diajeng.id - Kamu sudah mengerahkan segala tenaga dan kemampuanmu, akan tetapi lagi-lagi dihadapkan dengan kegagalan. Berbagai percobaan dilakukan, tetap saja yang kamu idam-idamkan belum jua tercapai.
Meskipun gagal adalah pengalaman yang manusiawi, kita sering sulit untuk menerimanya.
Orang-orang suka bilang, masih ada kesempatan untuk mencoba lagi. Namun begitu, sebagian dari kita tidak punya “privilese” untuk mengulang kembali upaya yang sama, baik itu terkendala sisa waktu, batasan usia, atau sumber daya material yang kian menipis.
Faktanya, memang betul, ada faktor-faktor di luar kontrol kita yang berpengaruh besar terhadap kesuksesan dalam hidup, terutama terkait karier. Momentum atau timing adalah salah satunya.
Timing, Faktor di Luar Kontrol Kita
Dalam buku The Outliers (2008), Malcolm Gladwell memaparkan beberapa cerita kesuksesan dari bermacam-macam orang.
Dari sekian banyak penentu kesuksesan orang, waktu kelahiran ternyata punya pengaruh besar.
Gladwell menceritakan kisah Joe Flom, pengacara sukses dari New York. Flom, lahir pada 1930, adalah seorang keturunan keluarga Yahudi yang bermigrasi dari Eropa Timur.
Asal-usul keluarganya sebagai imigran miskin mungkin dianggap sebagai sebuah tantangan tersendiri bagi Flom dalam meraih kesuksesan, apalagi ia tumbuh dewasa seiring krisis ekonomi Depresi Besar (1929-39) melanda Paman Sam.
Kendati begitu, Gladwell menilai Flom justru diuntungkan dari asal-usul keluarganya. Pada dekade 1940-1950, berbagai firma hukum mencari karyawan baru yang bukan keturunan Yahudi.
Meski tren tersebut jadi mempersempit peluang kerja orang-orang keturunan Yahudi di bidang hukum, pada waktu sama mereka justru berkesempatan mengerucutkan peminatan atau spesialisasi hukum di bidang lain.
Pada masa itu, banyak pengacara Yahudi berkecimpung di penanganan kasus-kasus yang jarang diambil pengacara lainnya. Contohnya adalah kasus litigasi atau penyelesaian sengketa di pengadilan.
Kasus litigasi berbeda dari kasus legal yang berurusan dengan hukum di luar pengadilan, seperti konsultasi, penyusunan kontrak, dan negosiasi damai.
Pada tahun 1970, terjadi pergeseran sentimen korporasi di Amerika Serikat.
Berbagai perusahaan lantas menginginkan pengacara yang mampu menyelesaikan kasus litigasi. Nah, siapa yang punya pengalamannya? Tak lain adalah para pengacara Yahudi.
Flom menjadi salah satunya, kelak kariernya berkembang sampai ia menjadi pengacara terkemuka di New York.
Tahun kelahiran Flom turut mendukung kesuksesannya. Flom lahir di era Depresi Besar yang menyebabkan penurunan angka kelahiran di seluruh negeri. Semakin sedikit orang yang lahir, maka pesaingnya akan semakin sedikit pula.
Dibandingkan dengan generasi sebelum dan setelah Flom, generasi yang lahir di tahun 1930 memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih kesuksesan di tengah persaingan kerja. Hal ini juga mendasari alasan begitu banyaknya pengacara sukses di New York yang lahir di tahun 1930.
Merujuk ke cerita Joe Flom, terdapat faktor-faktor di luar diri kita yang membentuk kesuksesan. Tahun lahir, latar belakang sosial, dan terutama situasi ekonomi pada masa itu, turut andil dalam menentukan trayektori kehidupan.
Faktor Acak Penentu Kesuksesan?
Kita belum pula bicara tentang privilese yang berangkat dari kondisi sosioekonomi dan latar belakang keluarga. Anak dari oleh orang tua berkecukupan dan berpendidikan tentu berpeluang lebih besar untuk mengembangkan potensi terbaik dari dalam dirinya.
Selain itu, masih ada faktor geografis yang sangat politis: negara asal atau domisili.
Negara jelas punya andil dalam mendukung kesejahteraan penduduknya. Pemerintahan yang kompeten akan selalu berusaha keras untuk menjamin kesehatan, pendidikan, dan kelayakan hidup penduduknya.
Jangan lupakan juga faktor acak (kebetulan) dan faktor keberuntungan.
Faktor-faktor semacam itu cenderung acak, mungkin juga masih bisa beririsan dengan privilese tertentu, atau memang sepenuhnya berada di luar jangkauan kita.
Pada akhirnya, mustahil bagi kita untuk memilih bertemu siapa pada waktu apa, atau kapan, di mana, dan dari keluarga mana kita dilahirkan.
Pahit untuk diakui, tetapi begitulah hidup. Jika ada yang mengeluh hidup tidak adil, mungkin memang demikian adanya.
Namun begitu, mengakui dahsyatnya kekuatan timing, momentum, atau faktor keberuntungan seperti di atas tentu bukan alasan bagi kita untuk menolak bekerja keras atau terus-menerus meratapi kemalangan.
Kerja keras, ketekunan, grit, kedisiplinan, tetaplah wujud pertanggungjawaban kita terhadap diri sendiri.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih