diajeng.id - Apa temanmu pernah cemburu dengan hidupmu?
Waktu kamu bersantai, tiba-tiba saja teman yang kamu kenal baik selama ini menelepon atau mengirim teks untuk mengakui bahwa dirinya kurang suka atau cemburu dengan kebahagiaan yang kamu bagikan di media sosial.
Lalu, temanmu pun memutuskan untuk tidak mengikuti (unfollow/unfriend) akunmu di media sosial agar suasana hatinya bisa jadi lebih baik.
Atau, jangan-jangan, kamu adalah si teman itu, yang pernah unfriend orang-orang yang membuatmu merasa tidak nyaman saat mereka membagi kebahagiaannya di media sosial.
Dinamika pertemanan di era digital memang berpotensi menyudutkan kita pada situasi emosional yang serbacanggung ini.
Kebahagiaan teman yang banyak berseliweran di lini masa mulai dari kabar pernikahan, pencapaian karier, hingga liburan impian, tidak selalu memicu rasa gembira yang murni atau tulus. Tidak bisa dimungkiri, kadang-kadang ada rasa sesak dan cemburu yang menyelinap tanpa diundang.
Kemudian, timbullah pertanyaan penting, perlukah perkara "cemburu dengan teman" ini dibicarakan secara langsung dengan pihak yang bersangkutan?
Praktik Baik yang Mempererat Pertemanan
Jawabannya bisa jadi iya, perlu dilakukan.
Mengungkapkan kecemburuan secara terbuka bisa menjadi praktik yang sangat sehat dalam pertemanan. Hal ini dibuktikan oleh pengalaman Miriam Tinberg dan teman-temannya yang ditulis situs Refinery29.
Miriam mengisahkan bagaimana dia dan sahabatnya terbiasa membicarakan rasa iri satu sama lain secara jujur.
"Alih-alih memendam dan membiarkan rasa kesal menumpuk, kami akan langsung bilang, 'Jujur, aku merasa terganggu dengan apa yang kamu lakukan atau katakan,'" ujar Miriam.
Menurut psikiater Dr. Badeea Qureshi, perasaan cemburu atau iri adalah hal biasa yang wajar terjadi dalam hubungan dekat karena eratnya interaksi antarindividu.
"Karena di situlah kita bisa paling terbuka satu sama lain," ucap Qureshi.
Perasaan menyampaikan emosi secara langsung ini tidak akan otomatis merusak suatu hubungan. Dalam konteks ini, penyampaiannya dapat memperdalam relasi pertemanan.
Miriam juga menegaskan bahwa mengakui rasa cemburu bukan berarti membenci kehidupan teman atau berniat merusak kebahagiaan mereka.
Rehat Sejenak dan Unfollow Medsos
Namun, bagaimana jika situasi emosional kamu belum memungkinkan untuk berdiskusi secara terbuka?
Memutuskan untuk rehat sejenak dari pertemanan yang memicu rasa cemburu, termasuk melakukan unfriend atau unfollow di media sosial, juga merupakan keputusan yang sangat masuk akal.
Kisah Alexandra Jones "I unfollowed all my coupled-up friends and feel better than ever" yang dipublikasikan oleh BBC menjadi gambaran nyata mengenai hal ini.
Setelah mengalami patah hati yang terjalin selama sepuluh tahun, Alexandra merasa sangat terluka setiap kali melihat unggahan romantis teman-temannya yang sedang dimabuk asmara.
Alexandra pun mengambil langkah drastis dengan menghapus puluhan akun teman dan kerabat dari media sosialnya yang menurutnya suka pamer kemesraan di medsos.
Langkah ini didukung oleh pandangan psikolog hubungan Madeleine Mason, yang menjelaskan bahwa membandingkan diri dengan orang lain adalah realitas yang manusiawi.
Namun, apabila kamu terus-menerus terpapar dengan konten kebahagiaan orang lain di saat dirimu sedang dalam kondisi sedih, terpuruk, dan merasakan kecemasan, kondisi tersebut dapat pula membuatmu burnout (kelelahan mental yang parah).
Dengan rehat dan membatasi paparan lini masa, Alexandra merasa beban pikirannya berkurang secara signifikan.
Mengambil jarak memberinya ruang mental untuk menata ulang fokus hidup, menjajaki minat baru, hingga akhirnya mampu merasa bahagia secara tulus saat kembali terhubung dengan teman-temannya.
Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Rasa Cemburu Itu Muncul?
Kalau sekarang kamu adalah pihak yang sedang bergelut dengan rasa cemburu terhadap temanmu sendiri, ada beberapa langkah berharga yang disarankan Sumitha Bhandarkar melalui situs TinyBuddha berikut ini.
Hal pertama yang perlu diterapkan adalah dengan menerima emosi tersebut tanpa menghakimi diri sendiri.
Sadari bahwa cemburu adalah emosi alamiah dan manusiawi yang spontan. Kalau kamu berusaha menekan atau memaksakan diri untuk "harus bahagia", emosi negatif berisiko jadi semakin kuat.
Selain itu, pertimbangkan untuk kembali menata fokus pada pertumbuhan dirimu sendiri. Alih-alih terlarut terlalu lama dalam rasa iri atau menyesali keadaan, ada baiknya alihkan energimu untuk mengatasi sumber masalah tersebut dan merawat impianmu sendiri.
Baik memilih untuk berdiskusi secara terbuka seperti Miriam maupun mengambil jeda seperti Alexandra, tidak ada yang paling benar atau salah. Yang terpenting, kamu tahu apa yang terbaik buatmu dan bersedia mengelola emosi agar tidak merusak pertemanan maupun kedamaian jiwamu.
Artikel lainnya seputar relasi pertemanan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih