Menuju konten utama

Tren Kencan Shrekking: Fenomena Menurunkan Standar Pasangan

Sengaja menurunkan standar penampilan pada pasangan bisa jadi trik untuk mengamankan kendali atau posisi unggul dalam relasi sehingga merasa "lebih hebat".

Tren Kencan Shrekking: Fenomena Menurunkan Standar Pasangan
Header diajeng Shrekking. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Semakin banyak bermunculan istilah dalam hubungan atau dunia kencan modern di kalangan Gen Z. Setelah ghosting, dry-texting, love bombing, kita juga dengar istilah "shrekking".

Cukup viral disebut dalam konten-konten TikTok dan Instagram, istilah ini merujuk pada karakter Ogre berwarna hijau dalam film animasi DreamWorks, Shrek.

Tren shrekking menggambarkan perilaku kencan yang sekilas bisa dimaklumi dan realistis, tetapi pada waktu sama menyimpan motivasi terselubung berupa manipulasi dan mekanisme pertahanan diri yang tidak sehat.

Apa Itu "Shrekking" dan "Getting Shrekked"?

Secara sederhana, shrekking adalah strategi sengaja mengencani orang yang berada di bawah standar yang sudah kita tetapkan, termasuk standar fisik.

Alasan utama di balik perilaku ini bukanlah ketertarikan emosional yang tulus, melainkan harapan bahwa pasangan yang dianggap "kurang menarik" tersebut akan merasa sangat beruntung telah mendapatkan kita sehingga mereka akan memperlakukan kita dengan jauh lebih baik, serta tidak akan berani menyakiti atau meninggalkan kita.

Dengan kata lain, pelaku shrekking sengaja menurunkan standar penampilan pada pasangannya demi mengamankan kendali atau posisi unggul (upper hand) dalam hubungan sehingga dapat merasa "lebih hebat" dari pasangannya

Namun, strategi pertahanan diri ini sering kali berbalik menjadi bumerang dalam fenomena yang disebut "getting Shrekked".

"Getting shrekked" artinya kita telah sengaja "menurunkan standar" dan merasa berada di atas angin, akan tetapi pada waktu sama kita tetap disakiti, diselingkuhi, dimanfaatkan, atau bahkan dicampakkan oleh pasangan yang awalnya kita anggap "di bawah standar" tersebut.

Mengapa Tren Ini Bisa Disebut Toksik?

Pakar hubungan dan psikologi Amy Chan seperti dinukil VICE menegaskan bahwa relasi yang dibangun di atas prinsip shrekking sangat tidak sehat dan toksik.

Menurut Chan, ketika kita ingin memulai hubungan, jangan pernah berpikir bahwa orang yang kita ajak kencan akan memperlakukan kita dengan baik hanya karena menganggap kita berpenampilan lebih baik atau memiliki materi lebih banyak darinya. Dampaknya bisa berujung pada kegagalan hubungan.

“Ketertarikan fisik memang penting dalam hubungan romantis, akan tetapi hal itu tidak seharusnya dianggap sebagai penentu perlakuan baik, atau sebaliknya, seperti yang sering diasumsikan sebagian orang," kata Chan.

Selain itu, terdapat juga beberapa alasan mendasar mengapa hubungan ini sangat berbahaya.

1. Memandang Hubungan Berdasarkan Hierarki Dangkal

Shrekking mengasumsikan adanya sistem kasta atau "nilai pasar" kencan yang objektif berdasarkan penampilan fisik, usia, atau status.

Menurut Psychology Today, menempatkan diri sendiri sebagai "orang terhormat" dan menganggap pasangan "inferior" adalah tindakan yang mengabaikan nuansa ketertarikan dan merendahkan martabat orang lain.

2. Berakar dari Rasa Takut dan Penghindaran

Melakukan shrekking bukanlah bentuk kedewasaan, melainkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang berakar dari rasa takut akan penolakan dan rasa sakit hati.

Hubungan yang dimulai dari rasa takut dan keinginan menghindar tidak akan pernah menumbuhkan perhatian dan kasih sayang yang tulus.

3. Menciptakan Dinamika Kuasa yang Tidak Seimbang

Pelaku shrekking tidak mencari mitra yang sama dengan dirinya, tapi sengaja memilih orang yang menurutnya "bisa dikontrol".

Seiring berjalannya waktu, rasa tidak hormat atau sikap meremehkan dari pelaku akan sulit disembunyikan, sementara pasangan yang merasa diremehkan akan menumbuhkan rasa benci dan kekecewaan mendalam.

4. Kekeliruan Logika Hubungan antara Penampilan dan Perlakuan

Penampilan fisik yang biasa saja bukanlah jaminan bahwa seseorang memiliki karakter yang baik atau bisa mengontrol emosional dengan rapi.

Menganggap bahwa orang yang kurang atraktif secara otomatis akan memperlakukan pasangan dengan lebih mulia adalah sebuah asumsi yang keliru.

Menghargai Diri Sendiri: Mencari Partner yang Setara dan Sehat

Sisi kelam dari praktik shrekking menunjukkan bahwa hubungan asmara yang bahagia tidak pernah bisa dibangun di atas kalkulasi ego atau dominasi hierarkis.

Alih-alih sibuk mencari cara untuk memegang kendali atas orang lain demi menghindari luka, langkah terbaik adalah kembali menghargai diri sendiri (self-respect).

Melansir artikel dari Cosmopolitan, menghargai diri sendiri berarti memiliki keberanian untuk berterus terang tentang apa yang kita butuhkan tanpa merendahkan orang lain.

Carilah partner yang setara, bukan dalam arti nilai fisik yang kaku, melainkan setara dalam komitmen, kedewasaan emosional, dan rasa saling menghormati.

Pilihlah pasangan yang bisa diajak bernegosiasi secara sehat, mendengarkan batasan diri, merayakan pencapaian kita, dan hadir secara emosional.

Kunci utama hubungan yang langgeng terletak pada kesesuaian karakter dan nilai hidup, alih-alih permainan taktik kencan.

Ketika kita berhenti memperlakukan kencan sebagai arena kekuasaan dan mulai berfokus pada hubungan yang saling menghargai, kita tidak perlu lagi mengorbankan standar diri atau takut "terlukai" oleh strategi kencan yang semu.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih