimana temanmu diperlakukan. Jika melihat ada tanda-tanda kekerasan fisik, emosional, verbal, atau kamu mengetahui ada tanda-tanda pelecehan dan mengarah ke arah yang membahayakan, maka kamu wajib membicarakannya dengan temanmu.
Fokuskan pembicaraan pada rasa peduli dan menunjukkan kasih sayang kamu ke teman, bukan sekadar menyerang karakter pasangannya.
Siapkan diri ketika ada penolakan dari teman, karena orang yang sedang jatuh cinta cenderung sulit melihat dinamika toksik yang terjadi.
Bagaimana jika situasinya bukan tentang keamanan, tetapi murni ketidakcocokan karakter?
Dalam konteks ini, cobalah untuk memberikan kesempatan kedua melalui interaksi satu lawan satu.
Menghabiskan waktu berkualitas hanya berdua dengan circle ini tanpa kehadiran temanmu bisa membantu membangun empati dan pemahaman mengapa temanmu mencintai pilihannya tersebut.
Strategi Mengatur Pertemuan Empat Mata dengan Teman
Bagaimana jika setelah mencoba segala cara, kamu masih tetap merasa tidak nyaman di dekat partner pilihan temanmu?
Strategi praktisnya adalah mengatur pertemuan strategis yang bersifat satu lawan satu dengan temanmu.
Misalnya, ajak temanmu melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak disukai oleh pasangannya.
Kalau pasangannya tidak suka menonton film dokumenter atau naik gunung, jadikan itu sebagai agenda khusus kalian berdua. Dengan cara ini, kamu tetap bisa menjaga kedekatan tanpa harus merasa tertekan oleh kehadiran pasangannya.
Pertimbangkan untuk meluapkan kekesalanmu pada pihak ketiga yang netral, seperti terapis atau teman lain yang sama sekali tidak mengenal mereka, untuk sekadar melepas beban pikiran.
Terakhir, belajarlah untuk menerima kenyataan bahwa temanmu adalah manusia dewasa yang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Fokuslah pada niat untuk tetap mencintai temanmu meski kamu tidak mencintai pilihannya.
Seperti kata psikoterapis Kaylee Rose Friedman, sangat mungkin untuk mempertahankan persahabatan yang kuat meskipun kita tidak menyukai pasangannya.
"Diperlukan banyak kejujuran, batasan yang kuat, dan komunikasi yang sehat antara kamu dan temanmu untuk mengatasi situasi ini dengan baik," ucap Friedman dilansir VeryWell Mind.
Persahabatan sejati diuji bukan ketika semuanya berjalan mulus, melainkan saat kita harus belajar berlapang dada menerima "orang asing" yang kini menjadi bagian penting dalam hidup orang yang kita sayangi.
Simak juga artikel seputar pertemanan di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih